Bab 24: Kejadian Terulang Kembali!
Barcelona, Spanyol.
Di ruang media pusat pelatihan tim, Bartomeu sedang duduk bersama sekumpulan wartawan. Mengenakan setelan jas rapi di depan kamera, ia tampak tenang dan berwibawa. "Li yang mencetak gol penentu kemenangan di laga sebelumnya? Dia telah bergabung dengan Madrid sebelum bursa transfer ditutup."
"Sangat jelas bahwa sang pemain tidak menyetujui filosofi perkembangan klub kami, dan melakukan tindakan pengkhianatan terhadap klub."
Ketika seorang wartawan menyinggung soal Figo, Bartomeu mencibir, "Dampaknya tidak seburuk kejadian itu, tetapi memang ada kerugian bagi tim."
"Barcelona telah mencurahkan banyak sumber daya untuknya dan sangat peduli dengan pertumbuhannya. Kami telah melakukan segala upaya untuk menciptakan lingkungan pelatihan yang lebih baik dan nyaman baginya."
Setelah berbicara dengan nada berapi-api, ia memasang ekspresi penyesalan dan kesedihan. "Namun, semua itu tidak menggerakkannya. Ia memilih musuh bebuyutan kami."
"Ada kabar sebelumnya bahwa ia sempat berselisih dengan kapten tim, Messi. Apakah ini ada kaitannya dengan kepergiannya?" tanya seorang wartawan dengan dahi berkerut.
"Tidak ada kaitannya. Segalanya sudah dijelaskan dengan sangat jelas dalam konferensi pers sebelumnya bahwa keduanya sudah berdamai." Bartomeu melirik wartawan itu dan bertanya dengan nada mengejek, "Apakah kalian pikir Messi yang mengusirnya, atau kami yang mengusirnya?"
"Bukan begitu maksud saya," jawab wartawan itu buru-buru.
Bartomeu menoleh ke arah kamera dan memberikan kesimpulan penutup, "Saya rasa kalian semua tahu bagaimana kepribadian Messi, dan kalian juga mengerti dedikasi serta kecintaan saya pada tim selama bertahun-tahun menjabat sebagai wakil presiden."
"Saya tidak ingin membahas masalah ini lagi. Biarkan para penggemar yang mendiskusikannya. Saya masih ada urusan lain."
Topik ini sebenarnya bukanlah agenda utama konferensi pers, melainkan muncul secara spontan dari pertanyaan wartawan. Karena ada yang memancing, Bartomeu pun terpancing untuk membalas dendam terhadap Li Kairui. Lagipula, kegagalan dalam transaksi yang seharusnya bisa menghasilkan uang cuma-cuma itu masih membuatnya kesal. Jangan mengira para presiden klub kaya ini memiliki hati yang seluas samudra; terkadang, mereka justru jauh lebih pendendam.
Setelah para wartawan pergi, Bartomeu mulai mengeluarkan ponselnya, menunggu reaksi para penggemar atas pernyataannya. Provokasi emosi sudah dilakukan, sekarang tinggal menunggu bagaimana para penggemar merundung Li Kairui di dunia maya dan melihat apakah masalah ini akan menjadi besar.
"Apakah anak itu pergi ke Castilla atau tim utama?"
Bartomeu yang tiba-tiba merasa penasaran mencari di situs olahraga, lalu melihat berita bahwa Li Kairui bergabung dengan Crystal Palace dengan status pinjaman. Ia menghitung linimasa dan bergumam kebingungan, "Bagaimana bisa secepat itu? Bagaimana dia bisa sempat?"
Ia kemudian melihat bahwa Crystal Palace sedang bertanding. Ia membuka daftar pemain dan melihat nama Li Kairui di urutan paling bawah. Yang membuatnya jantungnya seolah berhenti berdetak adalah simbol '65min' di samping nama Li Kairui, yang berarti ia masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-65.
Firasat buruk menyelimuti Bartomeu. Ia segera membuka platform siaran langsung Liga Inggris dan menemukan pertandingan Crystal Palace. Kali ini, ia melihat informasi yang lebih lengkap dan krusial: "67min - Kairui. Li!"
Mencetak gol?!
Ia ternganga, otaknya kosong, lalu tanpa sadar ia menekan layar siaran pertandingan. Waktu sudah menunjukkan menit ke-89, dan Bournemouth yang tertinggal sedang berjuang keras melakukan serangan balik.
"Bum!"
Sebuah umpan lambung dikirim ke kotak penalti Crystal Palace, namun langsung disapu oleh bek tengah Dann dengan sundulannya. Puncheon, yang kembali ke area tengah untuk bertahan, berada di posisi jatuhnya bola kedua. Demi keamanan, ia tidak menghentikan bola, melainkan langsung mengirimnya ke area pertahanan Bournemouth.
Kamera siaran segera bergerak ke arah pertahanan Bournemouth. Saat kamera menangkap seluruh area tersebut, orang-orang menyadari bahwa area itu kosong melompong! Hanya ada satu bek Bournemouth yang mengejar dengan putus asa, sementara di sampingnya, dua pemain Crystal Palace sedang mengejar bola.
Pemain veteran Adebayor dan Li Kairui, yang baru saja masuk ke lapangan, kini menjadi seperti macan tutul yang sedang memburu mangsanya. Mereka berlari kencang dari sisi kiri dan kanan! Bournemouth telah mengerahkan terlalu banyak pemain dalam serangan terakhir mereka dan kehabisan stamina. Sekarang, mereka tidak bisa kembali tepat waktu!
"Kejar! Di mana yang lain?!" Bartomeu sudah membayangkan kemungkinan terburuk dan menelan ludah dengan gelisah.
...
London, Stadion Selhurst Park.
Bola jatuh di area pertahanan Bournemouth. Bek tengah utama mereka, Cook, berusaha keras berlari menuju titik jatuhnya bola. Sayangnya, Li Kairui dan Adebayor sudah selangkah lebih maju darinya dan akan segera menguasai bola. Dua lawan satu, dalam situasi dengan ruang kosong yang begitu luas. Jika mereka berhasil menguasai bola, konsekuensinya tak terbayangkan, dan harapan terakhir Bournemouth untuk meraih poin akan padam.
"Hosh... hosh..." Li Kairui mengatur napas, mengayunkan lengan dan melangkah dengan sekuat tenaga agar bisa berlari lebih cepat. Kesempatan emas ada di depannya, bagaimana mungkin ia menyia-nyiakannya!
"Aku bisa mendapatkan bola, melebarlah!" teriak veteran berpengalaman Adebayor. Li Kairui segera melebar ke sisi lain. Detik berikutnya, Adebayor berhasil menerima bola dan menggiringnya satu langkah ke depan.
Cook segera merapat ke sampingnya, bersiap untuk melakukan tekel guna menjatuhkan baik pemain maupun bolanya.
"Bum!"
Setelah memastikan Li Kairui tidak dalam posisi offside, Adebayor segera mendorong bola ke arah Li Kairui, lalu melompat dengan lincah untuk menghindari tekel Cook. "Kotor sekali kau!" serunya sambil menoleh ke arah Cook, lalu beralih menatap punggung Li Kairui.
Li Kairui sudah berhadapan satu lawan satu dengan kiper lawan, Boruc, yang terpaksa keluar dari sarangnya untuk mempersempit ruang tembak!
"Cetak gol itu!" Adebayor terus berlari di belakang Li Kairui, sangat berharap timnya bisa mengunci kemenangan.
Di bawah tatapan semua orang, Li Kairui membawa bola, mendekati kotak penalti langkah demi langkah, dan berhadapan langsung dengan kiper Boruc. Li Kairui, yang tadinya mengira akan banyak berpikir, kini justru merasa tenang. Di benaknya hanya ada satu pikiran: gunakan teknik tendangan keras yang paling ia kuasai untuk menaklukkan situasi satu lawan satu ini!
Melambungkan bola melewati kiper? Itu berisiko. Lebih baik langsung menendang dengan keras!
"Bum!!"
Melihat celah di sisi kanan Boruc, ia mengayunkan lengan kiri, menekan bola dengan punggung kaki kanannya, dan melepaskan tembakan. Serpihan rumput beterbangan di sekitar bola yang meluncur menyusuri tanah ke sisi kiri Boruc. Sang kiper segera menjatuhkan diri untuk memblokir tembakan, namun ia terlambat sedetik.
"Sret!" Bola menghujam sudut kanan bawah gawang tanpa keraguan sedikit pun!
Gol lagi! Memanfaatkan celah di pertahanan Bournemouth saat mereka habis-habisan menyerang, assist Adebayor sukses diselesaikan oleh Li Kairui. Itu adalah gol keduanya dalam pertandingan tersebut! *Brace*! Empat lawan dua!
"Yeah...!!!" Stadion Selhurst Park kembali tenggelam dalam kegilaan. Para penggemar saling berpelukan, merayakan perolehan tiga poin. Sebagai penggemar tim yang berjuang menghindari degradasi, mereka sangat menghargai setiap poin yang didapat!
"Bocah Tiongkok, aku mengingatmu!"
"Debut langsung mencetak dua gol, penampilan yang sungguh memukau!"
"Produk Real Madrid memang berkualitas!"
"Bagaimana kalian tahu begitu banyak informasi tentangnya? Kenapa aku tidak tahu apa-apa?"
"Aku mencarinya setelah dia mencetak gol pertama."
"Lihat! Lihat! Tuan Alan Pardew sedang menari!"
Saat para penggemar berseru dengan penuh semangat, seseorang berteriak sambil menunjuk ke arah bangku cadangan pelatih. Banyak orang menoleh ke sana dan melihat Alan Pardew menghadap tribun timur, kedua tangannya saling memilin, dan tubuhnya mulai bergoyang! Tarian robot yang magis dimulai!