Bab Seratus Empat Puluh Enam: Pertarungan Besar Melawan Li Cunfeng
Ji Yinyue hendak mengeluarkan kekuatan tempur tertingginya, sementara lawannya berdiri dengan tenang, bagaikan seorang pria sejati berwajah bak bunga anggrek dengan pembawaan luar biasa. Jubah hijau di tubuhnya berkibar tertiup angin, sementara lambang-lambang kuno bergelombang hebat di sekeliling tubuhnya.
Begitu matanya terbuka, kilatan cahaya bagaikan pedang tajam melesat menembus angkasa. Dengan sebuah entakan kaki, batu karang raksasa di bawahnya hancur berkeping-keping, dan seluruh gunung pun ikut runtuh bersamanya.
Pria itu memegang sebuat tanduk di tangannya, bentuknya menyerupai tanduk rusa, lalu melepaskan serangan terkuatnya. Wang Chang'an memperhatikan dengan cermat; tanduk itu memancarkan cahaya dan memiliki aura naga yang sejati.
"Bukankah itu tanduk naga sejati? Jika digunakan untuk menyerang, itu pasti sangat luar biasa," ucap Dewi Gu, sementara Wang Chang'an juga merasakan kekuatan yang tidak biasa.
Ji Yinyue memegang Haluan Dewa Trisula dan melesat maju. Miliaran lambang kuno menyambut serangan puncak sang lawan, tetapi dalam sekejap, Ji Yinyue berhasil dihantam jatuh ke bawah.
Tanduk itu memiliki keunikan hukum alam tersendiri, disertai dengan aura naga terkuat. Kekerasannya bagai logam dewa, berhasil mendesak Ji Yinyue hingga terhempas ke bumi.
Tanduk naga itu diayunkan, seketika membelah gunung besar. Pria itu mendekat sambil menggenggam tanduk tersebut, membuat ribuan batu gunung hancur berkeping-keping dalam sekejap. Ji Yinyue mengayunkan tombak besarnya untuk menyerang balik, berbenturan dengan pria tersebut hingga dentuman senjatanya menggetarkan seluruh pegunungan.
"Sangat mungkin itu adalah sisa jasad seekor naga muda. Meskipun belum sepenuhnya dewasa, tanduk naga ini benar-benar mengerikan."
Ji Yinyue masih bertarung sengit. Di belakang punggungnya muncul jutaan cahaya dewa yang menyerupai ratusan ribu bilah pedang, menyerang tanpa henti. Lambang-lambang kuno berkilau cemerlang, digunakan untuk melepaskan serangan pamungkas.
Pria itu menarik kekuatan langit dan gugusan bintang, menggunakan cahaya bintang tanpa batas untuk menempa tubuh astralnya. Setiap gerakan dan tindakannya memiliki bobot seperti bintang, menyerang Ji Yinyue dengan darah dan qi yang mendominasi.
Daratan terus hancur berkeping-keping akibat pertarungan sengit keduanya. Bebatuan di sekitar beterbangan hancur, meratakan gunung demi gunung dengan kekuatan yang tak terhentikan.
Keduanya telah bertukar ribuan jurus, namun tak satupun dari mereka mampu mengalahkan yang lain. Pada akhirnya, kedua orang itu terengah-engah; pertarungan brutal semacam itu menguras tenaga yang sangat besar.
Ji Yinyue berlumuran darah, namun aura buasnya tidak sedikit pun surut, begitu pula dengan lawannya.
"Terlalu banyak orang di sini, kita bertarung lagi lain kali," ucap sang pria, mengakhiri pertempuran untuk sementara.
"Baik," setuju Ji Yinyue. Jika mereka terus bertarung, ia khawatir seseorang akan memanfaatkan situasi untuk menyerang mereka berdua, mengingat harta karun yang mereka miliki tidak sedikit jumlahnya.
"Mmembosankan."
Wang Chang'an bersuara. Pertarungan itu sedang mencapai puncaknya dan berlangsung sangat seru, tetapi justru berhenti begitu saja.
"Kedua orang itu benar-benar tokoh unggulan nomor satu," ucap Li Qingyu dengan nada penuh makna terselubung. Wang Chang'an melirik sekilas; *datang lagi, orang ini benar-benar minta dihajar.*
"Tidak seperti orang-orang tertentu yang hanya bisa membual. Sang Dewi harus melihatnya dengan jelas."
*Sial, yang benar saja, hal seperti ini pun masih bisa ditoleransi.*
Wang Chang'an langsung bergerak. Sosoknya bagaikan harimau yang turun dari gunung, tangannya mencengkeram tangan Li Qingyu. Dengan tubuh fisiknya yang tangguh, ia mengangkat dan membanting pria itu ke tanah.
Bum!
Li Qingyu dilempar ke tanah oleh Wang Chang'an, lalu ditarik kembali dan dibanting sekali lagi. Wang Chang'an benar-benar terbawa emosi dan menghantamkan tubuh Li Qingyu berulang kali ke tanah.
Uhuk!
Li Qingyu memuntahkan darah akibat hantaman tersebut. Ia mencoba melepaskan diri, namun kekuatan Wang Chang'an terlampau buas; satu tangannya bagaikan tang besi yang mencengkeramnya tanpa ampun.
Orang-orang di sekitar menyaksikan Wang Chang'an dengan syok. Pengaruh keluarga Li sangat besar, namun Wang Chang'an tetap berani bertindak dan menghajar Li Qingyu hingga tulang-tulangnya patah.
Wang Chang'an menginjaknya ke tanah dengan satu kaki, lalu berkata dengan suara lantang, "Sejak kapan aku, Yin Wudao, membutuhkanmu untuk ikut campur dan mengaturku?"
Bugh! Li Qingyu kembali memuntahkan darah. Wang Chang'an terlampau kuat.
Gu Qingyi pun tidak menyangka Wang Chang'an akan bertindak secepat itu hingga tidak memberinya kesempatan untuk menyelamatkan pemuda tersebut.
Namun, biarlah; orang itu mirip seperti lalat yang mengganggu, setidaknya sekarang telinganya bisa terbebas dari kebisingan.
"Sial, aku sudah menduga kalau Li Qingyu itu sedang mencari mati karena berani menantang orang garang itu."
"Tapi jujur saja, Yin Wudao itu memang sangat kuat. Saat ia menyerang, Li Qingyu bahkan tidak sempat melakukan perlawanan."
"Betul, benar-benar memalukan."
...
"Saudara Yin, kurasa hentikan saja. Jika kau benar-benar membunuhnya, itu akan mendatangkan masalah besar," ucap Dewi Gu, sementara Wang Chang'an juga merasa malas untuk membunuh.
"Kau—"
"Serahkan itu padanya." Wang Chang'an merampas kantong harta karun milik Li Qingyu dalam sekali renggut, lalu menepuknya hingga pingsan.
Orang-orang di kejauhan yang melihat adegan itu langsung tahu: ini adalah gaya yang familier, aroma yang familier. Keparat bernama Yin Wudao ini memang seorang perampok sejati.
Baru saja Wang Chang'an merampas kantong harta karun Li Qingyu, ia tiba-tiba merasakan krisis yang luar biasa besar. *Bum!* Hutan lebat di hadapan Wang Chang'an hancur lebur diledakkan, dan sesosok bayangan perlahan melangkah maju.
"Kembalikan barangnya ke tempat semula."
Pendatang baru itu mengenakan baju besi kuno, bertubuh langsing, dengan wajah tegas bagaikan dipahat pisau. Alisnya yang tebal dan hitam menunjukkan vitalitas yang melimpah. Di setiap langkah kakinya, tanah bergetar mengeluarkan bunyi dentuman yang kuat.
Setiap kali ia melangkah maju, auranya meningkat satu tingkat. Darah dan qi-nya bergemuruh bagaikan guntur, dan seluruh pakaian tempurnya memancarkan cahaya terhebat. Lambang-lambang kuno menyelimuti sekujur tubuhnya, memancarkan pijaran cahaya ketuhanan yang membara.
*Bum!* Saat ia mengambil satu langkah lagi, banyak orang di kejauhan terpaksa mundur akibat guncangan, bahkan merasakan tekanan yang luar biasa besar.
"Itu adalah Langkah Menginjak Surga Naga Gajah, salah satu teknik kuno peninggalan masa lalu! Dia telah datang, tokoh nomor satu dari keluarga Li, Li Cunfeng!"
"Sangat kuat! Hanya dengan satu dentuman saja sudah membuat darah di dada bergolak terbalik."
"Si garang itu berada dalam bahaya. Li Cunfeng ini benar-benar sangat mengerikan."
Li Cunfeng melangkah maju dengan langkah lebar. *Bum!* Jiwa dan raga bergetar. Wang Chang'an merasakan niat bertarung yang tak terkalahkan itu, sementara Ji Yinyue di sisi lain turut mengarahkan pandangannya ke sana.
Wang Chang'an tampak tenang. Aura darah lawannya begitu panas, seolah-olah hendak membakar segalanya. Seekor naga gajah raksasa muncul, dan dalam satu injakan, bumi bergemetar dan gunung-gunung berguncang.
Wang Chang'an menyimpan kantong harta karun itu dan tersenyum tipis. Ini adalah kesempatan bagus untuk menguji seberapa kuat dirinya sekarang.
"Sebaiknya Sang Dewi pergi saja, agar tidak terkena imbasnya."
"Li Cunfeng adalah tokoh tak tertandingi dari keluarga Li, Saudara Yin harus berhati-hati."
"Tidak apa-apa, aku hanya akan menundukkannya."
"Sombong sekali! Yin Wudao ini benar-benar angkuh tiada tara. Kedatangan Li Cunfeng pun tidak membuatnya merasa takut sedikit pun."
Usai berkata demikian, sekujur tubuh Wang Chang'an diselimuti oleh petir yang menyambar-nyambar. Karena mereka hendak bertarung, ia akan menggunakan kekuatan tempur mutlak untuk melibas Li Cunfeng.
"Li Cunfeng, ingatlah, orang yang mengalahkanmu bernama Yin Wudao!"
Begitu Wang Chang'an selesai berbicara, sosoknya berkelebat. Petir tak berbatas berubah menjadi kepalan tinju yang tak tertandingi. Tinju Gurun Kecil dikembangkan oleh Wang Chang'an hingga mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi; sekali tinju dilepaskan, langit dan bumi berubah menjadi gurun tandus.
Lautan darah berbalik mengalir, lautan mayat bertumpuk-tumpuk. Dalam sekejap tinju itu dilayangkan, aura Wang Chang'an berubah, seolah-olah dalam sepersekian detik ia telah jatuh ke dalam jurang neraka.
"Mencari mati!"
Li Cunfeng diselimuti cahaya keemasan dan melancarkan teknik pembunuhan terkuatnya. Seketika itu pula, naga gajah mengguncang langit, tubuh dan darahnya mengamuk bagaikan makhluk buas purba. *Bum!* Bayangan naga gajah terdorong mundur, sementara Wang Chang'an memberondongkan petir yang tak terhitung jumlahnya untuk menyerang.
Cahaya petir bagaikan pilar raksasa yang mengguncang pegunungan. Satu kaki naga gajah menginjak turun, seolah-olah hendak menekan langit dan bumi untuk selamanya. Keduanya saling berbenturan, lambang-lambang kuno meledak, dan energi spiritual mengaduk angin serta awan.
"Teknik Mengangkat Lautan Naga Gajah!"
Li Cunfeng sama sekali tidak gentar, bahkan ketika tubuh Wang Chang'an sekuat naga barbar dan energi darahnya yang mengerikan tak terkalahkan. Satu injakan dari naga gajah meratakan daratan. Wang Chang'an menggunakan teknik petir untuk mendorong kekuatannya, menyalurkan kekuatan guntur yang menghubungkan langit dan bumi.
*Duar!* Tekad yang tak terkalahkan saling berbenturan. Wang Chang'an mengeluarkan bentakan keras, cahaya jiwa yang tak berbatas melesat menghancurkan musuh. Belalai naga gajah melingkar, dan bayangan naga gajah terpancar keluar dari tubuh Li Cunfeng.
Di tengah lambang-lambang kuno yang berkedip-kedip, yang satu tampak seperti naga gajah yang mengangkat langit dan memuntahkan matahari, sementara yang lain bagaikan naga sejati yang bangkit dari dasar jurang. Titik-titik lambang kuno mendorong aura kedua orang itu hingga mencapai batas maksimal.
"Tinju Naga Gajah!"
Sebuah kepalan tinju memadatkan kekuatan naga gajah. Li Cunfeng mengerahkan gelombang qi dan darah yang menderu, jejak tinjunya merobek langit kosong, membawa hantaman lambang kuno bagaikan banjir bah.
"Tinju Petir!"
Wang Chang'an menjelma menjadi petir, membiarkan Tinju Naga Gajah merobek jalurnya, sementara sebuah kepalan tinju disiapkan dari telapak tangannya. Seketika itu pula, Tinju Petir meledak menghancurkan langit dan bumi.
Wang Chang'an melancarkan serangan; satu pukulan menghancurkan gunung dan menggetarkan bumi. Saat sosoknya melesat maju, tekad tak terkikannya melangkah lurus tanpa pernah mundur.
Naga gajah menginjak bumi, tekanan maha dahsyat menekan ke arah Wang Chang'an. Namun, niat membunuh yang tak terbatas merobek aura naga gajah tersebut. Wang Chang'an bergerak bagaikan dewa perang petir, dengan cetakan telapak tangan yang memunculkan makhluk buas petir, Suanni.
Suanni menerjang dan menghancurkan musuh, lambang-lambang kuno yang tak terhitung jumlahnya mendesak Li Cunfeng mundur. Tangan Wang Chang'an bagaikan pisau dewa yang menebas dan membelah gunung besar.
Cahaya dewa naga gajah berubah menjadi kaki raksasa langit dan bumi yang menginjak turun dalam satu gerakan. Namun, aura Wang Chang'an melesat membubung bagaikan pelangi, tombak dewa yang tak terkalahkan menusuk tembus bayangan naga gajah bagaikan lembing surgawi.
Wang Chang'an memegang tombak dewa, mengayunkan energi spiritual yang tak terukur, menghancurkan area pegunungan sejauh beberapa mil hanya dengan satu serangan, lalu menusuk lurus ke depan untuk menembus bayangan naga gajah.
Di sekitar Li Cunfeng, lambang kuno yang masif bergelombang. Ia tampak bagaikan Buddha sejati di dunia fana yang datang dari dalam kekacauan, melancarkan telapak tangan yang menutupi matahari dan bulan.
Tombak Wang Chang'an melesat bagaikan naga, bersuara nyaring. Tombak dewa itu berdengung, dan petir tanpa batas memusnahkan telapak tangan dewa tersebut.
Li Cunfeng menggunakan cahaya sejati naga gajah, membuat naga gajah purba seolah-olah hidup kembali di hadapannya. Makhluk raksasa semacam itu memberikan tekanan fatal pada kehidupan yang lemah, namun di belakang punggung Wang Chang'an justru muncul monster petir Suanni.
Kedua makhluk buas itu saling berbenturan, cipratan cahaya bagaikan hujan yang tumpah ruah, menggetarkan langit dan bumi. Di dalam tubuh Wang Chang'an, naga sejati memancarkan cahaya menyilaukan, lambang-lambang kuno berputar bagaikan lautan, digunakan untuk melancarkan Teknik Pisau Petir Pemusnah Dunia.
Wang Chang'an mengayunkan tombaknya ke bawah, wilayah jalur pedang yang tak berbatas membelah sungai dan pegunungan, sementara cahaya petir menenggelamkan daratan.
Di sisi Li Cunfeng, hukum gajah emas terbentang. Naga gajah yang megah menangkis serangan mengerikan Wang Chang'an, lalu melancarkan jurus rahasia pembunuh naga gajah.
"Bunuh!"
Begitu Li Cunfeng melancarkan jurus tersebut, teknik rahasia yang utuh muncul kembali di tangannya. Langit dan bumi bergemuruh, cahaya hukum alam menyelamatkan dunia, membuatnya tampak begitu suci dan luar biasa. Benang-benang cahaya lambang kuno terbakar, mendongkrak aura Li Cunfeng ke tingkat yang lebih tinggi.
"Hmph, Teknik Rahasia Suanni!"
Di tanah di belakang punggung Wang Chang'an, sambaran petir yang tak terhitung jumlahnya terpancing keluar dari bawah tanah. Tinju Wang Chang'an memancarkan cahaya putih menyilaukan dari petir. Keduanya saling berbenturan, dua teknik rahasia saling menghantam dengan dahsyat.
Wang Chang'an meraung bagaikan makhluk buas, memanggil petir dari segala penjuru. Belalai naga gajah berayun menyamping dengan limpahan cahaya keemasan. Benturan antara cahaya petir dan cahaya keemasan terjadi secara langsung, dan dalam puluhan pertukaran jurus, kekuatan darah dan qi mereka mengguncang langit dan bumi.
Wang Chang'an mengerahkan teknik Pasir Mengalir Waktu. Seketika itu pula, sosok Li Cunfeng terkena imbasnya. Memanfaatkan celah tersebut, Wang Chang'an melepaskan teknik pembunuhan terkuatnya, menghantam Li Cunfeng bagaikan sambaran petir dan menjatuhkannya hingga tubuhnya menghantam bumi, menghancurkan bebatuan gunung yang tak terhitung jumlahnya.
Wang Chang'an melayang turun dari udara, lalu memanggil petir dari langit dan bumi untuk membombardir tempat tersebut.