Tamu Asing ke-55
Bai Ke merasa bahwa serangkaian kejadian yang terjadi belakangan ini terasa ganjil, namun ia sendiri tidak bisa memastikan sejak kapan semuanya bermula. Saat hidupnya nyaris berada di ujung tanduk, kilasan kata-kata orang lain yang pernah ia dengar melintas di benaknya, dan ia menyadari ada dua hal yang tidak wajar.
Pertama, saat mereka semua mengaku merasa mengantuk, Jun Xiao tiba-tiba berhenti dan bertanya pada Yu Xian, “Kau sendiri?” Dalam ingatan Bai Ke, Jun Xiao tak pernah berbicara langsung pada Yu Xian seperti itu. Biasanya, ia memanggil ‘Guru Agung’ atau ‘Guru Agung Si Ikan Asin’. Walaupun Yu Xian kadang menceritakan masa lalu betapa bandelnya Jun Xiao, sampai-sampai ia sering membuat kekacauan di sekte, bahkan menyeret adik-adik seperguruannya ke jalan yang salah, namun sejak dulu hingga sekarang, Jun Xiao sangat menghormati Yu Xian. Setiap kali berbicara dengannya, bahkan sekadar bercanda, ia pasti menyelipkan sapaan ‘Guru Agung’.
Begitu Jun Xiao mengucapkan “kau sendiri”, Bai Ke sudah merasa ada yang janggal, namun saat itu pikirannya begitu tumpul karena kantuk hingga ia mengabaikannya. Baru sekarang, ia sadar di mana letak keanehannya.
Kedua, ketika kabut mulai mengental di sekitar mereka, Yu Xian menoleh ke arah murid-murid Changling dan Xuanwei yang berada di belakang, lalu berkata pada Bai Ke, “Barusan waktu kita bicara, masih bisa melihat mereka dengan jelas, sekarang malah tertutup kabut sampai-sampai tampak seperti labu.”
Kabut semacam itu memang bisa menghalangi pandangan orang biasa, tapi bagi para kultivator, terlebih yang sudah memiliki tingkat kekuatan tertentu, tidak akan berpengaruh pada pandangan mereka. Apalagi Yu Xian, yang kekuatannya sudah luar biasa, mana mungkin hanya karena sedikit kabut saja jadi tak bisa melihat para murid dari kedua sekte itu? Apalagi sampai bilang ‘tertutup seperti labu’?
Seperti yang pernah dikatakan Jun Xiao: “Temukan celah, maka kau bisa keluar.” Begitu sadar ada kejanggalan, pikiran Bai Ke yang tadinya seperti terperosok dalam lumpur seketika menjadi jernih. Tekanan di dadanya yang tadinya seperti hendak menguras semua oksigen terakhir dalam tubuhnya, lenyap tanpa jejak, seperti seseorang yang hampir matang dikukus dalam dandang dan tiba-tiba tutupnya diangkat, udara segar langsung mengalir masuk.
Mendapatkan kembali udara segar, Bai Ke refleks menghirup napas dalam-dalam beberapa kali, baru kemudian merasa dirinya hidup kembali.
Telinganya seolah tertutup kapas tebal, samar-samar ia mendengar seseorang memanggil namanya dan menepuk-nepuk pipinya, namun suara itu terdengar sangat jauh, seakan terhalang ribuan gunung. Seiring kesadarannya kembali, suara itu makin lama makin jelas, hingga akhirnya ia sadar ada seseorang yang memeluknya, berusaha membangunkannya.
Bai Ke mengerutkan kening, berusaha menggerakkan jarinya. Seiring ia mulai bisa mengendalikan tubuhnya lagi, pandangannya yang semula gelap perlahan menampakkan sosok seseorang.
Ternyata, orang pertama yang ia lihat adalah Huo Jun Xiao yang sedang memeluknya.
Melihat Bai Ke sadar, dahi Jun Xiao yang semula tegang langsung mengendur, seperti baru saja menghela napas lega, meski masih menampakkan kekhawatiran, “Kau merasa tidak enak di bagian mana?”
Bai Ke ingin menjawab, namun yang terasa di mulutnya hanyalah rasa darah yang kental.
Jadi, meski semua yang terjadi barusan hanyalah ilusi, luka yang didapatkan nyatanya benar-benar ada? Kalau saja tadi ia tidak berhasil menemukan celah dan terbangun dari ilusi itu tepat waktu, mungkinkah ia benar-benar akan mati?
Siapapun pasti akan merasa trauma setelah mengalami sesuatu yang nyaris seperti kematian. Bai Ke menelan rasa darah yang memenuhi mulutnya, lalu dengan bantuan Jun Xiao ia duduk bersandar, dan menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan. Benar saja, ada bekas darah yang sudah mengering dan terasa keras. Ia berkata pada Jun Xiao, “Aku sudah tidak apa-apa. Tadi kenapa aku bisa begitu?”
“Wah, aku hampir ngompol saking takutnya barusan!” Lin Jie yang berdiri di samping menutupi wajahnya dan menggosok-gosok pipinya keras-keras, seolah ingin melonggarkan otot wajah yang tadi kaku karena ketakutan. “Tadi kita lagi jalan seperti biasa, tiba-tiba kau limbung dan pingsan. Untung saja Shi... eh, itu, sigap menangkapmu. Kami sampai berhenti mendadak, terus lihat kau sempat bergumam sesuatu, tapi tak jelas apa, lalu tiba-tiba berhenti bernapas, bagaimanapun dicoba tak bisa sadar, Shi... eh, itu akhirnya terpaksa menyalurkan napas padamu. Tapi bukannya malah membaik, kau malah tiba-tiba kejang dan memuntahkan darah, kami semua jadi panik! Mulutmu juga terus mengeluarkan darah, pokoknya seram banget.”
Dua kali Lin Jie hampir saja mengucapkan ‘Guru’ pada Jun Xiao yang masih muda, lalu dengan canggung mengganti kata. Jelas sekali, siapapun bisa menebak ada sesuatu yang janggal. Meng Xi yang berdiri di sampingnya hanya bisa melirik Jun Xiao beberapa kali, lalu merasa tidak sopan dan buru-buru mengalihkan pandangan.
“Eh? Bai Kecil? Kenapa kau diam saja?” Lin Jie merasa aneh karena Bai Ke hanya diam tak bereaksi, tak juga membalas omongan atau menunjukkan ekspresi. Ia iseng melambaikan tangan di depan wajah Bai Ke, “Bai Kecil sudah kembali ke dunia nyata nih~~~”
Tapi Bai Ke benar-benar tidak bisa kembali ke dunia nyata. Begitu mendengar kata “menyalurkan napas”, tubuhnya langsung lemas!
Dengan ekspresi rumit, Bai Ke melirik Jun Xiao, dalam hati bertanya-tanya: Dengan mulut penuh darah, bagaimana caramu menyalurkan napas... pejuang sejati?
Untuk pertama kalinya ia ingin meminjam sifat cerewet Lin Jie dan melontarkan seribu satu keluhan, walau hanya dalam hati, namun di saat bersamaan ia juga ingin meniru burung unta, menyembunyikan kepala dalam pasir dan berpura-pura tidak mendengar apapun.
Saat Bai Ke masih bingung harus berbuat apa dan mempertahankan wibawa di depan orang lain, sebuah suara merdu tiba-tiba memecah kecanggungan itu.
“Huh— akhirnya kami menyusul juga. Eh? Kenapa kalian berhenti di sini?” Setelah sekelompok anak ayam kecil berlari mendekat, yang paling depan, sambil terengah-engah, melontarkan pertanyaan itu.
Bai Ke langsung menatapnya dengan penuh rasa syukur. Tentu saja, matanya yang tampak normal itu hanya hiasan, jadi tak ada yang menyadari pandangan terima kasihnya.
Dalam sekejap, Lin Jie yang mudah sekali teralihkan perhatiannya melambaikan tangan pada para anak ayam itu, “Perjalanan kalian pasti melelahkan, kami sedang istirahat di tengah jalan.”
Walau Lin Jie berkata mereka sedang istirahat, para murid dari Xuanwei dan Changling tahu pasti ada sesuatu yang terjadi setelah melihat kondisi Bai Ke. Mereka pun bertanya, “Ada apa? Apa kita bertemu sesuatu seperti makhluk akar sebelumnya? Perlu bantuan?”
Bai Ke menggeleng, lalu dengan suara serak akibat darah, berkata, “Sudah tidak apa-apa.” Bahkan ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Jun Xiao menempelkan satu tangan di punggung Bai Ke, menyalurkan energi spiritual, sementara tangan lainnya menggenggam erat pergelangan tangan Bai Ke. Ekspresi Jun Xiao yang sempat mereda kini kembali tegang. Sepertinya ia sedang menahan sesuatu, genggamannya pada tangan Bai Ke makin kuat, sampai-sampai membuat tulang Bai Ke terasa nyeri. Tatapannya tak pernah lepas dari Bai Ke, menyimpan berbagai perasaan rumit yang sulit diurai, apalagi bagi Bai Ke yang matanya memang istimewa.
Namun, saat semua emosi itu tertutup kabut tipis seperti di musim gugur, terlihat jelas ada luka batin yang sangat dalam di sana.
Jun Xiao tampak ingin memeluk Bai Ke, tapi orang di sekitar terlalu banyak, dan sekarang bukan waktu yang tepat.
Tatapan itu sempat membuat Bai Ke tertegun. Ia memang tidak bisa membaca semua isi hati Jun Xiao, tetapi ia bisa melihat kabut duka yang menyelimutinya. Perlahan ia menggerakkan tangan, menepuk tangan Jun Xiao yang mencengkeram pergelangannya, memberi isyarat agar sedikit lebih longgar. Lalu ia menatap Jun Xiao, membalikkan telapak tangan, menggenggam jari Jun Xiao, dan berbisik, “Kalau begini, kita takkan mudah terpisah.”
Lin Jie dan Meng Xi yang berada paling dekat: “……” Sial, kenapa suasananya jadi terasa aneh?
Yu Xian menggaruk pipinya, “……” Kok rasanya makin aneh saja?
Biasanya, dalam situasi seperti ini pasti ada satu orang yang tak tahu diri yang mengacaukan suasana ‘aneh’ itu—anak ayam liar belum terlalu akrab, tak enak memotong pembicaraan; Lin Jie yang fanatik pada gurunya apalagi; akhirnya tugas berat itu jatuh pada Yu Xian.
Yu Xian, tentu saja, tidak mengecewakan. Ia berdeham dan bertanya, “Si Pendiam, apa yang kau lihat saat pingsan tadi?”
Bai Ke baru mengalihkan perhatian, menceritakan singkat tentang ilusi yang dialaminya, lalu berkata, “Setelah menemukan celah, aku yakin semua yang terjadi berikutnya hanyalah mimpi. Tapi sebelum itu, aku masih belum bisa memastikan, mana yang nyata dan mana yang tidak. Apa kalian merasa mengantuk? Atau mencium kabut dan aroma pahit?”
“Mengantuk?” Para murid Xuanwei dan Changling saling memandang, lalu serempak menggeleng. “Tidak, kami hanya agak lelah karena mengejar, tapi tidak mengantuk.”
Bahkan Lin Jie juga menggeleng, “Aku juga tidak merasa begitu. Kita memang terus berjalan. Aroma pahit juga tidak, kalian gimana?” Ia melirik ke arah murid-murid lain.
Semuanya menggeleng, “Tidak ada.”
Bai Ke melirik Jun Xiao dan Yu Xian, yang keduanya memiliki indra lebih tajam, tapi mereka juga menggeleng pada Bai Ke.
Jun Xiao berkata, “Kabut dan aroma pahit itu tidak pernah muncul.” Ia mengusap alis Bai Ke yang berkerut, “Jangan tegang, kita—”
Belum sempat selesai bicara, tubuh Jun Xiao menegang, lalu ia menggapai udara kosong dan menarik sesuatu—tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang lembut, “Aduh!” dan sesosok bayangan hitam entah dari mana, tertarik ke depan mereka, berguling dua kali di tanah, lalu bangkit dengan pakaian berdebu.
Begitu mendengar suara itu, Bai Ke sontak terkejut. Suara itu sangat familiar, ia telah mendengarnya selama delapan belas tahun.
“Ayah, kenapa Ayah bisa ada di sini?!” Bai Ke berdiri dengan kaget, menatap Bai Zi Xu yang tampak berantakan di depannya, nyaris tak percaya pada matanya sendiri.