Bab Tiga: Mimpi di Tengah Hujan
Pemandangan saat ini benar-benar berbeda dari gambaran universitas biasa yang selama ini ada di benak Yu Jing. Tidak ada organisasi mahasiswa yang menyambut para mahasiswa baru. Yu Jing berjalan sendirian di jalanan yang sepi, menundukkan wajah yang tengah larut dalam pikirannya di balik topi. Baginya, karena besok baru benar-benar hari pertama perkuliahan, sehari cukup untuk tiba di gerbang kampus.
Entah sudah berapa lama ia melangkah di jalanan lebar itu, tiba-tiba butiran hujan sebesar kacang kedelai jatuh di dahinya.
“Hujan?”
Saat Yu Jing mendongak, entah sejak kapan awan gelap telah berkumpul, membuat siang hari berubah muram. Hujan deras turun tanpa tanda-tanda, memaksa Yu Jing melangkah ke kawasan hutan di pinggir jalan yang penuh pepohonan, setidaknya agar pakaian dalam kopernya tak basah.
Baru saja ia bersiap berteduh di bawah pohon besar yang harus dipeluk lima orang dewasa, matanya samar-samar menangkap asap tipis mengepul sekitar dua ratus meter di puncak bukit.
“Coba lihat ke sana saja. Kalau hujan seperti ini berlangsung lama, berteduh di bawah pohon pun tak ada artinya.”
Menyusuri jalan setapak yang becek, Yu Jing tiba di sumber asap tersebut. Tak disangka, di lereng bukit itu berdiri sebuah penginapan tiga lantai, ukurannya sedang, seluruhnya terbuat dari kayu sehingga terasa antik di tengah hutan.
“Supir taksi tadi bilang area ini milik Universitas Di Hua, jadi penginapan ini pasti ada hubungannya dengan kampus itu. Sekalian berteduh, aku bisa tanya ke pemilik penginapan seberapa jauh lagi menuju universitas,” pikirnya.
Yu Jing pun melangkah masuk ke lantai satu penginapan yang bertuliskan ‘Penginapan Pegunungan Dalam’. Begitu kaki melangkah ke lobi, bau lembap yang aneh langsung menusuk hidungnya. Sulit dijelaskan, seperti aroma busuk bercampur harum cendana, membuat mual.
Di meja resepsionis terpajang papan kecil bertuliskan ‘Kamar Tersedia Hari Ini’, tapi tak tampak seorang pun pemilik penginapan di sana.
Yu Jing mengamati sekeliling meja. Ada cangkir teh yang masih hangat dan televisi tua yang menyala tanpa suara, menandakan pemiliknya belum lama meninggalkan tempat itu.
Akhirnya, perhatian Yu Jing tertuju pada sebuah lonceng kecil yang diikat dengan batang besi dan karet di balik meja. Ada kekuatan aneh yang mendorongnya untuk mengambil dan membunyikan lonceng itu.
“Tring tring tring!” Suara bening lonceng menjalar ke seluruh penjuru penginapan.
“Bop, bop, bop... Tamu... tamu, ya?” Suara mengerikan yang menggigilkan hati terdengar dari lantai dua.
Seorang wanita berwajah terpuntir dengan empat lengan merangkak jatuh di tangga, kepala yang terpelintir menoleh ke arah Yu Jing seraya tersenyum, dari mulut hitamnya mengalir liur deras.
Dalam sekejap, ia merangkak liar mendekati Yu Jing melalui sudut tangga.
……
“Ceklek!”
Seolah-olah layar di hadapannya terkoyak, pemandangan mengerikan itu seketika lenyap. Rasa perih menusuk membuat tubuh Yu Jing terkejut dan ia membuka mata. Kini ia duduk di dalam taksi yang melaju sedang. Di luar, hujan deras mengguyur, dan di punggung tangan kanannya ada luka goresan.
“Perjalananmu terlalu melelahkan, ya?” tanya sopir di sebelahnya saat melihat Yu Jing terbangun.
Yu Jing buru-buru menutup lukanya dan tak menanggapi ucapan si sopir. Ia mencoba mengingat kembali peristiwa saat berteduh di hutan dan menemukan ‘Penginapan Pegunungan Dalam’ di lereng bukit. Setiap detailnya terekam jelas, tak seperti mimpi.
“Pak, ini memang kawasan Universitas Di Hua, ya? Mobil luar seperti Anda bisa masuk ke sini?” tanyanya.
“Selama ada mahasiswa seperti kamu di dalam, tentu saja bisa,” jawab sopir itu.
Jawaban sopir berbeda dengan sebelumnya. Yu Jing pun menduga ia mungkin tertidur begitu keluar dari jalan tol. Namun, hujan deras di luar benar-benar persis seperti yang ia alami dalam mimpinya.
“Itu dia gerbang utama Universitas Di Hua.”
Saat Yu Jing masih berpikir, sopir membelokkan mobil melewati gunung terakhir. Di hadapan mereka, di dataran luas, berdiri kampus yang tak terlihat ujungnya. Banyak kendaraan dari berbagai arah berhenti di depan gerbang setinggi seratus meter itu.
Orang-orang yang turun dari mobil tampak berwibawa, sepertinya semuanya adalah mahasiswa baru tahun ini.
Saat taksi hampir sampai di gerbang, seorang pria berjas hitam menghampiri dan memberi isyarat agar taksi berhenti. Tampaknya, kendaraan luar hanya boleh sampai di sini.
“Adik, kalau butuh taksi lagi nanti, kapan saja bisa hubungi saya,” ujar sopir.
Yu Jing mengangguk, membayar dengan kartu, lalu keluar dari pintu depan. Pria berjas hitam itu segera menyerahkan payung hitam yang terbuka untuk menahan hujan.
“Silakan selesaikan proses pendaftaran mahasiswa baru hari ini. Latihan militer akan dimulai dini hari nanti. Mohon persiapkan diri,” kata pria itu singkat sebelum berlalu.
“Latihan militer mulai dini hari tanggal satu September?” Yu Jing sedikit terkejut, tapi kemudian menenangkan diri, melangkah ke arah gerbang utama Universitas Di Hua dengan payung hitam. Di depan gerbang, setidaknya ada tiga ratus mahasiswa baru menunggu di sana. Sebagian tampak berbincang dengan orang tua atau teman tentang latihan militer dan belum juga masuk ke kampus.
Yu Jing menutupi wajahnya dengan tudung, tak ingin berinteraksi dengan mahasiswa baru lainnya.
Saat ia akan mendekati gerbang utama, tiba-tiba ia merasa bahunya ditepuk ringan oleh seseorang.
Ketika menoleh, ia melihat seorang gadis berwajah cantik dan unik, mengenakan pakaian olahraga abu-abu ketat. Ia adalah kenalan Yu Jing.
“Yu Xiaoxiao...” Mereka pernah bertemu di laboratorium, dan gadis itu juga pernah menjadi penyelamat ibunya.
“Kau masih hidup?” Yu Xiaoxiao bertanya dengan suara pelan, tampak terkejut.
“Aku juga lolos seleksi, nilainya 93,5.”
Sambil menjawab, Yu Jing melirik ke arah wanita cantik bergaun Eropa dengan riasan tebal di samping Yu Xiaoxiao. Ketika tatapan mereka bersirobok, Yu Jing seolah merasakan tubuhnya teriris-iris oleh pisau. Ia refleks mundur selangkah, bulu kuduknya berdiri.
“Aku pergi daftar dulu,” ucap Yu Jing, sadar bahwa wanita itu tidak suka melihatnya dekat-dekat dengan Yu Xiaoxiao, maka ia pun memilih mundur.
“Jangan mati,” kata Yu Xiaoxiao dingin, membuat Yu Jing terdiam sejenak dan tersenyum kaku.
Setibanya di gerbang, Yu Jing langsung dihentikan oleh pria berjas hitam serupa. Ia dan seluruh barang bawaan di koper diperiksa dengan cermat, identitas dan surat penerimaan kuliahnya diverifikasi. Setelah lima menit, barulah ia diizinkan masuk ke gerbang Universitas Di Hua.
“Apa ini?”
Yu Jing berhenti di depan gerbang, sebab yang disebut ‘gerbang’ itu ternyata berupa benda seperti cermin. Hanya jika diamati dari dekat, baru terlihat perbedaannya. Saat telapak tangan Yu Jing menyentuh permukaannya, riak-riak muncul di cermin itu.
Yu Jing melangkah masuk seluruh tubuhnya ke dalam, seolah-olah begitu masuk kampus, ia langsung terputus dari dunia luar.
Yang terpampang di depan matanya pun sama sekali bukan suasana pendaftaran mahasiswa baru yang semarak seperti bayangannya. Bagian dalam gerbang kosong melompong, seluruh kampus diselimuti kabut tebal, samar-samar hanya terlihat papan petunjuk yang mengarahkan ke kanan, menuju tempat pendaftaran mahasiswa baru.
Rasa aneh yang tak terjelaskan dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terhitung memenuhi benak Yu Jing.