Bab Lima: Guru Lu Chuan
“Itu hanya makanan berkualitas rendah yang biasa dimakan orang biasa saat lapar, entah kau akan merasa jijik atau tidak.” Yu Jing hanya mengira Yu Xiaoxiao berasal dari keluarga terpandang, jadi mi instan yang murahan ini tentu belum pernah ia lihat. Sebenarnya, bahkan Yu Jing sendiri agak malu menghidangkannya.
“Tak apa, asalkan bisa mengisi perut saja sudah cukup.”
Yu Jing mengeluarkan sebungkus mi instan rasa daging sapi panggang dari koper (Fei benar-benar pernah membeli mi merek itu!), dan Yu Xiaoxiao mengguncang-guncang gelas mi itu dengan kebingungan. Bagaimanapun juga, bentuknya sangat berbeda dengan mi yang biasanya disajikan panas di mangkuk.
“Mie ini harus diseduh dengan air panas supaya bisa dimakan. Sepertinya di sini juga tidak ada air panas. Bagaimana kalau kita ke luar kampus saja?”
“Aku makan ini saja, kita sama sekali tidak boleh ke luar! Ibuku ada di luar, kalau dia melihatmu di sampingku, dia pasti akan membunuhmu… Soal air panas biar aku yang urus, berikan saja airmu padaku.”
Dengan wajah serius, Yu Xiaoxiao mengeluarkan sebuah batu putih istimewa dan sebuah wadah kaca dari cincin di jarinya. Yu Jing melihat proses itu dengan seksama, namun memilih untuk tidak bertanya apa-apa dulu.
Hanya dengan sedikit gesekan, batu putih itu langsung menyala dan memanaskan air mineral di wadah kaca, lalu Yu Jing menyeduh mie instan dengan air panas tersebut.
Tak lama kemudian, semangkuk mi instan panas mengepul pun sampai di tangan Yu Xiaoxiao.
“Harumnya!”
Tanpa terlalu memikirkan sopan santun, Yu Xiaoxiao melahap mi instan itu. Hanya dua suapan, bahkan kuahnya pun dihabiskan sampai tetes terakhir. Sementara itu, Yu Jing tidak terlalu memperhatikan cara Yu Xiaoxiao makan, ia hanya menenggak botol air mineral besar untuk mengisi kebutuhan air bagi tubuh dan tanamannya.
Setelah selesai makan, Yu Xiaoxiao menyadari dirinya agak kehilangan kendali sehingga wajahnya memerah. Ia perlahan menyerahkan mangkuk kosong beserta segepok uang kertas merah pada Yu Jing. “Ini uang untuk mie-nya, dan ini mangkuknya.”
“Tak perlu sebanyak ini, semangkuk mie instan di warung bawah rumahku saja cuma lima yuan… Dan mangkuk mie instan ini, setelah dimakan ya buang saja.”
Yu Jing menerima mangkuk itu dan meletakkannya di samping, tentu saja ia menolak uang tersebut.
“Hanya lima yuan? Aku belum pernah makan sesuatu yang begitu murah dan enak. Terima kasih, kalau tidak aku pasti sudah lemas kelaparan. Ibu bilang latihan militer malam ini agak berat, jadi aku harus serius.”
Sepanjang Yu Xiaoxiao bicara, Yu Jing terus mengamati setiap detail ucapan dan perubahan sorot matanya. Seluruh tingkah laku Yu Xiaoxiao terasa begitu polos dan murni. Belum pernah ia melihat gadis sepolos ini. Menurut Yu Jing, di zaman sekarang, manusia rasanya sudah tidak lagi memiliki sifat polos dan murni seperti itu.
Yu Jing tersenyum menanggapi, “Tak perlu berterima kasih, aku masih punya banyak mi instan cadangan.”
Setelah berpikir sebentar, Yu Xiaoxiao mengalihkan pembicaraan ke latihan militer. “Nanti saat mulai tengah malam, kau ikut denganku. Kalau tidak, sendirian saja kau pasti akan mati.”
“...Baik.”
Yu Jing yang sempat tertegun langsung mengangguk. Di hadapan Yu Xiaoxiao, kata ‘mati’ seolah tak mengandung beban sama sekali, ia mengucapkannya dengan sangat biasa. Selain itu, Yu Jing pun bukan hanya menempel demi keuntungan, melainkan ia juga tertarik pada kepribadian dan penampilan Yu Xiaoxiao.
“Setelah ini, kau tak perlu berhubungan dengan siapa pun. Semua orang di sini memiliki tujuan masing-masing yang berbeda denganmu.”
“Ya, aku tahu.”
Yu Jing mengangguk. Ia dan Yu Xiaoxiao menunggu di pojok ruangan. Tentu saja, Yu Jing menyadari banyak orang melirik dan berbisik pelan. Sebagian besar dari mereka enggan mendekat karena takut pada Yu Xiaoxiao. Soal apa yang mereka bisikkan, Yu Jing sudah bisa menebak.
Yu Jing lalu bersandar di dinding dan beristirahat sejenak, menunggu pengumuman tentang latihan militer.
“Siapa dia itu? Kok bisa akrab sekali dengan salah satu keturunan keluarga Yu?”
“Tadi aku dengar Jiang Peng dari keluarga Jiang bilang, orang itu berasal dari Lembaga Penelitian Distrik Sembilan Belas. Katanya kekuatan utama keluarga Yu memang tersembunyi di dalam Distrik Sembilan Belas. Bisa jadi anak itu memang ada hubungan dengan keluarga Yu.”
......
Banyak orang di sana tahu, sedikit banyak, tentang keluarga Yu. Maka tak heran jika kedekatan Yu Jing dan Yu Xiaoxiao menjadi bahan pembicaraan.
Namun Yu Jing tak terlalu mempedulikan semua itu. Ia hanya duduk diam menunggu semua mahasiswa baru berkumpul, menunggu latihan militer dimulai.
“Mengapa kau tidak memasukkan koper ke dalam kartu kredit nilai? Bukankah kartu kredit nilai setiap orang sudah aktif ruang penyimpanannya? Memang ruangnya kecil, nanti aku bawakan cincin penyimpanan dari rumah.”
“Cincin penyimpanan?” Yu Jing langsung teringat pada cincin di jari Yu Xiaoxiao yang barusan digunakan untuk mengeluarkan berbagai barang.
“Kau belum tahu cara menggunakannya, ya? Kartu kredit nilai itu sudah terikat denganmu. Kau hanya perlu mendekatkan kartu ke benda yang ingin disimpan lalu tekan konfirmasi di kartu. Kalau mau mengeluarkan barang, tinggal pilih saja di kartu itu.”
“Baik, aku coba.”
Alasan Yu Jing tidak pernah bertanya soal hal-hal yang kelihatannya sepele itu hanyalah karena ia tak ingin dianggap kampungan dan mengalami nasib seperti di SMA, selalu dibanding-bandingkan oleh orang lain.
Karena Yu Xiaoxiao sudah menjelaskan, Yu Jing pun mencoba mendekatkan kartu pada koper miliknya.
Benar saja, begitu bersentuhan, muncul pilihan “apakah ingin menyimpan?” di atas kartu. Setelah memilih konfirmasi, koper itu berubah menjadi partikel dan terserap ke dalam kartu. Di layar kartu tertulis angka “2.25/3”, artinya masih ada 2,25 meter kubik ruang yang bisa digunakan.
“Teknologi yang canggih, di buku pelajaran SMA saja tidak pernah disebutkan soal ruang penyimpanan internal seperti ini.”
Waktu terus berjalan, mahasiswa baru berdatangan, tak sedikit yang tampak luar biasa, tapi ada juga yang seperti Yu Jing, berasal dari kota kecil tanpa banyak pengetahuan.
Beberapa jam tersisa, Yu Jing memilih duduk bersandar di dinding, beristirahat setengah tidur untuk menjaga kondisi fisik dan mentalnya tetap prima.
“Bip! Waktu pendaftaran telah berakhir. Jumlah yang harus hadir 820 orang, jumlah yang mendaftar 815 orang. Peserta yang tidak mendaftar akan dieliminasi. Berikutnya akan dilakukan persiapan awal latihan militer mahasiswa baru. Kali ini, latihan militer akan dipimpin oleh Dosen ‘Lu Chuan’.”
Suara pengumuman yang menggelegar terdengar di seluruh bangunan tua itu. Semua mahasiswa baru yang sedang beristirahat, termasuk Yu Jing, langsung terjaga.
Saat itu, dari pintu masuk bangunan melangkah seorang pria yang tampak baru berusia tiga puluhan dengan setelan rapi dan wajah tampan. Namun, Yu Jing memperhatikan tangan kiri dosen Universitas Dihuana itu berbeda dari yang lain, karena merupakan lengan bionik.
“Itukah Dosen Lu Chuan dari Fakultas Teknik Mekanik? Katanya dia lulusan angkatan sebelumnya, lulus dengan peringkat ketiga dan langsung mengajar di kampus. Tak kusangka aslinya begitu tampan.”
“Dosen Lu Chuan, benar-benar dia!”
Banyak mahasiswa Fakultas Teknik Mekanik, bahkan fakultas lain, mengenal nama dosen ini.
“Orang yang sangat hebat. Kalau dia mau membunuh delapan ratusan orang di sini, mungkin tak sampai sepuluh detik. Tidak tahu bagaimana jika dibandingkan dengan ibuku.”
Di samping Yu Jing, Yu Xiaoxiao menggambarkan dosen itu dengan kata-kata yang tak biasa: membunuh.