Bab 96: Tabib Ajaib atau Tabib Palsu?
Rasa kantukku lenyap sama sekali; hasrat yang sebelumnya bergelora di dalam hati kini sirna akibat campur tangan ibuku. Setelah mengganti pakaian, aku melangkah keluar dari rumah. Bagiku, rumah benar-benar telah menjadi seperti penginapan semata. Satu-satunya orang yang memberiku kebebasan untuk menjelajah tanpa beban adalah Lin. Kata-kata yang selama ini tersembunyi di hati, malam ini akhirnya kuperoleh keberanian untuk mengutarakannya. Bahkan hampir saja segalanya berjalan lancar, selangkah lagi menuju titik takdir. Namun, ibu kandungku justru menghancurkan semuanya.
Dengan secarik kertas dari Tuan An di tanganku, tiba-tiba aku merasa saat inilah waktu yang tepat untuk mencari tabib tradisional itu. Tidak akan menimbulkan kecurigaan ataupun perhatian orang lain.
Mobil melaju menembus malam. Aku menurunkan kaca jendela, membiarkan angin malam menyapu wajahku, membawa kesejukan yang samar. Aku bahkan sedikit berterima kasih atas kemunculan ibuku yang tiba-tiba. Mungkin saja, jika bukan karena itu, aku masih terhanyut dalam peluk kehangatan, padahal besok ada urusan yang jauh lebih penting.
Chen Da Bao telah mengajakku bertemu, ingin menyelesaikan semua dendam dan urusan lama. Maka, malam ini aku harus menemukan tabib itu. Asal penyakit Paman Tua bisa terobati, aku tak lagi punya beban pikiran.
Desa yang kutuju cukup besar; saat aku sampai, malam sudah larut. Aku baru sadar, mungkin aku terlalu tergesa-gesa. Berkeliaran di desa tengah malam begini, jika terlihat orang, tentu saja aku akan dikira pencuri. Kulirik jam, masih ada empat atau lima jam hingga fajar. Apa aku harus menunggu di dalam mobil sampai pagi?
Tidak bisa, bagaimanapun aku harus menemukan tabib itu. Bertekad, walau harus dianggap pencuri, aku tetap akan mencobanya. Lagi pula, siapa pernah melihat pencuri naik mobil mewah dan berpakaian rapi?
Desa ini tertata rapi, jalan-jalan beraspal, lampu jalan berjajar di sisi kiri dan kanan. Aku membawa mobil masuk desa, baru saja turun dan berjalan sebentar, beberapa senter langsung menyorot ke arahku.
“Mau apa kau di sini?”
“Jangan biarkan dia kabur…”
“Sial, desa kita tiap malam selalu kehilangan barang, akhirnya ketangkap juga!”
Seperti dugaanku, mereka menghadangku di depan sebuah rumah beratap genteng, cukup jauh dari mobilku, jadi mereka tidak tahu aku datang dengan mobil.
“Siapa kau? Tengah malam berkeliaran mau apa di sini?” tanya seorang warga.
“Ini Desa Air Jernih, kan? Aku sedang mencari seseorang,” jawabku sambil merapikan pakaian. Seketika senter menyorotkan cahaya ke wajahku.
“Kelihatannya tampan dan sopan, kenapa malah melakukan hal seperti ini? Ikat saja dia, bawa ke rumah kepala desa. Mulai malam ini, kita bisa tidur nyenyak dengan istri di rumah!”
Mereka benar-benar mengira aku pencuri. Aku hendak membantah, tapi tali sudah dilemparkan, langsung mengikat tubuhku. Sebenarnya, aku tidak menganggap mereka ancaman. Aku hanya khawatir jika melawan, justru membuat keadaan semakin rumit dan sulit menemukan tabib itu.
Aku diam saja, dua warga menarik tali di kedua sisi. Aku memegang salah satu ujung, lalu menariknya, membuat keduanya terhuyung ke arahku. Sedikit mengelak, mereka pun saling bertabrakan.
Seorang warga lain mengangkat tongkat hendak memukulku, tapi aku langsung berteriak lantang.
“Dengar aku, aku sungguh sedang mencari seseorang. Aku bukan pencuri, dan tidak ingin bertengkar dengan kalian!”
Suara teriakanku membuat mereka terdiam. Di kakiku ada beberapa batu bata merah, bata yang biasa dipakai untuk membangun dinding rumah desa, keras dan padat.
Aku mengambil dua bata, mengangkatnya di bawah cahaya lampu jalan, memperlihatkannya pada mereka.
“Kalian lihat ini? Ini bata merah, dan aku yakin tubuh kalian tidak sekeras bata ini.” Sambil berkata, kumainkan bata itu, lalu memecahkannya dengan satu tangan.
“Ya ampun, dia pasti ahli bela diri. Cepat panggil kepala desa!” teriak seseorang.
“Tak perlu, antar saja aku. Aku sungguh ke Desa Air Jernih karena urusan penting. Kalau ada salah, mohon dimaklumi.” Sikapku yang ramah membuat mereka luluh. Seorang pemuda tersenyum padaku.
“Mas, ikut saya saja…”
Rumah kepala desa di sini memang tidak paling megah, tapi tetap tampak berwibawa. Halaman besar berbentuk persegi, pintu gerbang tinggi dan lebar, di depannya berdiri dua patung singa batu seperti kantor pejabat tempo dulu.
Kepala desa terbangun karena keributan, tampak agak kesal.
“Sudah ketangkap ya? Ngapain bawa ke sini? Langsung saja bawa ke kantor polisi!”
“Bukan, Pak Kepala Desa, ini bukan pencuri, dia datang mencari Anda,” kata seorang warga.
“Gila, tengah malam begini cari aku, sakit jiwa agaknya!” gerutunya, namun tetap mengajak kami masuk ke rumahnya.
“Siapa kamu? Aku tidak kenal, mau apa ke sini?” Kepala desa menatapku penuh curiga. Aku memberi isyarat lewat tatapan agar kami bicara di dalam.
Aku paham, kedatanganku yang tiba-tiba pasti membuat kepala desa tidak senang. Diam-diam, aku menyelipkan amplop berisi uang ke tangannya. Setelah berpura-pura menolak, ia pun tersenyum ramah dan mengajakku bicara berdua.
“Maaf semuanya, dia ini sepupuku dari jauh, sudah lama tidak bertemu. Ada urusan mendadak, tidak apa-apa, silakan duduk.” Kepala desa memerintahkan istrinya menyuguhi teh, suasana pun jadi hangat. Benar adanya, uang bisa melunakkan segalanya. Kalau aku tidak membawa amplop itu, entah seperti apa sikap kepala desa.
Aku mengeluarkan secarik kertas berisi alamat dan nama seseorang, yang kutulis ulang sebelumnya. Sementara kertas pemberian Tuan An sudah kusimpan di brankas rumah.
Kepala desa melihatnya, lalu menyerahkannya pada warga lain untuk dibaca. Tak disangka, mereka malah tertawa terbahak-bahak.
“Jadi, kau jauh-jauh tengah malam ke sini hanya untuk mencari dia? Dia itu orang gila! Tahun lalu, sok-sokan mengobati orang, tapi nyawa pasien malah melayang. Sejak itu istrinya dan anaknya pun meninggalkannya,” ujar seorang warga sampai terpingkal-pingkal.
Aku hanya bisa menatap kepala desa dengan kebingungan, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Mas, jujur saja, orang yang kau cari itu bernama asli Zhang Chun. Beberapa tahun lalu dia ikut belajar pengobatan dari tabib keliling, lalu mulai mengobati orang. Katanya pernah menyembuhkan beberapa pasien, tapi tahun lalu saat mengobati seseorang, pasiennya malah meninggal. Sejak itu, nama besarnya lenyap, dan dia nyaris masuk bui karena dianggap membahayakan nyawa orang. Untuk apa kau mencari dia?”
Kepala desa menasihatiku dengan baik, seolah-olah aku benar-benar datang ke tempat yang salah.
“Pak Kepala Desa, aku datang karena mendengar namanya. Untuk menemukan dia, aku sudah berusaha keras. Sekarang sudah sampai, izinkan aku setidaknya bertemu. Paman Tua terkena penyakit berat, tidak ingin berobat medis, mohon dibantu…”
“Bisa diatur! Wang, antar sepupuku ke tempat Zhang Chun, setelah itu bawa kembali ke sini…” Kepala desa mengakuiku sebagai sepupunya, dan hal itu sungguh membuatku lega.