Bab Lima Puluh Dua: Kembali ke Ibu Kota
Pukul tujuh lebih pagi.
Akhirnya acara makan-makan pun usai.
Wang Shi awalnya mengajak semua orang sarapan di kedai barbeque, lalu mengusulkan untuk minum-minum pagi, melanjutkan pesta dari semalam.
Namun, begitu usulan itu keluar dari mulutnya, anggota tim mentor, Xiao Wangnian, langsung jadi yang pertama kabur, bersikeras tak mau meneguk setetes pun lagi.
Para senior musik seperti Xu Tianheng dan Ding Liang, yang usianya sudah tak muda, juga menggelengkan kepala berkali-kali. Mereka sudah empat atau lima tahun tidak minum sebanyak itu. Tubuh mereka sudah tidak sanggup lagi, dan jika bukan karena menghormati Wang Shi, kemarin pun mereka tidak akan menyentuh alkohol.
Dua orang tua itu pun mengeluarkan termos masing-masing, menyeduh goji, dan santai berjalan kembali ke hotel untuk tidur.
Melihat itu, selebritas lain dan para peserta amatir pun segera berpamitan. Setelah semalaman begadang, mereka benar-benar mengantuk, bahkan sulit membuka mata.
Terlebih, banyak di antara mereka yang masih harus ada jadwal lain hari ini, buru-buru mengejar penerbangan, jadilah semua orang pergi dengan cepat.
Episode keempat "Suara Impian" baru akan direkam lima hari lagi, jadi selama beberapa hari ke depan, mereka tak perlu menahan diri di Hangzhou, bisa kembali ke kesibukan masing-masing.
He Xiao sudah lama memesan tiket pulang ke Beijing, pesawatnya tiga jam lagi, jadwalnya cukup padat.
Tiga jam itu pun tidak ia niatkan untuk beristirahat, ia pikir bisa tidur sejenak di pesawat nanti untuk memulihkan tenaga.
Setelah berpamitan dengan Wang Shi dan berbincang singkat tentang detail rekaman episode keempat, He Xiao keluar dan naik taksi langsung menuju bandara.
Karena acara belum ditayangkan, nama He Xiao masih seperti dulu, tak terkenal, dan di dunia nyata pun tidak populer, jadi ia tidak perlu repot-repot seperti Zhang Ya atau Xiao Wangnian yang harus pakai masker dan kacamata hitam saat keluar rumah.
Menjelang pukul satu siang, He Xiao akhirnya mendarat.
Keluar dari Bandara Yanjing, ia menghirup dalam-dalam udara utara, aroma asap dan kabut polusi begitu kental!
Di pinggir jalan ia naik taksi, lalu menuju ke pusat kota.
Saat melewati showroom mobil, He Xiao sempat melirik ke dalam dari balik jendela, timbul keinginan kuat untuk membeli sesuatu.
Namun setelah dipikir-pikir, ia menahan diri; tugas utama sekarang adalah mencari tempat tinggal.
Taksi berhenti di depan asrama Xingyage.
Setelah membayar ongkos, He Xiao naik ke lantai atas sambil melirik jam tangan. Pada jam segini, Xu Yuan seharusnya sudah bangun.
Ia menempelkan telinga di pintu, memastikan ada suara di dalam dan tidak akan mengganggu istirahat Xu Yuan, barulah ia memasukkan kunci dan memutar kenop.
Hampir sebulan tak pulang, kamar tetap berantakan seperti biasa, lantai penuh botol minuman, di atas meja masih ada sisa makanan pesan antar.
Tentu saja, berbagai celana dalam wanita warna-warni pun tetap berserakan.
He Xiao mengintip ke kamar mandi, melihat ada satu set sikat gigi baru di meja rias, dua bungkus kondom bekas pakai di atas tutup kloset, dan dari kamar Xu Yuan terdengar suara perempuan yang samar. Jelas ada perempuan di sana.
Dasar pria penggoda, perangai Xu Yuan memang tak pernah berubah.
Kadang He Xiao merasa iri pada Xu Yuan; hidup tanpa beban, suka menggoda perempuan, setiap hari diisi dengan kisah cinta atau dalam perjalanan menuju kisah cinta, benar-benar hidup yang sulit ditiru orang lain.
He Xiao masuk ke kamarnya sendiri, tidak banyak berubah sejak ia pergi, tetap bersih rapi, artinya Xu Yuan tidak pernah masuk ke situ.
Semua perlengkapan sudah ditata rapi, barang-barang terkemas, di sudut ruangan ada koper besar yang sudah penuh sejak lama.
He Xiao memang sudah tak lagi bekerja di Xingyage, jadi tentu ia juga tidak akan terus menumpang di asrama itu. Barang-barangnya pun sudah dikemas sejak lama, hanya belum sempat diambil.
Sebelum rekaman "Suara Impian", ia bersama Lin Yun keliling negeri untuk tampil di berbagai acara, hampir setiap hari berpindah hotel, jadi tak ada masalah soal tempat tidur.
Kini, setelah rekaman selesai, akhirnya ia kembali ke Beijing. He Xiao berniat mengambil barang-barangnya di asrama, lalu mencari tempat tinggal baru.
Tak banyak barang yang ia bawa, hanya satu koper troli berisi pakaian musim semi dan musim panas, serta sebuah laptop tua.
Laptop itu sudah sangat usang, komponennya sudah menua, butuh lebih dari dua menit untuk menyala, dan setiap kali software keamanan muncul pasti bertuliskan "Anda mengalahkan satu persen pengguna di seluruh negeri".
Meski begitu, He Xiao tetap enggan membuangnya. Laptop itu sudah menemaninya sejak pertama kali tiba di Yanjing, menemaninya tidur di pinggir jalan dan bangku taman. Ada kenangan di sana.
"Tolol! He Xiao! Kapan kamu pulang?" Tiba-tiba suara keras terdengar di telinganya. He Xiao menoleh dan melihat Xu Yuan dengan rambut acak-acakan, hanya memakai celana pendek, jelas baru bangun tidur.
Orang ini benar-benar tidak peka, baru sadar sekarang kalau ada orang masuk rumah!
He Xiao tak bisa menahan diri menepuk jidat. Bagaimana bisa ia bertahan setahun tinggal satu atap dengan orang seperti ini? Jika diingat-ingat, ia merasa dirinya memang luar biasa.
"Baru aja, cuma mau ambil barang," jawab He Xiao malas sambil menunjuk koper di sudut ruangan.
Xu Yuan bersandar di dinding, memeluk pundaknya, "Saran gue, mending lo tinggal aja sama gue. Toh udah akrab sama Xingyage, Manajer Liu juga nggak bakal komplain." Ia diam sebentar, lalu bertanya, "Gimana rekamannya? Ketemu Kak Ya nggak?"
"Ketemu, tinggal tunggu aja tayang di TV." He Xiao menunduk mencari sesuatu di lantai, bertanya penasaran, "Ubi mana?"
"Tadi malam kabur," Xu Yuan mengorek-ngorek kuku.
"Apa?!" He Xiao sangat terkejut.
Kucing oranye besar Ubi itu kabur? Sialan, Xu Yuan!
Itu kan kucing gue!
"Tenang, jangan marah dulu. Dia ngerti jalan pulang, paling sebentar lagi juga balik. Bulan ini aja udah tiga kali kabur," Xu Yuan cepat-cepat menjelaskan, takut He Xiao marah.
Xu Yuan memang tidur siang, malamnya keluyuran, sepertinya memang bukan tipe yang cocok pelihara kucing. He Xiao pun berpikir, mungkin sebaiknya Ubi dibawa saja.
Bagaimanapun, itu kucing yang ia pungut dari jalanan, sudah memutuskan merawatnya, harus bertanggung jawab. Itu juga makhluk hidup.
"Meong~~~"
Baru saja terpikir begitu, suara kucing panjang terdengar dari luar pintu, disusul suara cakaran di pintu.
"Tuh kan, balik!" Xu Yuan dengan sigap membuka pintu, mengangkat kucing oranye besar seberat belasan kilo itu, menegur, "Dilarang keluyuran, tahu!"
Ubi mengangkat pantat bulatnya, ekor kecilnya bergoyang-goyang, wajahnya tampak bingung.
Tapi begitu melihat He Xiao, baru tampak sedikit ekspresi terkejut di wajahnya.
Ekspresi itu seolah berkata, "Siapa nih orang?" "Kok kayaknya kenal?" "Astaga, ini kan majikan gue!" "Dia masih hidup!"
Melihat Ubi baik-baik saja, He Xiao pun lega, lalu melanjutkan memeriksa barang bawaannya.
"Eh, udah nemu tempat tinggal belum?" Setelah menyerahkan kucing ke He Xiao, Xu Yuan menggaruk rambutnya yang acak-acakan.
"Belum, nanti keluar cari-cari," jawab He Xiao sambil memasukkan Ubi ke kandangnya.
Xu Yuan mengeluarkan ponsel, mencari-cari sesuatu, lalu menyodorkannya ke He Xiao, "Gue ada info tempat tinggal nih, coba cek. Bersih, rapi, harga juga oke."
Dari foto di ponsel, memang kelihatan bagus, full furnished, dua kamar satu ruang tamu. Hanya saja, sewanya cukup mahal, lebih dari enam ribu per bulan.
He Xiao agak ragu, "Beneran terpercaya?"
Mendengar itu, Xu Yuan menengok ke kamar, lalu mendekat dan berbisik, "Pasti aman. Waktu itu gue janjian sama seorang tante, dan si pemilik rumah ini temen baiknya. Gue dapet nomor teleponnya, dua bulan gue godain nggak berhasil, tapi rumahnya bener-bener bagus, gue udah pernah lihat."
"Jempolan, bro. Mantap," He Xiao mengacungkan jempol tanpa ekspresi, lalu mencatat nomor si pemilik rumah.
Setelah setengah jam beres-beres, barang dan kucing sudah siap.
He Xiao mengangkat koper besar dengan kandang kucing di atasnya, berpamitan pada Xu Yuan, lalu pergi.
Tak ada perasaan sedih berlebihan, toh bukan perpisahan selamanya. Sama-sama di Yanjing, kapan pun bisa kumpul lagi.
Di lantai satu, di tempat yang cukup sejuk, He Xiao mengeluarkan ponsel dan menekan nomor pemilik rumah yang baru saja ia dapatkan.
"......"