Bab Enam Puluh Enam: Rekor Rating Pemirsa Terpecahkan
Anggun! Memikat! Meski di antara mereka terhalang tirai, siluetnya masih tampak samar-samar.
“Siapa juga yang mandi pagi-pagi begini?” gumam He Xiao dalam hati. Zhang Xuran memang punya banyak kebiasaan aneh; pagi-pagi sudah mandi, tak pakai kain penggosok badan, dari bayangannya pun hanya sekadar berkeramas. Mandi seperti itu, menurut orang utara, sama saja belum mandi!
Bagi orang utara, mandi tanpa digosok seolah cuma main-main belaka. Hidup tanpa pernah digosok kain mandi rasanya belum lengkap; orang selatan takkan pernah paham nikmatnya mandi sambil menggosok badan sampai berbunyi krek-krek.
“Aku taruh makananmu di depan pintu, ya!” seru He Xiao, melirik bayangan Zhang Xuran yang sedang mendongak di bawah pancuran.
Zhang Xuran mengiyakan, sekalian mengeluh ia pulang terlalu lama, lalu berpesan agar pintu ditutup baik-baik saat pergi.
He Xiao mengangkat bahu, kemudian menujukkan jari tengahnya diam-diam pada siluet anggun di balik tirai, lalu berbalik dan pergi.
Sebenarnya, He Xiao tak punya perasaan apa-apa pada Zhang Xuran. Mereka baru kenal beberapa hari, belum sampai menumbuhkan rasa suka. Soal hasrat, jangankan bangkit, melihat samar-samar lewat tirai pun tak seheboh koleksi video di harddisknya.
Setiba di rumah, He Xiao langsung mengunci pintu. Semangkuk mi sapi itu sudah menggumpal. Ia yakin sebentar lagi, setelah Zhang Xuran selesai mandi, pasti akan marah besar.
Benar saja, belum sampai sepuluh menit, dari kamar sebelah terdengar umpatan. Bersamaan dengan itu, ponselnya berbunyi, ada pesan dari Zhang Xuran.
He Xiao kira isinya pasti omelan, ternyata malah notifikasi transfer uang.
[Si Galak, Pemilik Kos, mentransfer 500 yuan untukmu]
Ada juga pesan singkat: seumur hidup Zhang Xuran tak mau berhutang pada siapa pun. Itu uang makan semalam, tapi ia juga tak lupa urusan mi sapi yang jadi menggumpal; suatu saat akan dibalas.
He Xiao mengusap hidung. Mulut Zhang Xuran memang tajam, tapi orangnya baik juga; kemarin pagi bantu menyapu, malamnya ikut makan tapi juga membantu membereskan meja, pagi ini malah bayar uang makan.
Lima ratus itu jelas terlalu banyak. Semua bahan dia beli sendiri, masak hotpot rumahan, tak ada biaya servis restoran, total modal pun tak sampai dua ratus.
“Tak disangka, pemilik kos ternyata orang yang tahu aturan juga.” Kali ini He Xiao memang sedikit diuntungkan. Ia sempat ingin mengembalikan kelebihannya, tapi dipikir-pikir, itu terlalu formal. Toh keluarga Zhang Xuran kaya raya; dua unit apartemen saja sudah miliaran, takkan peduli uang dua-tiga ratus. Nanti saja, ia akan lebih sering mentraktir.
He Xiao meregangkan badan, lelah dan kembali ke kamar, menjatuhkan diri ke ranjang, membenamkan tubuh ke dalam selimut yang empuk. Saraf yang semalaman tegang perlahan mengendur, kantuk datang bergulung-gulung hingga ia pun tertidur.
Entah berapa lama berlalu, ponsel bergetar membangunkannya. Ia melirik layar, langsung terjaga.
“Halo, Pak Wang!”
“Halo He Xiao, pertama aku mau kasih kabar gembira. Episode ketiga ‘Suara Impian’ kita pecah rekor rating, bahkan naik 0,2% dari episode perdana.”
Suara sutradara Wang Shi sangat gembira di seberang sana.
Pagi tadi, data rating episode ketiga keluar: menembus 1,55%, pangsa pasar 4,41%, menduduki peringkat pertama jam tayang.
Hasil ini sungguh di luar dugaan semua orang. Tim produksi sempat terdiam sebelum akhirnya bersorak kegirangan.
Episode ketiga bisa melampaui rating episode perdana, itu kejadian langka.
Sutradara Wang Shi segera menganalisis, lonjakan rating kali ini jelas berkat He Xiao. Penampilan tiga lagu berkualitas tinggi, tantangan tiga kali yang belum pernah ada, serta netizen yang secara spontan menaikkan namanya ke puncak trending, semuanya jadi dasar kemenangan bersama antara tim produksi dan He Xiao.
“Oh iya, episode ketiga juga sudah tayang online, di beberapa situs video utama. Kalau kamu mau, bisa menonton.”
“Oke, nanti pasti kutonton. Selamat juga untuk Pak Wang, semoga ‘Suara Impian’ musim kedua, ketiga, dan seterusnya terus menanjak.”
He Xiao mengucapkan selamat pada Wang Shi, hatinya ikut gembira. Bagaimanapun, kepentingannya dan ‘Suara Impian’ sudah terikat; semakin populer acaranya, semakin besar pula keuntungannya.
Setelah itu Wang Shi membahas urusan utama. Sekarang acara sudah stabil, masa observasi pasar selesai, jadi sisa episode akan direkam berturut-turut. Stadion Lin’an sewa harian mahal sekali, tak mungkin rekaman ditunda berbulan-bulan.
Lagi pula, popularitas He Xiao sedang tinggi; ia jadi bintang tamu yang paling dinanti penonton. Wang Shi pun berencana menunda kemunculan He Xiao, memperbanyak porsi tayang, dan baru tampil di episode keenam.
Artinya, episode keempat dan kelima tanpa He Xiao. Namun, ia hanya mendapat jatah istirahat dua hari. Paling lambat, tiga hari lagi harus sudah tiba di Hangzhou.
Sekarang jadwal rekaman sangat padat, sehari satu episode. Besok dan lusa langsung rekaman episode keempat dan kelima.
He Xiao dipindahkan ke episode keenam, tapi tetap hanya punya dua hari libur, setelah itu berangkat ke Hangzhou.
Wang Shi menelepon hanya untuk mengingatkan, agar He Xiao mengatur jadwal dan tidak terlambat rekaman.
He Xiao sama sekali tak keberatan; selama di Beijing, ia nyaris bosan setengah mati, tenggorokannya pun sudah gatal ingin bernyanyi.
Ia sudah tak sabar naik panggung, tampil, dan menunjukkan kemampuannya.
Setelah saling bertukar basa-basi, He Xiao menutup telepon dan langsung mencari tiket pesawat ke Hangzhou.
Demi irit, ia memilih maskapai murah. Besok malam pukul 23 lebih, tiba sekitar jam dua dini hari, harganya cuma tiga ratus yuan.
Mendapat kabar dari Wang Shi, hatinya terasa punya tujuan. He Xiao merasa hidupnya yang seperti ikan asin, akhirnya akan segera berubah.
Keluar dari kamar tidur, ia melirik ke luar jendela. Langit sudah kian gelap, lampu-lampu mulai bermunculan, rupanya ia tidur seharian.
Duduk di balkon, menikmati semilir angin, He Xiao memeluk gitar, memikirkan lagu apa yang akan dibawakan di episode keenam, dan siapa mentor yang akan ia tantang.
Xu Tianheng, penyanyi kawakan, lagu-lagu bertema maskulinnya dulu sangat populer, baik dari segi pengalaman maupun kemampuan, ia jauh di atas para mentor lain.
Zhang Yagui, diva sejati, bakatnya luar biasa. Dulu meniti karier sebagai penyanyi idola, kini beralih ke jalur performa murni. Meski di antara mereka ada rasa saling menghargai, tapi jika benar-benar duel di atas panggung, Zhang Yagui pasti takkan menahan diri.
Keduanya guru besar di dunia musik, kemampuan teknik vokal sudah di tingkat dewa. Penantang amatir biasanya cuma cari mati.
Lalu ada Karol...
Penyanyi blasteran ini, walau riwayatnya mentereng, lulusan Berklee College of Music di Boston, tapi ia mengambil jurusan komposisi, kemampuan bernyanyinya setara An Miaoxuan.
Dipikir-pikir, hanya Karol yang bisa dibilang “sasaran empuk”. Walau komposisinya hebat, tapi itu hanya hasil karyanya sendiri; sementara He Xiao menguasai ribuan lagu dunia.
Lagu-lagu berbahasa Inggris yang lebih bagus dari ciptaan Karol, jumlahnya tak terhitung. Maka kini yang jadi masalah bagi He Xiao adalah... lagu mana yang paling tepat untuk ia bawakan?