Bab Lima Puluh Tiga: Kisruh Penyewaan Rumah
"Lantai 11, nomor 12."
He Xiao menengadah memandang gedung tinggi di dekat gerbang kompleks itu, dalam hati ia mengulang alamat tersebut. Tadi ia menelepon pemilik rumah dan inilah alamat yang diberikan untuk melihat unitnya.
Letaknya cukup strategis, sekitar dua kilometer dari asramanya yang lama.
Begitu masuk ke dalam gedung, lantai dasarnya terasa luas dan dekorasinya pun mewah. He Xiao merapikan pakaian sebelum naik lift ke atas.
Xu Yuan pernah memperingatkannya, pemilik rumah ini sudah ia coba dekati selama dua bulan tapi tetap tak mempan, orangnya juga berwatak kurang baik. Jadi He Xiao pun sudah menyiapkan mental—kalau tidak cocok dengan unitnya, sebaiknya jangan sampai menyinggung orang itu, lebih baik cepat-cepat kabur saja.
Dentang lift berbunyi. He Xiao berputar dua kali sebelum akhirnya menemukan pintu bernomor 1112.
Baru hendak mengetuk, di atas gagang pintu tiba-tiba menyala, muncul papan tombol kecil.
Ternyata menggunakan kunci sandi?
Baru pertama kali He Xiao melihat teknologi secanggih itu, spontan ia menempelkan jari dan menekan sebuah tombol.
Bip bip, dua suara kesalahan sandi terdengar. He Xiao hendak mencoba lagi, tiba-tiba terdengar suara klik, dan pintu didorong dari dalam.
"Mau lihat rumah?"
Suara perempuan menyapa, terdengar sedikit logat dari daerah Sichuan.
"Masuk saja."
Setelah membuka pintu, perempuan itu pun tidak memperhatikan He Xiao, langsung berbalik masuk ke dalam. Dari belakang tampak tubuhnya tinggi, mungkin lebih dari 170 sentimeter, mengenakan sweater hitam dan celana pendek gelap, kedua kakinya jenjang. Wajah sampingnya tak terlihat jelas, sebab bahkan di dalam rumah ia tetap mengenakan tudung sweater.
"Perlu ganti sandal?" He Xiao melirik rak sepatu, di sana ada dua pasang sandal sekali pakai.
"Tidak usah." Perempuan itu melambaikan tangan, lalu duduk di sofa dengan santai, kedua kakinya diangkat ke atas meja teh, sikap duduknya sungguh dominan.
Melihat itu, He Xiao hanya bisa mengelus dada.
Pemilik rumah macam apa ini?
Masa tidak mengajak melihat unitnya?
Tidak perlu pelayanan seperti restoran mewah, tapi jangan juga terlalu asal begini. He Xiao agak kesal, berniat pergi saja.
Baru saja ia berbalik, dari pintu masuk berjalan seorang pria kurus. Begitu melihat He Xiao, pria itu sempat tertegun, tapi segera tersenyum ramah, "Halo, Anda yang mau lihat rumah, kan?"
"Iya."
Mendengar jawaban itu, pria tersebut tampak gembira, lalu mengajak He Xiao berkeliling unit, memperkenalkan satu per satu keunggulan ruangan, dari cahaya matahari sampai akses transportasi, benar-benar seperti agen properti profesional.
"Jadi, siapa sebenarnya pemilik rumah ini?" Setelah penjelasan selesai, He Xiao melirik pria itu lalu ke arah perempuan di sofa, tak tahan bertanya.
Sebab saat menelepon, yang berbicara dengannya adalah perempuan itu, tapi begitu masuk, pria ini justru yang sangat antusias seolah pemiliknya.
"Dia." Pria itu buru-buru menunjuk ke arah sofa.
Saat itu, perempuan berhoodie itu akhirnya mengangkat kepala. Matanya terang, wajahnya tak bisa dibilang memukau, namun tetap di atas rata-rata, hanya saja tampak agak pucat, sambil mengunyah permen karet.
Ia menarik kakinya dari atas meja, duduk tegak, namun bicaranya tetap santai, "Mas, rumah ini baru saja selesai renovasi tahun ini, sebulan lima ribu, kalau cocok bayar dulu tiga bulan."
"Lima ribu? Bukannya enam ribu?" He Xiao ingat Xu Yuan pernah bilang sewa per bulan enam ribu, kenapa sekarang jadi lima ribu?
Ia jadi bingung, sebab di kota ini, pemilik rumah biasanya cenderung menaikkan harga, ini malah turun, baru kali ini ia menemui.
Perempuan itu mengerutkan dahi, "Ada satu pecundang yang ngotot mau sewa rumahku, aku suruh dia tidur di ruang tamu, dia bayar seribu, sisanya dua kamar buatmu. Kalau kamu terima, ya silakan, kalau tidak, ya sudah."
"Kak Ran, aku bukan pecundang!" Pria itu tiba-tiba berdiri, napasnya memburu.
"Siapa yang merasa, dia yang tahu. Berani-beraninya melawan aku? Kalau bukan aku, kamu pasti sudah mati kelaparan di luar!" Perempuan itu membentak, suaranya meninggi. "Dasar tolol, pergi belikan aku rokok sekarang juga!"
Pria itu terdiam lama, akhirnya menyerah, diam-diam melangkah keluar.
"Maaf ya, jadi malu." Setelah pria itu keluar, nada perempuan itu melunak. Ia melepas tudung, menatap He Xiao. "Namaku Zhang Xuran. Unit 1112 dan 1111 milikku. Yang ini untuk kalian, aku tinggal di 1111. Kalau ada apa-apa, bisa langsung cari aku."
"Kalau kamu cocok, kita tanda tangan kontrak. Lima ribu sebulan, dua kamar satu ruang tamu, apartemen mewah selesai renovasi. Soal pecundang tadi, mau suruh dia tidur di mana pun terserah kamu, urusan ruang tamu dan kamar mandi aku tidak ikut campur."
He Xiao akhirnya paham, ternyata rumah ini memang hanya bisa disewa bersama, pria itu bayar seribu, sisanya lima ribu harus ia tanggung sendiri, tapi dua kamar tidur jadi miliknya, pria itu hanya dapat ruang tamu.
Ia tidak tahu hubungan pria itu dengan pemilik rumah, juga tak mengerti apa yang terjadi dalam hidupnya sampai harus menyewa lantai ruang tamu seharga seribu, namun yang ia pikirkan hanyalah layak atau tidaknya rumah ini untuk disewa.
Apartemen baru renovasi seharga lima ribu di kota ini memang langka, apalagi lokasinya strategis, akses transportasi mudah.
Dari jendela, stasiun metro dan pusat perbelanjaan Wanda tampak jelas, He Xiao pun mulai tertarik.
Namun, meski tertarik, sistem sewa bersama seperti ini membuatnya agak ragu soal privasi.
Jadi, He Xiao menimbang, harga ini masih bisa ditawar.
"Lima ribu terlalu mahal, dua kamar juga tidak mungkin aku pakai semua. Kalau patungan, aku hanya bisa tiga ribu, kamar bagi dua."
Zhang Xuran menggeleng, "Tiga ribu tidak bisa, pecundang itu tidak punya uang sebanyak itu."
"Siapa bilang aku tidak punya!" Suara pria itu tiba-tiba terdengar dari pintu. Ia membawa sebungkus rokok, masuk dengan wajah kesal. "Aku bukan pecundang, aku juga tidak butuh dikasihani! Aku setuju, patungan dengan Mas ini, masing-masing tiga ribu!"
"Jangan omong kosong, hidup sendiri saja tak mampu, mau bayar sewa pakai apa?" Zhang Xuran memandangnya dingin. "Bilang bukan pecundang, istri sendiri saja tak bisa dijaga?"
"Itu urusanku, bukan urusanmu!" Pria itu marah, lalu masuk kamar, mengambil setumpuk uang kertas warna merah dan hijau, dilempar ke depan Zhang Xuran. "Tiga ribu! Ambil saja!"
Zhang Xuran kali ini terdiam lama. Akhirnya ia menoleh pada He Xiao. "Jadi, Mas, masih mau sewa?"
"Sewa!" He Xiao mengangguk. Unit ini luasnya lebih dari seratus meter persegi, baru selesai renovasi, lokasi bagus, dekat dengan pusat bisnis. Tiga ribu rasanya sangat pantas, bahkan enam ribu pun masih layak.
Saat ini ia belum benar-benar sukses, tabungannya baru sekitar tujuh puluh juta, setelah alokasi beli rumah untuk keluarga, ia masih ingin membeli mobil. Dengan hitungan itu, keuangannya pas-pasan, hemat harus jadi prinsip.
Sewa bersama pun tak masalah, apalagi nanti setelah debut, ia akan sering bepergian, jarang tinggal di rumah, hari-hari di rumah bisa dihitung jari.
Menyewa rumah ini, tujuannya sederhana, agar setelah lelah berkeliling, suatu hari pulang ke kota, ia masih punya tempat untuk beristirahat.