Langit terbelah, sebuah pertempuran sengit bagaikan jurang maut.
Rambut panjangnya berkibar, Ye Chen menyipitkan mata menatap sesosok raksasa di hadapannya. Wajahnya yang biasanya acuh tak acuh kini menunjukkan keseriusan yang jarang terlihat.
Rambut hitam tergerai di pundak, sepasang tanduk melengkung, kumis menyerupai sungut naga menghiasi bibirnya, serta tato sisik yang tampak begitu hidup di lengan kirinya.
Bagian atas tubuhnya telanjang, mengenakan jubah ungu di pinggang, serta celana hijau tua berukuran longgar. Sebuah tali shimenawa melilit di pinggangnya. Tubuhnya yang kokoh dan berotot dipenuhi dengan berbagai bekas luka. Dibandingkan dengan pria itu, Ye Chen tampak seperti seorang anak kecil, karena tubuh lawannya bahkan lebih tinggi empat kali lipat lebih.
Tubuh kurus Ye Chen jika disandingkan bagaikan sebatang lidi, sama sekali tidak sebanding. Makhluk ini sama sekali bukan manusia, melainkan sesosok dewa iblis yang melangkah keluar dari jurang maut.
Hanya dengan berdiri di hadapannya, sosok itu sudah memancarkan aura sebesar gunung. Orang biasa mungkin akan mati ketakutan di tempat jika berada di posisi ini.
"Aku pernah melihat beritamu, kau adalah bajingan kecil lain dari Angkatan Laut," ucap Kaido lebih dulu dengan suara menggelegar bak naga ganas. Ia menepuk kepalanya seolah sedang mengingat-ingat, lalu menatap Ye Chen dengan sepasang mata penuh damba.
"Bisakah kau membunuhku?"
Bulu kuduk merinding. Tanpa peringatan apa pun, sebuah lengan kekar bak pilar langit melesat menghasilkan gelombang kejut, menghantam kepala Ye Chen secepat kilat.
Tanpa perlu kata-kata, langsung bertindak—itulah arogansi Kaido. Sekalipun Ye Chen adalah seorang Laksamana Angkatan Laut, di matanya ia hanyalah seekor semut yang bisa disingkirkan kapan saja, dan ia sama sekali tidak peduli.
Mengepalkan tangan dengan Haki Busoshoku yang meluap-luap, sudut bibir Ye Chen terangkat. Darah di seluruh tubuhnya berdesir dalam sekejap, membangkitkan semangat juang luar biasa yang menyelimuti seluruh jiwanya.
Lengan sebesar tiang rumah beradu dengan lengan sebesar sumpah. Bagai petir di siang bolong, gelombang kejut menjelma menjadi lingkaran cahaya yang meledak ke samping, menciptakan suara dentuman bertubi-tubi.
Kekuatan kolosal itu bagaikan langit yang runtuh, membuat Ye Chen mengerutkan kening. Ruang di bawah kakinya langsung hampa, memicu ledakan demi ledakan sebelum akhirnya ia terdorong mundur sejauh lebih dari sepuluh meter untuk menghentikan lajunya.
Sementara lawannya hanya mundur satu langkah, mata raksasa sebesar lonceng perunggu itu menyiratkan keterkejutan.
Mengibaskan lengannya yang terasa agak kebas, tatapan Ye Chen justru semakin bersinar terang. Ini adalah sebuah batu asahan, batu asahan yang tidak rata, dan ia menginginkannya.
Penuh ketamakan, Ye Chen menatap Kaido tanpa ditutupi. Untuk pertama kalinya, semangat juangnya berkobar begitu membara.
Merasa tidak nyaman, Kaido mendelik tajam. Pandangan Ye Chen membuatnya kesal, dan ia berniat menghancurkan semut ini sampai mati.
"Bum..."
Aura beringas membangkitkan badai topan yang mengaburkan langit seketika. Petir merah gelap menyambar turun, dan kehendak kejam bagaikan binatang buas prasejarah menekan ke arah Ye Chen dari segala penjuru.
Aura megah, penguasa tunggal yang dipenuhi kekejaman. Kehendak semacam ini hanya memuat kekerasan, dominasi, dan penghancuran mutlak, serta memandang rendah segalanya.
Rambut panjangnya berkibar, pundaknya terasa berat. Merasakan kehendak bagaikan gunung itu, Ye Chen mengatupkan bibirnya tanpa menunjukkan sedikit pun gentar.
Bayangan hitam lenyap. Ye Chen mengambil inisiatif menyerang lebih dulu, muncul di sisi Kaido dengan lutut terlapis warna hitam legam yang langsung menghujam ke atas.
"Bum..."
Sebuah hantaman lutut yang serupa, bagaikan meteor yang menghasilkan suara ledakan memekakkan telinga, beradu secara langsung.
"Bum-krak-krak... Bum-larr-barm..."
Langit yang tadinya mengamuk mulai membentuk lubang hitam layaknya jam pasir, memutarbalikkan seluruh lapisan awan bagaikan bencana akhir dunia yang mengalir deras.
Kehendak yang sama-sama mampu meruntuhkan langit dan bumi terpancar dari tubuh Ye Chen, berbenturan hebat dengan kehendak Kaido.
Tubuh dan kehendak saling mendesak dari sisi keduanya. Langit yang berbentuk jam pasir itu merobek, meninggalkan sebuah jurang pemisah yang melintang di seluruh cakrawala.
Badai mengamuk, petir merah gelap menderu, dan lautan di bawah mengombak hebat, menciptakan gelombang dahsyat yang menyapu ke segala arah tanpa ampun.
Berpusat pada mereka berdua, segala sesuatu di sekitarnya berubah menjadi jurang kehancuran.
Di ujung langit, Xiao Huo yang tengah terbang mendekat tiba-tiba menghentikan lajunya, terhuyung-huyung dengan tubuh yang gemetar tak henti-henti.
Bahkan Bai Doudou saat ini pun memasang ekspresi serius, mengamati pemandangan perubahan cuaca ekstrem di cakrawala dengan pandangan tajam.
"Lan... langitnya robek..."
Sementara Caesar tampak kehilangan seluruh warganya; tubuhnya lemas seketika dengan rona wajah penuh ketakutan.
Pada saat bersamaan, tiupan badai yang kencang nyaris menerbangkan manusia, kelinci, dan naga tersebut.
"Bos, sebaiknya kita jangan ke sana." Melihat langit yang terbelah menjadi dua serta sambaran petir yang mengamuk, Caesar sangat ingin segera kabur dari tempat itu.
"Tidak punya nyali," lirik Bai Doudou sekilas, membuang sifat jenakanya untuk sementara.
"Aku ingin pergi memeriksanya. Kalian tunggu di sini, Xiao Huo, awasi dia."
Khawatir pada Ye Chen, Bai Doudou meninggalkan pesan singkat, lalu melompat turun dari punggung Xiao Huo dan melesat terbang menuju badai yang mengaduk-ngaduk cakrawala.
Melihat Bai Doudou pergi, Caesar perlahan-lahan mulai tenang dan mulai memikirkan hal lain.
Namun, begitu melihat kilatan di cakrawala, hatinya yang bimbang langsung terasa ciut. Ia memang bisa melarikan diri sekarang, tetapi bagaimana jika orang-orang ini tidak mati? Jika kelak ia tertangkap basah... maka...
Ia mulai ragu. Yang terpenting, ia teringat akan semua perkataan Ye Chen di penjara.
Kini dirinya telah menjadi seorang buronan kriminal, maka tidak ada salahnya mempercayai orang itu sekali ini. Jika itu benar, maka ia tidak hanya dapat melanjutkan penelitiannya, tetapi juga tidak perlu pusing memikirkan masalah pendanaan.
"Vegapunk, catat perkataanku ini." Demi melampaui Vegapunk, Caesar mengatupkan giginya dan memutuskan untuk berjudi.
Bagaimanapun juga, dalam situasi seperti ini, pilihan itulah yang terbaik. Ia memang bisa lari, tetapi jika sudah diincar oleh seorang Laksamana Angkatan Laut, hidupnya tidak akan tenang.
Jika seorang Laksamana benar-benar berniat memburunya, di mana pun ia bersembunyi, ia akan selalu hidup dalam kecemasan.
Daripada hidup bersembunyi bagaikan tikus got, lebih baik ia tampil secara terang-terangan dan melanjutkan penelitiannya.
Lagi pula, seorang pemilik Haoshoku Haki tidak mungkin mempermainkannya dengan kebohongan murahan.
Memikirkan hal itu, gejolak di hati Caesar mulai mereda.
"Haoshoku Haki." Di saat yang sama, di pusat badai, Kaido menatap Ye Chen dengan sedikit keheranan. Ia tidak menyangka di Angkatan Laut selain si tua Garp, ternyata masih ada pria lain yang menguasai Haoshoku Haki.
Tanpa menjawab, Ye Chen langsung membuktikan ucapannya melalui tindakan. Memutar tubuhnya yang terbalut Busoshoku Haki hingga menghasilkan suara dengung di telinga, ia mengayunkan sikunya menghantam dada bidang Kaido secara langsung.
Bagai memindahkan gunung dan mengisi lautan, lengan kekar Kaido terbentang di depan dada untuk menahan serangan itu, memercikan bunga api di antara keduanya.
"Monyet tengil itu berlari terlalu cepat. Hari ini aku akan menjadikanmu sasaran, sebelum nanti pergi bersenang-senang ke markas Angkatan Laut."
Sekalipun Ye Chen memiliki Haoshoku Haki, Kaido tetap bersikap angkuh dengan suara yang dipenuhi nada meremehkan.
Monyet tengil yang dimaksud tidak sulit ditebak, pastilah merujuk pada Kizaru. Ye Chen tetap bergeming tanpa membalas ucapan itu, dan kembali melancarkan serangan.
Melompat ke atas kepala Kaido, kaki kanannya menekan turun dengan kekuatan bagaikan gunung raksasa.
Aura meledak dahsyat. Tinjunya yang berubah menjadi hitam legam akibat Busoshoku Haki menonjok lurus ke depan, berbenturan hebat dengan kaki kanan Ye Chen.
Diiringi dentuman keras, Ye Chen terpelanting ke udara sementara Kaido terhempas jatuh ke bawah dengan cepat, membuat lautan yang mengamuk semakin bergolak menciptakan gelombang besar.
Berdiri di udara, Ye Chen mengibaskan kaki kanannya yang terasa agak kebas. Di permukaan laut, Kaido melesat terbang kembali ke atas tanpa menunjukkan tanda-tanda terluka.
Tanpa sepatah kata pun, keduanya kembali berkelebat bagaikan meteor, memicu badai angin yang menghubungkan laut dan langit, lalu saling berbenturan secara langsung.
Angin dan awan berguncang hebat. Sesosok tubuh besar dan bertubuh ramping bagaikan monster buas, setiap hantaman tinju dan tendangan mereka mampu menghancurkan baja dan membelah batu, menghasilkan daya rusak yang tak tertandingi.