Anggur Beracun
Raja Cheng menggerakkan tangannya sedikit, dua pengawal segera muncul dari kedua sisi perahu hias dan langsung menyeret keluar Qin Yu yang panik. Chun Lai menatap Raja Cheng dengan wajah tegang, matanya waspada meneliti ke sekeliling.
"Nona Keempat tak perlu cemas, aku hanya menyingkirkan orang-orang yang berpotensi merusak suasana kita. Aku rasa Nona Keempat pun tak ingin duduk bersama Nona Luo," ujar Raja Cheng dengan senyum lembut yang menghiasi wajah tampannya.
Moktai Jingrong dengan tenang mengangkat cangkir araknya, sementara Chun Lai menggigit bibirnya dan memanggil panik, "Nona..."
Tanpa menoleh, Moktai Jingrong menenggak habis arak dalam cangkirnya. Apakah arak itu mengandung racun atau tidak, hanya dia yang tahu.
Chun Lai menatap tanpa berkedip, seluruh tubuhnya menegang.
Mata Raja Cheng menyipit sedikit, sudut bibirnya terangkat. "Nona Keempat tidak takut kalau aku menaruh racun dalam araknya?"
Moktai Jingrong seolah tak mendengar, ia menuang lagi arak ke dalam cangkirnya sendiri dengan tenang, anggun dan tanpa tergesa.
Raja Cheng tersenyum santai, lalu berdiri tiba-tiba. "Paman Kaisar memang lelaki rupawan nomor satu, tapi wataknya kejam. Berapa lama kau kira bisa bertahan hidup? Pikirkan baik-baik berapa lama kepalamu bisa tetap utuh. Tentu saja, itu tergantung jalan mana yang kau pilih."
Moktai Jingrong tersenyum tipis. "Raja Cheng bersusah payah 'mengundangku' ke sini, untuk tujuan apa tak langsung katakan saja? Aku tidak pandai menebak maksud yang berbelit-belit."
"Sejak kembali ke Huai Jing, Nona Keempat tampaknya benar-benar berbeda!" Suara jernih terdengar dari balik tirai, lalu muncullah seorang pemuda berbaju biru tua.
Mata musang yang khas—pandangan yang sulit diantisipasi, selalu bisa menangkap sesuatu yang membuat orang sulit menebak isi hatinya. Seperti saat ini, melalui matanya, Moktai Jingrong seakan melihat dirinya sendiri, sisi lain yang telah lama tersembunyi.
Chun Lai spontan berdiri di depan Moktai Jingrong, bersikap waspada seperti induk ayam melindungi anaknya dari pemuda bermata musang itu.
"Eh, pelayan kecil ini benar-benar kurang ajar. Lihat saja caramu menatapku, orang lain bisa saja mengira kau terpikat padaku," goda pemuda itu, membuat tubuh Chun Lai semakin kaku.
"Chun Lai, mundurlah," perintah Moktai Jingrong tanpa senyum.
Chun Lai melirik orang-orang di atas perahu. Jelas mereka semua begitu berkuasa, sementara ia dan Nona hanyalah dua perempuan yang tak berdaya. Jika mereka ingin berbuat sesuatu, semudah membalik telapak tangan. Setelah memastikan, barulah Chun Lai perlahan mundur.
"Tuan Musang sudah lama bersembunyi di belakang perahu, pasti haus juga. Jingrong ingin menghormati Tuan Shen dengan segelas arak!" Moktai Jingrong menuang arak ke cangkir kosong, mendorongnya perlahan ke samping, lalu mengangkat cangkir miliknya sebagai tanda penghormatan.
Shen Hu tertegun sejenak, lalu tersenyum dan melangkah maju.
"Nona Keempat Moktai benar-benar berubah. Kalau bukan karena wajah yang sama, aku mungkin sudah curiga," ucapnya, kalimat yang samar namun jelas menyiratkan keraguan—seolah ia menduga Moktai Jingrong bukanlah Moktai Jingrong yang dulu.
Mendengar itu, Moktai Jingrong tetap tenang. Meski mereka menyelidiki, mereka takkan menemukan apa-apa. Kisah jiwa menumpang raga seperti ini, siapa yang akan percaya? Dan perubahan dirinya, tak ada dasar kuat untuk dicurigai.
"Setahun menekuni pertapaan, tentu saja ada perubahan. Tapi selain itu, Jingrong tetap sama, hanya mungkin keluarga yang cemas," sahut Moktai Jingrong sambil tersenyum tipis, mengangkat cangkirnya dan menenggak habis.
Shen Hu memperhatikan dengan mata menyipit saat Moktai Jingrong menghabiskan araknya, baru kemudian ia merasa tenang untuk menenggak araknya sendiri.
Namun sesaat kemudian, senyum di wajah Shen Hu perlahan mengeras.
Moktai Jingrong tersenyum menawan, meletakkan cangkir kosong, menatap perubahan ekspresi Shen Hu yang mulai kaku, lalu bertanya, "Ada apa, Tuan Shen?"