Bab Enam Belas: Angin dan Hujan yang Akan Datang (Bagian Satu)
Halaman (1/3)
Hujan semakin deras, sedemikian lebatnya hingga hanya terjadi sekali dalam sepuluh tahun.
Namun, orang-orang di dalam Bunga Dinding tidak akan mendengar suara hujan. Keriuhan, keremangan, dan alkohol telah menutupi segala sesuatu di luar sana.
Tak peduli angin dan hujan, hawa dingin, ataupun orang-orang yang datang dengan niat buruk.
Gelas-gelas minuman berserakan. Meja bar kayu itu sudah lama meresapkan alkohol hingga mengeluarkan aroma fermentasi yang sulit dilukiskan.
Grian berdiri di sisi Claudia, memeluk gelas minumannya. Ia menenggak alkohol dengan lesu, berpura-pura bersemangat, sambil bermain dadu.
Basa-basi tak berarti telah berlangsung hampir sepuluh menit, dan selama itu pula pikirannya terus menegang.
Ia harus menyiratkan bahwa “Claudia sangat memedulikan Gigi Hitam”, tetapi juga perlu menyeimbangkan kebohongan dan kenyataan. Seperti barusan, ia hanya bisa berkata bahwa “Claudia pernah menyebut Gigi Hitam sekali”, bukan berkali-kali.
Tak ada rumor yang muncul tanpa alasan. Gesekan antara Claudia dan Gigi Hitam tidak mungkin lebih lemah daripada yang dikabarkan—bahkan mungkin lebih sengit.
Dengan pertimbangan itu, jika ia berkata kepada Gigi Hitam, “Claudia sering membicarakan Anda,” pujian tersebut akan terdengar terlalu kentara, bahkan sedikit menyindir. Mengingat watak Gigi Hitam menurut rumor yang beredar, pria itu pasti akan mencari kesempatan untuk memberinya pelajaran.
Aduh… mengantuk sekali…
Minuman adas yang menyerupai absinthe ini sama sekali tak terasa khasiatnya, padahal katanya bisa menyegarkan pikiran.
Tidak seperti brendi apel.
Guruh menggelegar.
Kilat membelah langit. Cahaya putih menyambar wajah setiap pelanggan bar, menyingkap tatapan Gigi Hitam yang tanpa belas kasihan sedang mengamati Grian.
“Wah, tampaknya hujan malam ini akan sangat deras,” kata Gigi Hitam.
Ia memberi kesan munafik dan buruk. Berbeda dengan ular hitam yang mengintai di dalam rimba, ia lebih mirip teritip yang merusak lambung kapal.
“Mungkin juga akan turun hujan es. Bagaimanapun, sekarang sudah akhir Oktober,” ujar Grian. “Untung letak Bunga Dinding cukup baik. Setiap kali hujan deras, air tidak akan meluap masuk.”
“Selain lokasinya yang bagus, saluran pembuangan yang cukup lebar juga merupakan alasan penting. Bahkan kereta kuda bisa melintas di dalamnya.”
Mungkin karena sepuluh menit pertama percakapan mereka terlalu kaku dan penuh basa-basi, Grian tidak langsung memahami maksud Gigi Hitam.
Apakah pria itu sedang menggunakan saluran pembuangan dan kereta kuda sebagai kiasan?
Claudia, yang telah mengalami berbagai macam situasi, menangkap maksudnya dengan sangat jelas.
Ia tahu kalimat mana yang mengandung sindiran dan mana yang sekadar uraian biasa.
“Memang begitu,” katanya sambil tersenyum kepada Gigi Hitam. “Kalau tidak salah, saluran pembuangan di kawasan ini dibangun dengan dana dari Katedral Köln. Mengenai bagian di atas tanah, aku kurang tahu. Namun, kurasa gedung Bunga Dinding ini pasti dirancang oleh seorang arsitek. Kalau tidak, bagaimana mungkin bentuknya begitu khas?”
Mendengar ucapan Claudia, bayangan tentang rupa Bunga Dinding muncul di benak Grian.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Bunga Dinding berdiri sunyi di tengah hujan, menjadi penunjuk arah bagi manusia dan benda-benda yang bergegas melintas.
Gang-gangnya berkelok. Dinding luarnya dilapisi batu bata kelabu bertekstur sedikit cekung, menyerupai pola petir yang lembut. Bangunan kuno nan anggun itu tampak begitu asing di kawasan kota bawah. Bahkan ketika dipantulkan oleh cahaya hujan badai, setiap sudutnya tetap menampilkan cita rasa seni yang luar biasa, seolah berkisah tentang tahun-tahun yang telah berlalu.
Andai saja angka “dua puluh tiga” yang mengganggu di depan pintu itu tidak ada, tentu akan lebih baik.
Grian melirik ke luar, tetapi jaraknya terlalu jauh. Ia tidak dapat melihat apa yang sedang dilakukan orang-orang bersepatu bot berujung baja itu.
Semakin lama waktu berlalu, semakin kuat pula rasa gelisahnya. Frekuensi kedipan matanya meningkat tanpa sadar. Bibirnya terkatup rapat, seakan-akan ia bisa menggigit kecemasan yang melaju kencang.
Malam hari, kedatangan mendadak, Departemen Operasi Khusus…
Dalam ingatannya, Departemen Operasi Khusus hanya akan bergerak setelah memastikan kebenaran suatu informasi.
Jika malam ini hanya Gigi Hitam yang datang, masih masuk akal untuk menganggapnya sebagai tindakan pribadi.
Namun, setidaknya ada empat atau lima orang berdiri di luar jendela.
Bulan lalu, ketika menghadapi satu iblis hasil eksperimen yang melarikan diri, “Dua Puluh Tiga” hanya mengerahkan dua orang “Perekonstruksi”. Bahkan kabarnya, makhluk hasil eksperimen itu cukup tangguh.
Sebenarnya, apa yang dimiliki Bunga Dinding hingga mereka mengerahkan begitu banyak orang?
Claudia?
Perempuan itu memang menyimpan banyak hal di balik penampilannya.
Tunggu. Orang-orang itu sekarang… benar-benar masih berada di luar?
Grian ingat bahwa Bunga Dinding memiliki satu pintu masuk lain, tetapi ia tidak tahu letaknya.
Mungkinkah rencana “Dua Puluh Tiga” adalah membiarkan Gigi Hitam menahan Claudia, sementara yang lain masuk dari pintu berbeda dan menyerang Claudia saat ia lengah?
Nanti ia harus mencari cara untuk berbicara empat mata dengan Claudia.
“Oh, ya.” Pipi Gigi Hitam memerah karena alkohol, dan sorot matanya tampak sayu. “Bos, pernahkah kau mendengar bahwa akhir-akhir ini Balai Kepolisian Köln begitu sibuk sampai kewalahan? Para pecundang itu bahkan tak punya waktu untuk berlibur.”
Claudia merenung selama beberapa detik, lalu tersenyum. “Aku pernah mendengar sedikit. Apa yang terjadi? Ceritakan.”
Akhirnya mereka sampai pada pokok pembicaraan.
Jika Gigi Hitam terus bertele-tele, Grian mulai curiga bahwa dirinya sedang mengalami “mimpi buruk kecerdasan emosional”—ia baru bisa terbangun setelah mengucapkan hal-hal yang sesuai dengan keinginan lawan bicaranya.
Rasa kantuknya lenyap. Ia meminta segelas air putih, lalu menenggaknya sampai habis. Air itu mengalir melewati tenggorokannya menuju lambung, sementara ia menunggu kelanjutan ucapan Gigi Hitam.
“Mendekatlah sedikit.”
Gigi Hitam membungkukkan tubuh, mendekatkan diri ke telinga Claudia. Ia berpura-pura membisikkan sesuatu secara rahasia, padahal mengucapkannya dengan suara sangat keras:
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Emas.”
Suaranya begitu keras sehingga orang paling bodoh sekalipun akan tahu bahwa Gigi Hitam pura-pura berbicara kepada Claudia, padahal sebenarnya ingin agar Grian mendengarnya.
Grian berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. Ia menundukkan kepala dan melanjutkan minumnya, berniat mengamati tindakan Claudia terlebih dahulu.
Pikirannya terus mengulang pengalaman ketika menyelidiki penyelundupan emas di masa lalu. Ia tidak ingat pernah berurusan dengan orang-orang dari Katedral Köln dalam penyelidikan itu.
Kecuali “Dua Puluh Tiga” memiliki kemampuan para “Perekonstruksi” untuk melacak keberadaannya.
Malam ini benar-benar malam yang tidak menyenangkan.
“Melihat reaksi Bos, sepertinya kau pernah mendengar tentang masalah ini.”
“Pasti pernah.”
Wajah Claudia tidak menunjukkan perubahan sedikit pun. Sikapnya tetap santai dan bebas. “Aku bahkan pernah menerima tugas untuk menyelidiki ‘penyelundupan emas’, tetapi kutolak.”
“Diterbitkan oleh Balai Kepolisian Köln?”
“Kalau soal itu aku tidak tahu. Kau juga tahu, banyak tugas yang kuterima sudah berpindah tangan entah berapa kali sebelum sampai kepadaku.”
“Benar juga. Namun, aku cukup terkejut karena kau menolak tugas ini. Bos, kalau tidak salah, semboyanmu adalah, ‘Apa pun pekerjaannya, selama ada bayaran, kerjakan saja.’”
“Itu semboyan masa lalu. Manusia akan selalu tumbuh. Pemuda nekat yang penuh keberanian… seiring waktu berlalu, akan berubah menjadi ahli siasat tua yang licik.”
Melihat pembicaraan mereka semakin mendalam, Claudia bangkit dan berjalan ke tengah-tengah dua tokoh lama yang paling berpengaruh di Bunga Dinding. Ia merangkul keduanya sambil berkata dengan nada ringan,
“Karena pembicaraan kita sudah sampai sejauh ini, bagaimana kalau kita pindah ke tempat yang lebih tersembunyi? Sekalipun berbicara dengan suara paling pelan di sini, kita tetap akan mengganggu kesenangan pelanggan lain. Kebetulan, di ruang tamuku masih ada beberapa botol minuman berkualitas. Mari kita ke sana dan berbicara sambil minum.”
Gigi Hitam segera menyetujuinya.
Grian pun mengangguk dan mengikuti Claudia menuju tangga.
Ia sangat ingin menoleh untuk memeriksa apakah para anggota “Dua Puluh Tiga” masih berada di luar. Namun, jika ia menoleh sekarang, tindakannya akan tampak terlalu disengaja. Gigi Hitam sedang mengamatinya.
Ia hanya bisa mengambil langkah demi langkah, pikirnya.
Ia mengusap kelopak matanya yang mulai terkulai. Saat membuka mata kembali, tiba-tiba ia melihat Gigi Hitam sedang menatapnya melewati tubuh Claudia.
Dengan sorot mata yang bersemangat sekaligus penuh kegembiraan.
Hah???
Halaman (3/3)