Bab Dua Puluh Tujuh: Aku Pernah Melihatnya
Seseorang berlumuran lubang darah, tubuhnya membengkak, keempat anggota geraknya kaku dan tertekuk secara tidak wajar, sementara bagian persendiannya berkedut sesaat.
Belum mati, tetapi hampir mati.
"Anek buah 'Dua Puluh Tiga' yang malang."
Grian sangat merindukan musik perkusi barusan. Jika ada musik perkusi yang mengiringi, suasananya pasti akan jauh lebih menyenangkan.
Sayangnya, saat anggota "Dua Puluh Tiga" itu melangkah masuk dengan aksen distrik bawah standar, musik perkusi tersebut langsung berhenti.
Sungguh aneh, bartender mencabut senjatanya tidak membuat musik berhenti, pistol revolver yang meledak di tangan juga tidak berpengaruh apa-apa, tetapi seorang anggota "Dua Puluh Tiga" justru tampak seperti bom yang menghentikan semua pekerjaan para pegawai di dalam kedai.
Bukan hanya itu, mereka bahkan berkerumun di balik bar, dengan antusias menonton Grian membunuh, bahkan ada yang membuka sebotol bir untuk merayakannya.
Meskipun sumbat botolnya baru saja terlepas, pembantaian sepihak itu sudah berakhir.
Situasi macam apa ini?
Begitu mendalamkah kebencian kalian terhadap "Dua Puluh Tiga"? batin Grian dalam hati.
"Menurut Anda, mungkinkah malam ini terjadi Malam Bunga Dinding yang ketiga?"
Menginjak tubuh yang setengah mati itu, Grian bertanya kepada bartender yang bermata kosong di belakangnya.
Sepuluh detik, dihitung sejak orang di bawah kakinya mendorong pintu dan masuk, sepuluh detik, bahkan sebelum jeritan sempat keluar, pita suaranya langsung terputus oleh bilah pisau terbang yang meluncur deras, membuat anggota departemen operasi khusus Katedral Cologne itu tersungkur ke tanah.
Semuanya begitu cepat, jauh lebih cepat daripada menyembelih seekor ayam.
Grian memindahkan kaki kirinya, tumit sepatunya yang tidak begitu tinggi menginjak-injak leher anggota "Dua Puluh Tiga" tersebut. Menginjak leher seseorang memberinya kesenangan yang luar biasa, terutama saat orang di bawah kakinya berjuang karena kesulitan bernapas.
Apakah akan membiarkan si malang bernapas sedikit lebih lama atau langsung membunuhnya, semuanya berada dalam satu pikiran darinya.
Laporan apa pun, penyegelan apa pun, tidak peduli dari mana asal mereka, berani datang seorang diri, maka seseorang harus siap menghadapi musuh bebuyutan.
Kata-kata ini tidak hanya ditujukan kepada anggota "Dua Puluh Tiga" di bawah kakinya, tetapi juga sebagai bentuk pengingat diri bagi Grian sendiri.
Bartender itu sangat lemah, tetapi itu tidak berarti dirinya bisa keluar tanpa cedera di masa depan.
"Kawan, kenapa berhenti bicara?"
Setelah sekian lama tidak mendapatkan jawaban dari bartender, Grian menoleh dengan bingung.
Penglihatannya telah pulih normal, saat anggota "Dua Puluh Tiga" itu terjatuh ke tanah, sudut pandang mata ikan langsung menghilang.
Ia menatap bartender yang berdiri di depan bar, mengabaikan para penonton di sekitarnya, dengan mata penuh kebingungan, lalu bertanya sekali lagi:
"Tidakkah Anda berpikir bahwa malam ini akan ada Malam Bunga Dinding yang ketiga?"
"Aku akan segera memberitahu Anda rute menuju alamat itu."
Seolah tidak mendengar kata-kata Grian, bartender itu menelan ludah, hatinya merasa gelisah.
Kedai yang tergolong cukup bagus di kawasan industri ini bukanlah miliknya. Saat ia baru tiba di distrik bawah Cologne, kedai ini sudah berdiri di sana.
Mengenai bagaimana ia bisa menjadi pemilik kedai, ia percaya itu ada hubungannya dengan iblis.
Kekasihnya, Mei, telah membuat permohonan kepada iblis, yang membuatnya naik pangkat selangkah demi selangkah, dan membuatnya mendapatkan kedai ini setahun yang lalu, menjadi tokoh yang cukup sukses di kawasan industri.
Mungkin perubahan status itu terjadi terlalu cepat, begitu cepat hingga tertinggal jauh di belakang akal sehatnya, sehingga pada saat-saat tertentu ia membuat keputusan yang tidak sesuai dengan statusnya.
Misalnya kemampuan untuk membaca situasi.
Dalam keadaan normal, ia seharusnya menghentikan Grian sejak pertama kalinya Grian menangkis peluru, alih-alih membuat keributan hingga sekarang, dan baru benar-benar menyerah setelah melihat Grian dengan mudahnya menghabisi orang dari pihak berwenang.
Apakah aku masih bisa mendapatkan pengampunan? pikir sang bartender.
Mungkin bisa, ia masih membutuhkaniku untuk menunjukkan jalan, tempat di alamat itu tidak mudah dijangkau. Tapi orang-orang yang bersorak di belakangku ini juga tahu jalannya, ah.
"Yang benar saja, di mana harga dirimu?"
Grian tertawa terbahak-bahak dengan tangan bersidekap di dada.
Ia memahami ucapan dan tindakan sang bartender; tidak punya urat malu, bisa membungkuk dan tegak kembali. Banyak orang distrik bawah yang memiliki ciri khas ini, termasuk dirinya sendiri.
"Jika aku tahu tidak bisa mengalahkanmu, tentu saja aku tidak akan melanjutkan perkelahian ini. Aku masih ingin hidup." Bartender itu menarik sudut mulutnya dengan canggung, pandangannya mengelak, "Aku akan segera menunjukkan jalannya untuk Anda."
"Baiklah, pimpin jalannya."
Grian mengusap kepalanya, bersandar di dinding, mencabut pedang hias yang menempel di dinding, lalu mengibaskannya beberapa kali.
Harus diakui, dekorasi kedai ini cukup bagus.
Terutama senjata hias di dinding, meskipun saat ini tampak suram dan tak bercahaya, begitu malam tiba, di bawah cahaya lampu gas, benda itu pasti akan menjadi eksistensi paling mencolok di dalam kedai.
Satu-satunya kekurangan adalah senjata hias pun memiliki daya bunuh; jika ada tamu yang berkelahi di dalam kedai, senjata tersebut sangat mudah diraih.
"Ngomong-ngomong, aku tetap ingin mengatakan satu hal, aku tidak pernah membunuh siapa pun bernama Mei. Dan berdasarkan banyak hal yang telah kuamalami, kepolosannya sangat mungkin hanya sebuah penyamaran. Kita sama-sama hidup di distrik bawah, Anda juga harus tahu bahwa tidak akan ada gadis seperti itu di distrik bawah. Gadis semacam itu hanya ada di dalam novel ksatria."
Bartender itu memaksakan senyum, "Aku berterima kasih kepada Anda karena tidak berbalik memusuhiku hanya karena aku berniat membunuh Anda, tetapi Mei adalah wanita yang paling aku cintai—"
"Baiklah, baiklah. Aku tutup mulut."
Cuma buang-buang tenaga bicara, orang ini sudah berbulat tekad mempercayai Mei itu normal.
Ah benar, bibi Grenouille juga sangat yakin bahwa ada seorang pria sempurna yang jatuh cinta padanya.
Ya Tuhan, cinta.
Grian mengalihkan pandangannya, tumit sepatunya bergesek di lantai beberapa kali, merasa sangat tidak nyaman oleh kata cinta yang abstrak dan semu itu.
Di dunianya, begitu seseorang memiliki tingkat kekuasaan tertentu, ia seharusnya tidak lagi tenggelam dalam urusan asmara.
Terutama antara pria dan wanita.
"Baiklah kalau begitu, pimpin jalannya, tapi kukatakan dulu dari awal, jangan coba-coba bermain trik kali ini. Jika kamu berani melakukan serangan mendadak sekali lagi—aku punya banyak cara untuk menyiksamu."
"Tenang saja, kesalahan yang sama tidak akan kulakukan untuk kedua kalinya."
Bartender itu megap-megap, hatinya yang menggantung akhirnya turun, lalu ia berteriak kepada para pegawainya di kedai:
"Kedai tidak buka malam ini. Kalian semua, pulang sana!"
Para pegawai bersorak gembira, tak seorang pun peduli apa yang akan dilakukan bos mereka setelah ini.
Pekerjaan akan selalu ada, jika bosnya mati, tinggal ganti yang lain.
"Mau memimpin jalannya ya pimpin saja, kenapa harus memberi mereka libur?" tanya Grian.
"Seperti yang Anda katakan, mungkin malam ini akan terjadi Malam Bunga Dinding yang ketiga."
Bartender itu menunjuk dengan dagunya ke arah anggota "Dua Puluh Tiga".
"Coba lihat orang ini, untuk apa dia datang ke kawasan industri? Mungkin untuk mempersiapkan langkah selanjutnya, hari ini datang untuk memantau situasi. Aku dengar dari mereka bahwa hari terjadinya Bunga Dinding situasinya persis seperti ini, kelompok orang itu berpura-pura ramah saat datang, dan baru mulai membantai setelah beberapa lama."
"Benar."
Grian mengangguk, bersiap menggunakan pedang di tangannya untuk memenggal kepala anggota "Dua Puluh Tiga" itu.
"Aroma iblis..." ia teringat ucapan orang ini saat pertama kali masuk ke kedai. "Di zaman sekarang ini, ada iblis yang menyusup ke dalam kedai adalah hal yang sangat biasa."
Tiba-tiba, tubuh yang setengah mati itu berkedut, perutnya membengkak ke atas, dan sesok tentakel melesat dengan kecepatan luar biasa menembus pakaian, lalu menerkam ke arah Grian.
"Sial!"
Grian hanya sempat melompat ke atas bar, menghindari tentakel yang melesat itu.
Ia berdiri dengan mantap, mengayunkan pedangnya dengan bersih dan tegas, memotong tentakel bertarif pengisap itu di tengah udara dengan kecepatan kilat, menghasilkan suara desiran yang merobek udara, sementara darah berhamburan turun bagaikan hujan.
"Perjuangan terakhir ya? Aku tadi sempat berpikir, kenapa kamu tidak menggunakan kemampuanmu sekalian. Tapi mengeluarkan tentakel dari dalam perut... benar-benar menjijikkan, jika aku memiliki kemampuan seperti ini, aku juga tidak ingin menggunakannya. Ck."
Pedang hias di tangan Grian berputar dan berayun lincah, berputar fleksibel di antara kedua jarinya seperti memutar sebuah pulpen.
Ia tidak mahir menggunakan pedang, dan tidak pernah menerima pelatihan ilmu pedang formal.
Begitu amatirnya hingga sekalipun ada memori otot milik Grian yang asli, itu tetap tidak bisa memperbaiki tebasannya yang kacau seperti anak kecil. Tusukan terbang, tebasan dari kanan ke kiri, pedang dua tangan, semua istilah itu terdengar seperti hoki es, hanya saja ilmu pedangnya jauh lebih tidak masuk akal dan berbahaya.
Namun, anggota "Dua Puluh Tiga" yang tergeletak di lantai itu jelas sudah berada di ujung tanduk. Ilmu pedang kelas duanya sudah lebih dari cukup untuk menghadapi situasi saat ini.
Bagaimanapun, menggunakan senjata api hanya akan membuang-buang peluru, dan mengubah bentuk lengan kanannya akan menghabiskan banyak tenaga serta energi.
"Hati-hati!" teriak bartender dari balik bar.
Diri Anda cukup baik juga rupanya!"
Grian tersenyum penuh percaya diri kepada sang bartender, pedang dan tentakel berbenturan menjadi satu, tentakel itu meledak bagaikan air mancur, cairan kental dan berbau busuk tebar ke mana-mana, tampak bagaikan sutra yang memantulkan cahaya di lingkungan yang suram.
Tak lama kemudian, ia melihat perut orang sekarat itu terus mengembang, melahirkan sebuah benda bulat besar seperti proses melahirkan, persis seperti labu berbentuk aneh yang ditumbuhi sulur tentakel aneh.
Makhluk aneh itu terlahir dari dalam tubuh manusia, tentakel-tentakel menjijikkan terbelah darinya, memperlihatkan mulut lebar yang dipenuhi gigi tajam.
Lebih dari separuh "Pemahat Ulang" yang berhasil direnovasi melalui klinik gelap memilih organ berupa usus iblis, usus buntu iblis, dan sisa-sisa bagian tubuh lainnya.
Kemampuan yang diberikan oleh organ-organ sisa tersebut kepada para "Pemahat Ulang" hampir semuanya membuat mual. Namun ada kemungkinan lain, ini bukanlah kemampuan sang "Pemahat Ulang", melainkan serangan balik terakhir dari organ iblis tersebut.
Grian pun tidak bisa membedakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Bagaimanapun, ia sendiri belum pernah melihat banyak "Pemahat Ulang".
Tanpa peringatan apa pun, tentakel itu meluncur deras ke arahnya. Ia meliukkan tubuhnya dan mengayunkan pedang panjangnya dengan kuat, memotong satu tentakel lagi.
Detik berikutnya, tentakel sebesar batang pohon menghantam tubuhnya dengan keras dan melilitnya.
Ia membiarkan tentakel itu melingkar di pinggangnya, diseret menuju tentakel yang membuka lebar mulutnya, semakin mendekat, mulut besar yang menganga itu terbuka dan tertutup dengan liar dan penuh kemarahan.
Begitu mendekati mulut besar itu, barulah ia memegang pedang dengan kedua tangan dan menebas ke depan. Bilah pedang perlahan namun dengan mudahnya menembus daging, menyemburkan bau busuk yang menyesakkan hingga membuat Grian hampir kehabisan napas.
Tentakel itu mendesis, bergetar dan menari-nari di udara.
Grian mendarat di lantai, kembali mengayunkan pedangnya. Bilah pedang menyapu tentakel terakhir dengan suara berderit mengerikan.
Cairan tubuh mengalir deras, tentakel tebal itu ambruk ke satu sisi, lalu langsung mendongakkan tubuhnya lagi, menjerit mendesis, menghantam lantai dengan keras hingga menimbulkan suara tumpul, dan akhirnya tidak bergerak lagi.
"Betapa pentingnya untuk memberikan serangan pemungkas."
Grian perlahan mengangkat pedang hiasnya, mengarahkannya ke arah orang yang sedang sekarat di lantai dan menusuknya langsung tepat ke jantung.
"Sampah."
Perjuangan di ambang kematian ternyata hanya seperti itu.
Namun, tentakel bermulut besar itu memberinya inspirasi, ia bisa membuat lengan kanannya memunculkan efek yang sama untuk menakuti musuh.
"Ayo pergi." Grian mengembalikan pedang hias itu ke tempat semula dan berkata kepada sang bartender.
"Sepertinya aku... pernah melihat kemampuan ini sebelumnya."
Bartender itu ragu-ragu dan bimbang, ingin maju untuk melihat lebih dekat. Namun karena terhalang tatapan Grian, ia merasa sedikit takut. Setelah berpikir sejenak, ia tetap melangkah maju dan mengamati wajah yang berlumuran darah itu dengan cermat.
"Ah... benar ini wajahnya, bahkan meskipun penuh darah aku tetap bisa mengenalinya, dialah orang yang pernah menyelamatkanku."
"Kapan?" Grian mengerutkan kening, "Kamu kebetulan melihat mereka sedang menjalankan misi?"
"Dua tahun lalu, saat aku hampir dipukuli hingga mati, orang inilah yang menyelamatkanku." Bartender itu mengenang masa lalu, "Hari itu, kebetulan adalah hari di mana Mei membuat permohonan kepada iblis. Kupikir karena alasan itulah ia mengulurkan tangan untuk membantuku."
"Kalian tidak saling kenal?"
"Tentu saja tidak kenal, jika aku mengenalnya, apakah menurutmu aku bisa bersikap sekolom tenang ini? Sejak hari itu, aku tidak pernah melihatnya lagi."
"Ha, aku tidak pernah mendengar 'Dua Puluh Tiga' memiliki kebaikan hati seperti itu."
Claudia pernah mengatakan bahwa pelatihan orientasi kerja "Dua Puluh Tiga" sangat menekankan agar tidak ikut campur urusan orang lain dan mengerjakan pekerjaan masing-masing.
Bahkan tanpa aturan itu, Grian yakin tidak banyak anggota "Dua Puluh Tiga" yang akan menyelamatkan orang, terutama mereka yang berasal dari distrik bawah. Bagi para "Pemahat Ulang" distrik bawah yang saling membantai sepanjang jalan dan menanggalkan nurani demi bisa bertahan hidup, menyelamatkan orang adalah hal yang terlalu mewah.
"Aku tiba-tiba teringat satu hal, iblis tidak pernah melakukan bisnis yang merugi.
"Anda bilang kekasih Anda menukar nyawanya sendiri untuk menukar kemajuan dalam karier Anda, kalau begitu nyawanya pasti sangat berharga, dari preman rendahan sampai menjadi pemilik kedai, nyatanya itu bisa mengubah status Anda sedemikian rupa.
"Berdasarkan pemahamanku tentang iblis, kecuali ia juga menyerahkan jiwanya dalam transaksi ini, efek seperti itu tidak akan bisa tercapai.
"Namun jika demikian, ia yang menggunakan jiwanya sebagai pertukaran akan menjadi 'Andomba Kurban', alih-alih 'Rasul'. Hal ini justru bertentangan dengan deskripsi Anda. Bagi seekor 'Andomba Kurban', rangsangan seperti tertembak sudah cukup membuatnya jatuh ke dalam kondisi mengamuk. Tapi setelah tertembak, ia justru mati dengan tenang di dalam pelukan Anda, dari sudut pandang ini, ia sama sekali bukan 'Andomba Kurban'."
Grian berdehem, lalu bertanya dengan sungguh-sungguh:
"Anda yakin tidak sedang dibohongi olehnya?"