Inti Emas harus melewati ujian petir. Pondasi juga harus melewati ujian! Bahkan latihan pernapasan pun harus menghadapi ujian petir? Bahkan pelatihan tubuh paling dasar pun harus menanggung enam ujian
Dentuman keras menggema!
Di atas Pegunungan Awan Utara di Negeri Awan Utara, tepatnya di langit Gunung Bambu Awan yang menjulang tinggi, sebuah kilat membelah awan gelap yang bergulung-gulung. Cahaya itu jatuh lebih dulu daripada gemuruh petir, menyambar seorang pria berjubah putih yang berdiri tegak di puncak gunung.
Darah hangat dan tebal muncrat dari mulut Lu Tong saat tubuhnya diterjang kekuatan petir. Tubuhnya hangus, setengah berlutut dengan susah payah namun tidak ambruk.
Di tengah kilat dan gemuruh, sesosok perempuan cantik melompat ke puncak gunung. Aroma arak masih membalut tubuhnya. Ia segera meraih pemuda yang berusaha bangkit, lalu menengadah ke langit pada awan bencana yang tengah menggumpal hendak melepaskan kekuatan lebih dahsyat. Ia menyuruhnya berhenti sejenak, suaranya cemas, “Adik kecil, hentikan dulu. Kalau tidak, kau benar-benar akan mati di bawah murka langit!”
Tubuh Lu Tong bergetar. Ia mengendalikan napas dan darahnya, membuat awan bencana di langit perlahan-lahan lenyap. Sebelum pingsan, ia masih sempat bergumam dengan nada tak rela, “Sudah seratus kali... tetap saja gagal satu langkah, langit benar-benar iri pada orang berbakat...”
…
Saat Lu Tong kembali sadar, matahari telah tinggi di hari berikutnya. Ia mengira bakal kembali merasakan penderitaan akibat kegagalan melampaui bencana, namun kali ini terasa berbeda.
Tubuhnya hangat, tak ada rasa mati rasa atau nyeri setelah disambar petir. Seolah petaka semalam hanyalah mimpi.
“Jangan-jangan aku berhasil melampaui bencana?” Lu Tong sontak duduk, mem