Dua puluh
Keluar dari Gereja Westminster, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Hyde. Pihak penyambut menjelaskan secara meyakinkan tentang tempat pidato di taman ini, konon siapa pun bisa berdiri di atas kotak di sana, asal kedua kakinya tidak menyentuh tanah, dan bebas berpidato tentang apa saja, bahkan jika isinya menentang kemanusiaan, tak ada yang akan peduli.
Setelah itu, mereka memperkenalkan dengan penuh semangat dan antusias danau di samping Taman Hyde serta Istana Kensington. Namun, yang paling membuat semua orang terkesan dengan kehebohan dan antusiasme mereka adalah Hyde Park One, kawasan apartemen yang disebut-sebut sebagai yang termahal di seluruh London, bahkan dunia. Satu unit apartemen terkecil, hanya 93 meter persegi, harganya lebih dari enam juta pound sterling, setara dengan lebih dari enam puluh juta yuan.
Mendengar itu, aku mendongak dan menatap si pemandu. Sebenarnya, aku pernah ke Hyde Park One. Dulu, saat ibu Xun Mumu tahu ia akan melanjutkan kuliah di Inggris, beliau membelikannya sebuah apartemen di sana. Seingatku, aku juga pertama kali bertemu Xun Shifeng di tempat itu.
Mengingat hal itu, aku kembali memandang Xun Shifeng.
Ia tengah memegang ponsel Blackberry khusus dan mengoperasikannya dengan cekatan. Entah informasi apa yang baru saja ia terima, ia menengadah dari layar ponsel, melirik ke arah Xiao Rong yang bersembunyi sangat jauh darinya — eh, juga Xu Yingtao — lalu kembali lagi ke ponsel.
Sampai di Jalan Bond, seorang gadis dari pihak penyambut yang bisa berbahasa Mandarin menunjuk ke arah Xun Shifeng — yang baru saja memarkir Bentley hitam di pinggir jalan dan mengenakan setelan jas hitam rapi sebagai kepala keamanan — dan berkata, “Lihat! Orang itu bukan tamu, dia hanya petugas keamanan dari orang sangat kaya! Di jalan ini, kalau kalian melihat Bentley hitam, jangan langsung mengira itu ‘raja’, bisa jadi hanya ‘badut’! Jalan ini penuh dengan transaksi..., lihatlah pada dinding kaca ini, ada tulisan: ‘Cermin ajaib, siapakah wanita tercantik di dunia?’ Di sini, uang dalam jumlah fantastis dan kecantikan kelas atas punya nilai yang setara!”
Ia salah.
Kecantikan akan pudar, tapi emas abadi.
Wajah secantik apapun pasti suatu saat akan memudar pesonanya, sementara kekayaan tidak akan hilang begitu saja. Bedanya, ketika kecantikan seseorang sudah tak lagi bernilai tinggi, uang itu akan mengalir, mencari sosok cantik berikutnya, berulang terus, berputar-putar di tempat ini.
Aku pernah melihat berlian putih 50 karat di etalase toko perhiasan di sini. Kini berlian itu sudah tak ada, entah siapa yang membelinya, entah di leher wanita cantik yang mana berlian itu kini bertengger. Tapi tidak ada yang merasa sayang, karena saat ini di etalase sudah ada berlian lain, bahkan lebih besar, lebih bercahaya, dan lebih mahal dari yang pernah kulihat dulu.
Tangan Xun Shifeng bertengger di pundakku. Tiba-tiba aku bertanya, “Kamu pasti sangat familiar dengan tempat ini, kan?”
Ia menggeleng.
“Ini kawasan komersial barang mewah yang paling top dan ramai di London. Kukira kamu pasti mengenalnya baik, soalnya, eh...”
Sebenarnya aku ingin bilang, soalnya dulu kamu harus sering kasih hadiah untuk mantan, atau mantan yang sebelum mantan itu, dan... Begitu kupikirkan, aku sendiri malah jadi malu.
“Alice.”
“Ya?”
“Aku tidak mau membahas topik itu denganmu.”
“Oh, eh, matahari hari ini bulat sekali!!”
Ia menggenggam erat pergelangan tanganku, lalu menarikku pergi.
Makan siang kami adalah sandwich.
Pihak penyelenggara sangat perhatian, bukan hanya menyediakan sandwich yang dikemas rapi dengan alumunium foil, tapi juga teh panas dan kopi hangat, bahkan beberapa buah segar yang sudah dipotong dan diletakkan di atas meja panjang darurat. Lokasi makan siang ini sangat bagus, di Taman Regent. Dahulu kala, taman ini adalah tempat berburu Raja Henry VIII, sekarang terkenal dengan taman mawarnya yang bak Taman Firdaus.
Makan sandwich di sini membuatku seolah-olah kembali ke masa kuliah.
Dulu jadwal kuliah sangat padat, dan di waktu makan siang tidak ada jam istirahat khusus dari pihak kampus, jadi kami duduk di atas rumput dan makan sandwich sudah terasa sangat membahagiakan, kecuali kalau Xun Mumu tiba-tiba minta tolong mengerjakan tugasnya.
Aku mengambilkan dua sandwich dan secangkir kopi panas untuk Xun Shifeng.
Lalu, aku melihat seorang aktris muda asal Prancis sedang berbicara dengannya. Gadis itu masih muda, cantik seperti tunas pohon di musim semi, terutama ketika ia tersenyum, sangat menawan, mirip baguette baru keluar oven di Paris, sampai-sampai aku ingin mengoleskan mentega dan menggigitnya.
Saat aku mendekat, Xun Shifeng dengan sikap sangat dingin namun sopan mengakhiri percakapan dengan gadis itu, lalu berbalik menghampiriku dan mengambil dua sandwich dari tanganku. Kami mencari bangku, duduk, ia meletakkan sandwich, aku menyerahkan secangkir kopi panas.
Aku berkata, “Rasanya tidak terlalu enak, tapi setidaknya hangat. Hari ini benar-benar dingin, minumlah, biar hangat.”
“Baik,” ujarnya tenang sambil menyeruput kopi.
Tak lama, gadis Prancis yang cantik itu datang lagi, kali ini membawa sepotong kue sebagai tanda terima kasih karena tadi Tuan Xun sudah merekomendasikan beberapa restoran bagus di London padanya.
Oh, mereka berbicara pakai bahasa Prancis, aku tak mengerti, jadi tak kupedulikan.
Eh.
Aku tahu gadis itu tertarik pada Tuan Xun.
Tapi aku yakin Arthur Xun yang hebat punya kekuatan penuh untuk menyingkirkan semua makhluk ganjil, dan dia juga tampaknya tak punya banyak simpati atau rasa kasihan pada wanita, jadi kurasa gadis itu takkan dapat keuntungan apa-apa dari Tuan Xun. Aku pun kembali asyik mencari gosip di internet.
...
Bersih sekali, benar-benar bersih. Selain satu foto dan judul singkat ‘pacar baru Alice terungkap’, tak ada informasi lain. Bahkan judul favoritku seperti ‘Alice menangkap Constantine sang Arthur Xun!!’ juga sudah hilang.
Aku lanjut mencari gosip tentang pekerjaanku.
Ada forum khusus yang membahas drama baruku, “Charlotte”. Para penggemar yang menyukai drama ini bilang ceritanya bagus, tokoh utamanya menarik, aktor prianya tampan dan cerdas. Bahkan ada yang mengutip slogan serial Amerika terkenal: ‘smart is new sexy’ untuk menggambarkan drama baruku!
Namun, seperti kata pepatah, seribu orang punya seribu Hamlet di hatinya.
Tak ada satu pun drama yang bisa disukai semua orang.
Ada yang suka, pasti ada yang tidak.
Kudapati banyak orang menyebut drama baruku hanya untuk penonton bodoh, ada juga yang bilang penulis skripnya terlalu liar imajinasinya, makanya bisa menulis cerita sedemikian buruk. Malah ada yang menuduh aku meniru karya besar Conan Doyle, “Sherlock Holmes”. Padahal, aku benar-benar tidak meniru. Andai aku mengikuti pola kasus seperti itu, kurasa drama ini tak akan laku dijual. Seperti kata Liao An, pelajari pasar, fokus, profesional, profesional lagi, itu sudah cukup. Tak perlu pusing dengan pendapat orang lain, kecuali mereka punya sumber daya dan uang yang bisa memengaruhi keuntungan drama!
Kelompok penonton yang ingin kulayani hanyalah para gadis yang suka berkhayal, mereka suka laki-laki yang pintar, tampan, dan memesona. Asalkan tokoh prianya ditampilkan sebagai ‘cerdas’, tak perlu ada kasus rumit yang memaksa penonton berpikir keras.
Rasanya, di pasar yang kutuju, tak ada yang terlalu peduli ‘siapa membunuh siapa, siapa yang mengurung korban di ruang bawah tanah kastil pada jam berapa, siapa pula yang meletakkan kursi di depan pintu kantor dan khusus merekrut wanita berambut merah…’ dan sebagainya. Yang ingin dilihat para penonton adalah ‘kisah cinta antara pria tampan dan cerdas dengan seorang wanita’, dan tentu saja, betapapun ‘cerdas’ tokoh prianya, dalam urusan cinta dia harus bodoh, bodohnya menggemaskan, bodoh luar biasa, bodoh sampai…
Tiba-tiba ada sepotong kue keju di hadapanku.
Sepasang tangan pria.
Jari-jarinya panjang, sangat bersih, jelas sekali orang yang cerdas.
“Apa ini…” Aku menengadah menatapnya.
Entah dari mana ia mengeluarkan garpu perak, langsung menusukkan ke kue di depanku.
“Itu tadi dikasih oleh gadis itu, katanya untukmu, katanya rasanya enak. Makanlah.”
Aku, “….”
Gadis Prancis itu sengaja ‘memberi’ kue untukku, ‘sekalian’ jadi alasan untuk mendekati suamiku yang sah, Tuan Xun. Astaga, aku tak berani makan kue ‘khusus’ itu, jangan-jangan ada bekas liurnya?!
“Besok malam adalah acara karpet merah festival film ini, aku tidak boleh makan gula terlalu banyak.”
Ia menatapku, lalu membalikkan tangan dan langsung membuang kue itu ke kantong sampah yang sudah kami siapkan… Ya, gerakannya cepat, tegas, tepat, mantap.
Tiba-tiba aku teringat satu hal.
Ya.
Tentang Xun Shifeng.
Tapi pria seperti Tuan Xun kurang cocok jadi pemeran utama pria di dramaku.
Karena, cara pandangnya terlalu menyimpang, kurang sopan, tidak punya nilai universal, dan terlalu banyak skandal, oh, tentu saja, masa lalu kelamnya juga banyak. Gadis-gadis semuanya polos, tak bisa menerima pria macam ini, kebanyakan lebih menyukai tipe seperti Qiao Shen, pandangannya lurus, cerdas, tampan, emosional, cocok untuk kisah cinta besar dan mengharukan bersama tokoh utama wanita.
Pria seperti suamiku biasanya hanya cocok jadi ‘tokoh kedua yang jahat namun sangat memesona, walau pernah mendapatkan cinta sang tokoh wanita, pada akhirnya tetap kehilangan dan berakhir tragis, tetapi sangat populer’. Kehidupan nyata memang tak sama dengan drama, lelaki yang bisa kuterima sebagai suami jelas takkan pernah jadi aktor utama dalam tulisanku!
Sepertinya, pepatah itu benar— seni berasal dari kehidupan, tapi lebih tinggi dari kehidupan.
Asisten Qiao Shen datang membawa kabar yang kurang baik— aku ditolak.
Karena aku mengabarkan ke panitia bahwa aku ingin membawa satu ‘pendamping’ tambahan ke lapangan polo, namun panitia membalas bahwa pertandingan polo bukanlah jamuan makan, bukan pula pesta sembarangan, ini adalah acara yang daftar undangannya sudah disusun sejak lama, tidak bisa sembarangan membawa orang baru masuk, kalau dipaksakan, itu sama saja menodai acara bersejarah yang mewakili tradisi luhur Britannia!
Asisten Qiao Shen adalah anak muda dengan daya ingat luar biasa, ia mengulangi pesan itu dengan sangat presisi, seperti mesin penjawab otomatis.
Sebenarnya, panitia benar juga.
Menonton pertandingan polo memang bukan sekadar jamuan makan biasa, aturannya banyak, dan penontonnya pun harus menaati berbagai tata krama.
Soal asal usul polo, hingga kini belum ada kesepakatan. Orang Inggris bilang polo berasal dari kecerdikan bangsa Britannia. Orang Korea mengklaim penemu polo dari Inggris itu sebenarnya orang Korea, atau setidaknya leluhurnya dari Korea. Orang Jepang tak berminat membahasnya, mereka sedang sibuk memikirkan siapa ‘Voldemort’ generasi baru.
Yang jelas, ada satu teori cukup masuk akal: pada masa Dinasti Tang, para bangsawan senang bermain polo, dan ketika Putri Wencheng menikah dengan Songtsen Gampo, di antara barang bawaannya ada ahli polo, yang kemudian memperkenalkan permainan ini kepada orang Tibet. Tradisi ini terus berlanjut hingga Inggris membuka dataran tinggi Tibet yang tertutup selama ribuan tahun, dan akhirnya permainan ini menyebar ke Inggris.
Dalam bahasa Tibet, polo disebut ‘pulu’, sedangkan dalam bahasa Inggris, ‘polo’ — pelafalannya sangat mirip. Jadi, dataran tinggi Tibet, penjajah Inggris, dan polo, ketiganya pasti punya hubungan erat.
Untuk menonton polo, para wanita harus berdandan mewah, dan sebaiknya mengenakan topi berhias bunga atau bulu di kepala mereka.
Untuk acara yang disebut sebagai ‘olahraga kaum bangsawan di antara olahraga bangsawan’, sedikit sikap angkuh memang perlu. Di zaman modern yang penuh komersialisme ini, banyak orang tetap mengagumi gaya hidup kaum aristokrat, contohnya, aku memelihara anjing kampung, tapi tiba-tiba ingin mencoba memelihara kucing Persia.
Punya aturan itu baik, sikap angkuh pun baik, karena itu cara terbaik menjaga harga diri.
Tapi kalau sudah memilih angkuh, sebaiknya konsisten sampai akhir.
Sesuai undangan, aku mengenakan gaun tipis dan topi berhias bulu.
Berbeda dengan undangan kami, aku tetap membawa satu orang tambahan, menggandeng lengan Xun Shifeng yang tampil bak bangsawan Amerika Utara.
Aku sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, seandainya panitia tak mengizinkan aku membawa pendamping, maka...
Yah, toh sudah sampai di Surrey, kami bisa sekalian mengunjungi rumah bibi Harry Potter, atau jalan-jalan ke kota-kota kecil di Inggris selatan seperti dalam film “The Holiday”, dengan rumah-rumah mungil, jendela berjendela tirai putih, dan halaman penuh mawar.
Ternyata...
Begitu kami tiba di pintu masuk lapangan, seorang gadis anggun berpakaian rapi sedang sibuk memeriksa undangan para tamu, sikapnya tegas seperti nyonya bangsawan dalam novel Gu Long yang menjaga kesucian putrinya. Tapi, saat ia melihat plus one-ku, wajahnya langsung berseri-seri seperti tanah kering disiram hujan manis!
“Arthur Xun!”
Setelah itu, gadis itu berubah jadi penolong sejati! Bukan hanya tak memeriksa undanganku dengan teliti, bahkan abaikan pemberitahuan penolakan membawa pendamping, langsung membiarkan kami masuk, dan bahkan mengantar kami ke area VIP. Di sana ada prasmanan mewah, bahkan tersedia sampanye!
Benar-benar bertemu orang baik!!
Penulis ingin berkata: