Bab Lima Belas: Tingkat Ketiga Belas
Para pengajar yang bertanggung jawab atas dua kelas dalam acara retret kali ini semuanya merupakan guru setingkat dosen. Pengajar Mu Yan, misalnya, sudah dikenal sebagai sosok perempuan lembut yang sangat peduli pada murid-muridnya. Saat ini diketahui bahwa di dalam tubuh Guru Mu Yan terdapat sejenis tumbuhan bunga yang dapat digunakan untuk penyembuhan, namun kemampuan lainnya masih menjadi misteri.
Sementara itu, dosen yang ditunjuk oleh Fakultas Bahasa Asing adalah seorang pria muda bermata merah dengan pakaian serba hitam. Di hari musim panas yang terik ini, ia membungkus seluruh tubuhnya rapat-rapat dan bahkan mengenakan topi tinggi, penampilan yang sangat aneh.
Kedua pengajar itu memimpin empat puluh mahasiswa memasuki lobi utama "Hotel Pingjin". Dalam bayangan semua orang, mereka mengira hotel ini adalah bangunan tua yang kumuh dan tak terurus. Namun, lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya terang, menerangi tatanan lobi hotel yang sangat bersih, seolah baru saja dibuka kembali.
Selain faktor "tanpa penghuni", hotel ini tampak seperti layaknya sebuah hotel yang semestinya. Saat Yu Jing, yang berjalan paling belakang, melangkah masuk, suara cemas dari Shen Yixuan terdengar di dalam benaknya, "Cahaya suci ini begitu kuat, tubuhku sampai tertekan, sangat tidak nyaman!"
Shen Yixuan, yang bersemayam dalam tubuh Yu Jing, segera bersembunyi ke dalam inti manik iblis di lengan kanannya. Yu Jing sendiri juga merasakan bahwa dari dinding hotel memancar kekuatan cahaya suci yang sangat kuat. Tanaman parasit di lengannya mulai bergeliat ingin menyerap energi ini, tetapi segel cahaya suci tersebut sepenuhnya menahan pergerakan Shen Yixuan.
"Tampaknya Universitas Dihua sudah melakukan persiapan matang sebelumnya, mengubah hotel ini menjadi tempat yang cocok untuk retret kita," gumam Yu Jing, sambil tetap mengawasi kondisi Shen Yixuan. Dalam sesaat tadi, sebagian tubuh Shen Yixuan tampak melepuh, namun kini perlahan-lahan pulih di dalam manik iblis.
“Sekarang, mari tentukan kamar kalian masing-masing. Saat ini hotel sedang tersegel, tidak ada petunjuk apapun. Namun, mulai pukul enam sore nanti, segel hotel akan dibuka sebagian, menandai dimulainya kegiatan retret kalian. Satu jam sebelum segel dibuka, harap semua kembali ke lobi. Saya dan Guru Mu Yan akan menjelaskan secara rinci peraturan retret kali ini. Selain itu, sangat disarankan agar kalian tidak tidur sendiri-sendiri. Bentuklah kelompok kalian dari sekarang untuk menghindari bahaya yang tidak perlu.”
Begitu dosen bermata merah dari Fakultas Bahasa Asing selesai bicara, banyak mahasiswa bergegas meninggalkan lobi untuk mencari kamar tidur yang dianggap paling aman dan nyaman.
“Yanzhi, Yanzhi! Kita sekamar saja, ya?” Beberapa gadis yang mengelilingi Ning Yanzhi tampak sangat bersemangat, seolah bisa tinggal satu kamar dengan pangeran impian mereka.
Namun, Ning Yanzhi harus beraksi bersama Yu Jing. Dengan susah payah, ia menolak para gadis itu dan mendekati Yu Jing, sementara tiga gadis dari Fakultas Bahasa Asing justru memandang Yu Jing dengan penuh kebencian, seolah dia adalah saingan yang merebut lelaki mereka.
Ning Yanzhi menepuk bahu Yu Jing, “Tentang kejadian di bioskop, masih ada satu teman sekelasmu lagi. Bagaimana kalau kita ajak bersama?”
Yu Jing menunjuk Xue Juan yang sedang berdiskusi dengan dua saudari perempuannya.
“Seorang gadis tipe putri, ya? Biar aku coba menaklukkan hatinya,” ujar Ning Yanzhi sambil merapikan rambut, lalu berjalan menghampiri Xue Juan.
“Plak!”
Belum sampai tiga kalimat, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ning Yanzhi, meninggalkan bekas tangan merah yang jelas.
“Mesum! Siapa juga yang mau sekamar dengan dua laki-laki macam kalian!”
Ning Yanzhi tetap tersenyum santai kembali ke sisi Yu Jing, menggaruk kepalanya dengan tampang bodoh. “Gagal, dia juga anggota kelompok kita. Kalau tidak bersama, pasti bakal repot. Yu Jing, aku mohon, kau saja yang bicara.”
“Bukankah cukup mereka tinggal di kamar seberang kita?” jawab Yu Jing singkat.
“Benar juga! Kenapa aku tidak kepikiran? Ngomong-ngomong, kau tahu kita dapat kamar nomor berapa?” tanya Ning Yanzhi setengah menggoda.
“Lantai tiga belas…”
“Kamar nomor delapan,” sambung Ning Yanzhi sebelum Yu Jing menyebutkan nomor kamar. Keduanya saling berpandangan, seakan sama-sama tahu keistimewaan kamar di lantai tiga belas Hotel Pingjin.
Mempertimbangkan beberapa hal penting, Yu Jing akhirnya melangkah ke arah Xue Juan.
Xue Juan memandang Yu Jing dengan galak, “Jadi, si mesum barusan itu orang ketiga dari kelas pilihan bioskop? Kalau kau juga seperti dia, hati-hati saja, bisa-bisa ku hajar sampai terbang!”
“Kita memilih kelas pilihan yang sama, tingkat kesulitannya empat setengah bintang, cukup tinggi. Saling berdiskusi itu perlu. Bagaimana kalau kalian bertiga tinggal di sebelah kamar kami? Jadi kita bisa saling memperhatikan dan mudah berdiskusi tentang hal-hal penting.”
Sebenarnya, Yu Jing enggan mengatakan hal itu, namun urusan bioskop sangat krusial, tak boleh ada kesalahan.
“Juan, bagaimana menurutmu? Yu Jing pernah menolong kita, dia takkan macam-macam. Lagi pula, tempat ini kelihatannya berbahaya. Bekerja sama dengan mereka mungkin lebih aman,” bujuk Xiao Yu.
“Benar, kata Xiao Yu… tempat ini memang berbahaya,” tambah Bao Bao, gadis berwajah bulat yang sejak masuk hotel terus berkeringat dingin.
“Baiklah, kalau kalian berdua sudah setuju… Yu Jing, tunjukkan jalan! Kalau kalian berdua punya niat buruk, hati-hati saja, akan kuhancurkan masa depan kalian!”
Yu Jing hanya bisa menghela napas, menurunkan topinya dan memimpin jalan ke arah lift di lobi. Mereka yang masih di lobi kebanyakan sibuk membentuk kelompok kecil. Begitu pintu lift terbuka, dua pria dan tiga wanita masuk ke dalam, namun sebelum pintu tertutup, seorang pria yang membuat Yu Jing jengah bergegas masuk dan berdiri di tengah.
“Sudah punya teman, Yu Jing?” ledek Bai Xiao di antara mereka berlima.
Yu Jing sama sekali tak menanggapi.
Ting! Sampailah mereka di lantai tiga belas. Bai Xiao berjalan bersama lima orang lainnya menyusuri lorong berkarpet merah, harum lembut parfum menguar di udara. Dari sikap Bai Xiao, tampaknya ia memang berniat mengikuti Yu Jing selama retret berlangsung.
Namun, ketika Bai Xiao hendak berkomentar, di ujung lorong lantai tiga belas tampak seorang gadis kecil berbaju bunga memeluk boneka beruang. Tawa anehnya terdengar jelas di telinga mereka berenam.
Kebanyakan mahasiswa memilih kamar di lantai yang lebih rendah, dekat lobi untuk memudahkan melarikan diri jika terjadi sesuatu. Tak ada yang mau tinggal di lantai tinggi seperti lantai tiga belas, kecuali kelompok Yu Jing.
Gadis kecil yang baru saja lewat itu tampak tak memiliki tanda-tanda kehidupan. Kemunculannya saat hotel masih tersegel adalah sesuatu yang sangat tak masuk akal.
“Sungguh lantai yang berbahaya. Nikmatilah waktu kalian di sini. Jangan sampai mati, Yu Jing. Urusan kita belum selesai!” kata Bai Xiao, yang berasal dari keluarga William dan berdarah serigala, memiliki penciuman dan intuisi yang jauh lebih tajam daripada orang kebanyakan. Ia menyadari bahaya di lantai tiga belas, memutuskan untuk tidak tinggal di sana, dan segera turun dengan lift.
“Keluarga William memang semuanya seperti itu, tapi indra si rambut putih satu ini benar-benar tajam. Lantai ini memang sangat berbahaya. Kalian yakin tetap ingin tinggal di sini?” tanya Ning Yanzhi pada teman-temannya ketika Bai Xiao pergi.
Saat itu, Bao Bao sudah berkeringat dingin ketakutan akibat kejadian barusan dan bersembunyi di belakang Xue Juan.
“Tak masuk sarang harimau, takkan dapat anak harimau.”