Bab Enam Puluh Tiga …
Pertempuran di ngarai mampu menahan tiga puluh ribu pasukan musuh selama dua hari. Dalam dua hari itu, dua puluh ribu prajurit bantuan yang dikirim Gu Mu seharusnya sudah bisa tiba. Ia pun masuk ke dalam tenda milik Shen Ci.
Ia memandang peta strategi yang tergantung di dinding. Tak ada satu pun tanda di atas peta itu. Barangkali peta yang sebelumnya sudah diberi penanda telah dibakar demi menghindari kebocoran rahasia.
Sejujurnya, meski Gu Mu kini menjadi tokoh antagonis utama dalam kisah romansa wanita, di kehidupan sebelumnya ia hanyalah orang biasa. Ia tak pernah gemar membaca buku strategi militer, namun justru kerap meneliti berbagai strategi dalam permainan. Seperti dalam permainan Arena Raja, jika lawan memiliki pemain unggulan yang membawa kemenangan, maka cukup dengan menumbangkan pemain itu saja, separuh kemenangan sudah di tangan.
Orang bijak dulu berkata, “Tangkap pemimpin, maka perampok akan tercerai-berai.” Gu Mu paham bahwa dalam hal strategi perang, Jenderal Meng dan Shen Ci mungkin jauh lebih unggul darinya. Ia lahir di zaman damai, tak memiliki keahlian dalam bidang ini.
“Menangkap pemimpin lebih dulu, strategi perang dan taktik, aku percayakan pada kalian. Aku akan berupaya semaksimal mungkin untuk menewaskan para jenderal musuh,” ucap Gu Mu tenang.
Ia tahu diri, tidak mencampuri hal-hal yang bukan keahliannya, sekalipun ia adalah Wali Raja yang kekuasaannya melampaui siapa pun. Terkadang, kedudukan tidak berarti mampu dalam segala hal. Kemampuan memilih orang yang tepat dan tahu menahan diri juga merupakan sebuah keahlian.
Tatapan Jenderal Meng dan Shen Ci pada Gu Mu dipenuhi rasa hormat. Awalnya mereka mengira, Wali Raja muda yang pernah menciptakan nama besar di puncak menara di tengah kudeta sang Permaisuri, pasti memiliki sifat congkak dan gegabah karena kekuasaan besar yang dimilikinya. Bahkan sebelum Gu Mu datang, mereka sudah bersiap jika tuanku bertindak sembrono dalam memberi perintah. Saat itu, mereka bertekad akan menjelaskan risiko yang ada, walau harus mempertaruhkan nyawa sekalipun.
Mereka percaya pada sang Wali Raja, sebab ia telah menunjukkan kebijaksanaan saat menanggulangi bencana di Jiangnan dan menyembuhkan penyakit dengan penisilin. Namun tetap saja, usianya masih sangat muda.
Tak disangka, sang Wali Raja memiliki kedewasaan di balik usia mudanya. Kini, ia dengan lapang dada menyerahkan urusan strategi pada mereka yang benar-benar ahli dan telah belajar sejak kecil. Dalam hati, mereka sungguh bersyukur.
Namun, ketika tuanku berkata akan turun tangan membunuh para jenderal musuh sendiri...
“Tuanku, itu terlalu berbahaya!” seru Shen Ci cemas.
Bahkan Jenderal Meng pun menghunus pedangnya, “Tugas itu terlalu berisiko, Tuanku! Biarlah aku saja yang melakukannya!”
“Aku tak pernah takut pada bahaya,” Gu Mu tersenyum tipis.
Bagaimanapun juga, ia memiliki tujuh puluh tujuh poin, cukup untuk menukar dua butir Pil Kebangkitan. Itu berarti ia punya dua nyawa tambahan. Selain itu, setiap membunuh satu orang, ia bisa mendapat satu hingga dua poin. Di medan pertempuran ini, selama ia bertempur habis-habisan, ia pasti bisa mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya.
Jika ia ingin negeri ini sesuai keinginannya, mana mungkin ia hanya bersembunyi di belakang dan menikmati hasil kerja orang lain? Negeri ini hanya bisa diraih dengan darah dan perjuangan, setiap jengkalnya direbut kembali dari tangan musuh.
“Berikan padaku daftar nama para jenderal musuh,” ucap Gu Mu. Lebih dari seratus ribu pasukan musuh, tentu bukan hanya satu jenderal yang memimpin.
“Ada lima orang,” Shen Ci membuka sebuah gulungan, di dalamnya ada gambar wajah dan nama di pojok kanan bawah.
“Itulah seluruh informasi yang kami dapatkan. Mereka tak banyak memperlihatkan diri, jadi kami belum mengetahui kelemahan lima jenderal ini, hanya berhasil menyelidiki nama mereka.”
Di bawahnya, ada empat lembar kertas lagi berisi gambar empat jenderal lainnya.
Gu Mu memperhatikan dan menghafal satu per satu dalam hati.
Wu Yang
Rong Lü
Feng He
Ma Chong
Lin Jun
Ia menyesuaikan gambar dan nama kelima jenderal itu dalam pikirannya, lalu memberi isyarat agar Shen Ci menyimpan kembali gulungan tersebut.
“Informasi ini sudah cukup,” ujar Gu Mu. Jika para jenderal musuh tewas, pasukan musuh akan kehilangan pemimpin, pasti kacau balau.
Shen Ci dikenal cerdik, bahkan di ibu kota ia masyhur akan pengetahuan dan keberaniannya. Karena itulah saat sistem menugaskan Shen Ci ke perbatasan, Gu Mu tidak segera memanggilnya pulang. Ia ingin mendidiknya lebih jauh, agar kelak bisa memegang amanat besar.
“Tuanku,” Shen Ci menganalisis situasi dengan sungguh-sungguh, “Para jenderal itu mungkin sudah memperkirakan kita akan bertindak nekat, rela mengorbankan apa pun untuk membunuh mereka demi peluang hidup. Karena itu, mereka biasanya memimpin dari belakang, sangat jarang tampil di medan tempur. Untuk membunuh mereka, kita harus menerobos puluhan ribu pasukan lawan yang menjadi perisai mereka.”
“Selain itu, kelima jenderal itu memiliki keahlian bela diri tinggi. Tanpa ribuan pasukan yang melindungi pun, membunuh salah satu dari mereka saja sudah sangat sulit, apalagi semuanya.”
Shen Ci bicara apa adanya, menjelaskan situasi di medan perang. Musuh berjumlah seratus ribu, jauh melebihi pasukan Dinasti Selatan. Para jenderal itu tak perlu turun langsung ke garis depan.
“Yang lebih penting…” Shen Ci menambahkan lirih, “Kehadiran Tuanku di markas saja sudah memberi semangat pada para prajurit, tidak perlu melakukan hal yang paling berbahaya.”
Bagaimanapun, Tuanku adalah seorang pangeran, bukan panglima. Ia seharusnya duduk di singgasana, mengatur negeri dari atas, bukan mempertaruhkan nyawa di medan laga.
“Engkau keliru. Justru karena ini yang paling berbahaya, akulah yang harus melakukannya.”
Semakin berbahaya suatu tugas, semakin tinggi nilai prestasinya. Dan makin tinggi nilai prestasi, makin banyak poin yang bisa ia dapatkan untuk menukar barang di toko sistem. Ia pun bertanya-tanya, akankah nilai prestasi dan poin antagonis yang terkumpul dari perang kali ini bisa membuka barang baru di sistem?
Tatapan Shen Ci dan Jenderal Meng penuh haru. Jika punya raja seperti ini, apalagi yang bisa diharapkan seorang bawahan?
“Hamba bersumpah akan setia mendampingi Tuanku sampai akhir hayat!” seru mereka lantang.
Mereka tidak lagi membujuk, melainkan menyatakan tekad bulat mereka dengan sumpah yang menggetarkan.
“Walau menempuh alam baka, hamba akan tetap mendampingi Tuanku.”
Keluar dari tenda, Gu Mu menuju barak prajurit yang terluka. Meski masih ada enam ribu lebih prajurit tersisa, tak satupun yang tak mengalami luka. Setelah berhari-hari bertempur tanpa henti, seluruh prajurit kelelahan dan tubuh mereka penuh luka.
Karena tempat tidur di barak luka terbatas, tempat itu kini hanya digunakan saat mereka mengganti perban. Selebihnya, mereka tinggal di tempat semula. Saat ini, ada puluhan prajurit yang sedang mengganti perban di barak luka.
“Aduh…” Seorang prajurit meringis menahan sakit karena dinginnya luka, “Syukurlah Tuanku membagikan penisilin pada kami. Kalau tidak, dengan luka sebanyak ini dan cuaca sepanas ini, pasti luka-luka ini akan bernanah dan tak kunjung sembuh.”
“Benar, aku seperti dapat kesempatan kedua untuk hidup. Paling menakutkan itu, bukan mati di medan perang, tapi disiksa luka yang tak kunjung sembuh hingga mati perlahan.”
“…Salam hormat, Tuanku!” Tiba-tiba seorang prajurit melihat Gu Mu, langsung turun dari ranjang dan berlutut di tanah.
Tuanku benar-benar datang untuk memimpin pasukan sendiri.
Dalam sekejap, para prajurit yang semula putus asa karena perang berlarut-larut, kini matanya kembali bersinar terang.
Ternyata, mereka bukanlah pion yang dikorbankan. Segala jerih payah mereka kelak akan menjadi bagian dari sejarah.
Kehadiran Tuanku di medan perang membuktikan mereka tidak ditinggalkan.
“Tuanku, kami masih sanggup bertempur!” Saat itu, terdengar suara muda penuh semangat.
Gu Mu menoleh ke arah suara itu, ternyata itu adalah pemuda yang pernah menunjukkan kesadaran moral yang tinggi, Wang Shiqiang.