Bab Lima Puluh: Berhadapan Langsung dengan Kaisar Hongwu!
"Titah Baginda Raja, dipersilakan Fuma Duwei Qian Kuan menghadap!"
Di luar Istana Qianqing, tatkala Qian Kuan masih menghela napas pasrah karena amanat tulus dari kakak iparnya, sebuah suara pengumuman yang agak melengking tiba-tiba terdengar di telinganya.
"Adik ipar, keselamatan Guru Song sepenuhnya berada di tanganmu!"
Mendengar pengumuman dari kasim tersebut, sebelum Qian Kuan sempat berkata apa-apa, Zhu Biao kembali menepuk bahunya dengan penuh kesungguhan.
"Aduh, hamba akan berusaha sebaik mungkin!"
Menghadapi titah penuh makna dari sang Putra Mahkota, Qian Kuan yang sebelumnya tampak sangat percaya diri dengan analisisnya, kini mulai merasa gentar ketika kenyataan benar-benar berada di depan mata.
Mau bagaimana lagi, sosok yang harus dihadapinya saat ini bukanlah Zhu Yuanzhang yang ramah dan mudah diajak bicara seperti saat ia menyamar menjadi Tang He dahulu, melainkan Kaisar Hongwu yang kejam dan keji!
……
"Hamba Qian Kuan, menghadap Baginda!"
Di aula utama Istana Qianqing, begitu melangkah masuk dan bahkan belum sempat melihat dengan jelas rupa Zhu Yuanzhang sebagai kaisar di atas singgasananya, ia sudah harus membungkuk dan memberi hormat terlebih dahulu di bawah bimbingan sang kasim pengarah.
Ngomong-ngomong, terpengaruh oleh drama sejarah masa depan, sebelum memasuki istana Qian Kuan awalnya mengira bahwa menghadap kaisar pasti harus melakukan ritual bersujud tiga kali dan menunduk sembilan kali.
Namun kemudian, setelah mendengarkan penjelasan kakak iparnya mengenai etika istana, baru ia tahu bahwa ritual bersujud yang sering muncul dalam drama sejarah masa depan itu sebenarnya hanyalah adat istiadat asing yang dibawa oleh Dinasti Yuan Mongol dan kemudian oleh bangsa Tatar di masa lalu.
Sebagai Dinasti Ming yang didirikan oleh bangsa Han, jauh pada tahun keempat masa Hongwu, Zhu Yuanzhang telah menghapuskan aturan sujud asing yang mulanya tercantum dalam *Da Ming Huidian*. Ia menetapkan bahwa selain pada perayaan Tahun Baru, hari pertama dan kelima belas setiap bulan, serta kegiatan besar seperti upacara pemujaan langit, bahkan dalam pertemuan rutin sehari-hari pun para pejabat tidak perlu bersujud, melainkan cukup membungkuk dan memberi hormat.
Oleh karena itu, Qian Kuan tentu saja merasa senang karena tidak perlu bersujud dan membenturkan kepala ke lantai.
"Huh, hamba?"
Namun, di luar dugaan Qian Kuan, tepat ketika ia sedang membungkuk dalam-dalam, sebuah dengusan dingin yang sarat ketidakpuasan tiba-tiba terdengar di telinganya.
"Ehem, Yang Mulia 'Fuma'!"
Tatkala Qian Kuan masih merasa bingung akibat dengusan dingin yang penuh ketidakpuasan dari Zhu Yuanzhang itu, diiringi oleh deheman kecil, suara kasim pengarah tadi kembali terdengar di telinganya, sengaja menekankan kata 'Fuma' (suami putri).
'Ck, katanya sujud itu adat asing, tapi ternyata bermuka dua!'
Mendengar pengingat dari sang kasim, Qian Kuan seketika memahami maksudnya dan juga mengerti tujuan di balik dengusan dingin Zhu Yuanzhang barusan.
"Menantu menghadap Ayahanda Kaisar!"
Di bawah pengingat kasim pengarah, setelah memahami maksud Zhu Yuanzhang, Qian Kuan yang tadinya merasa bersyukur karena tidak perlu bersujud, kini terpaksa mengubah sebutannya dan kembali membungkuk untuk bersujud.
Mau bagaimana lagi, seorang pejabat dalam tugas sehari-hari memang tidak harus bersujud kepada kaisar, tetapi seorang menantu yang berlutut di hadapan mertuanya sama artinya dengan berlutut kepada orang tua sendiri, termasuk junior yang berlutut kepada senior, sehingga hal itu sudah sepatutnya dilakukan.
"Bagus, menantuku, silakan bangkit!"
Seiring dengan perubahan Qian Kuan yang melakukan ritual berlutut, Zhu Yuanzhang pun mengubah eksporsinya, memintanya berdiri dengan nada suara yang terbilang tenang.
"Apakah urusan cucuku yang meminta agar Song Lian pergi ke sekolah desa untuk menjadi guru itu merupakan ajaran darimu, 'menantuku'?"
Namun, bahkan sebelum tubuh Qian Kuan tegak sepenuhnya, sebuah pertanyaan bernada dingin yang sulit ditebak perasaannya kembali menusuk pendengarannya.
'Apa, menyuruh Song Lian pergi ke sekolah desa menjadi guru? Aku kan hanya memberikan usulan hukuman pengasingan bagi pelaku kejahatan, kapan aku pernah bilang... Sialan kau Zhu Biao, sekali lagi kau menjebakku!'
Mendengar interogasi dari Zhu Yuanzhang itu, Qian Kuan seketika tidak dapat menahan diri untuk mengacungkan jari tengah dalam hati kepada Zhu Biao yang saat itu sedang menunggu kabar di luar Istana Qianqing.
Tanpa perlu ditebak lagi, cara yang selangkah lebih maju daripada usulan awalnya ini pasti merupakan perbuatan sang Putra Mahkota yang 'murah hati dan penyayang' itu.
"Ehem... Cucu Kekaisaran cerdas dan gemar belajar serta memiliki belas kasih kepada rakyat... Sekolah desa yang dikelola oleh menantu hanyalah tempat bagi guru-guru biasa. Jika bisa memiliki sarjana besar seperti Guru Song untuk mengajar, tentu akan mampu mencetak lebih banyak insan berbakat sebagai pilar negara bagi Dinasti Ming kita..."
Qian Kuan yang sempat tertegun sejenak akibat ulah Zhu Biao, melirik sekilas ke arah Zhu Yuanzhang yang masih menggendong Zhu Yingying di atas singgasana tanpa menunjukkan amarah di wajahnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung melimpahkan seluruh masalah ini kepada Zhu Yingying selaku Cucu Kekaisaran, dan enggan mengakui 'kesalahannya'.
Candaan macam apa ini, pepatah mengatakan bahwa mengaku jujur akan memperingan hukuman namun mendekam di penjara seumur hidup, sedangkan menolak akan diperberat namun paling lama setengah tahun. Jika ia mengakuinya, siapa yang tahu apa yang akan dilakukan oleh Zhu Yuanzhang yang saat ini sedang menahan amarah.
Terlebih lagi, bukankah utang ayah harus dibayar oleh anak? Karena Zhu Biao telah menjebaknya, maka sudah sewajarnya jika ia meminta putranya untuk menanggung kesalahan ini.
"Du Andao, bawa cucuku pergi ke tempat Permaisuri terlebih dahulu, aku ingin 'berbincang' secara baik-baik dengan menantuku!"
Jelas sekali, Zhu Yuanzhang sudah sejak lama menduga sikap Qian Kuan yang menolak mengakui kesalahan tersebut. Belum sempat Qian Kuan menyelesaikan kata-katanya, ia sudah menyerahkan Zhu Yingying yang tadinya digendong ke tangan Du Andao, Kepala Pelayan Istana yang melayani di dekatnya.
'Celaka, perhitunganku meleset!'
Melihat Zhu Yingying dibawa pergi, hati Qian Kuan seketika terasa berdegup kencang.
……
"Bocah tengik, hebat juga nyalimu! Aku sudah menunjukkan belas kasihan di luar hukum dengan mengampuni nyawa orang tua Song Lian itu, serta berkali-kali melarang siapapun untuk memohonkan keringanan baginya. Kamu ini... Katakan, siapa yang menghasutmu untuk membela para pemberontak itu?"
Begitu Zhu Yingying yang dijadikan kambing hitam oleh Qian Kuan dibawa pergi, bagaikan seseorang yang mengubah ekspresi wajahnya, Zhu Yuanzhang yang tadinya tampak tenang dalam sekejap mata langsung berubah wajah, menatap tajam ke arah Qian Kuan dengan tatapan penuh niat membunuh yang mengerikan.
'Masih tanya siapa lagi, selain anak kesayanganmu itu memangnya siapa lagi!'
Melihat Zhu Yuanzhang yang menunjukkan kemarahan kejam yang sangat berbeda dari saat ia menyamar sebagai Tang He, Qian Kuan mau tidak mau menggerutu dalam hati.
"Menjawab Baginda, hamba..."
Menggerutu tetaplah menggerutu, di hadapan Kaisar Hongwu yang sedang murka, ia sama sekali tidak berani benar-benar mengucapkan kata-kata itu untuk memperkeruh suasana. Oleh karena itu, ia bersiap mengikuti rencana awal dengan menggunakan nama Cucu Kekaisaran Zhu Yingying untuk membujuk lewat pendekatan emosional.
"Hm?"
Namun, sebelum ia sempat merampungkan kalimatnya, Zhu Yuanzhang yang tadinya berwajah murka justru kembali mengoreksi cara panggilannya.
"Ehem, Ayahanda Kaisar tentu tahu sifat pemalas menantu, mana mungkin menantu punya waktu luang untuk disetir oleh orang lain. Hanya saja, menantu merasa bahwa tindakan Ayahanda yang langsung mengasingkan Tua Renta Song ke Maozhou itu terlalu meringankan hukumannya!"
Qian Kuan yang awalnya bersiap menjalankan rencana semula, mendadak merasa gembira di dalam hati menghadapi kerepotan Zhu Yuanzhang yang tiba-tiba mempersoalkan detail kecil tersebut, sehingga ia pun seketika mengubah kata-katanya.
Bercanda, dengan watak Kaisar Hongwu, jika saat ini beliau benar-benar semurka yang ditampilkannya, mana mungkin beliau masih sempat mempedulikan apakah menantunya memanggilnya Ayahanda Kaisar atau Baginda.
"Mau mencoba memprovokasi kemarahanku? Huh, bocah sepertimu masih terlalu hijau!"
Benar saja, persis seperti dugaan Qian Kuan, meskipun langsung melihat melalui 'provokasi' yang dilakukannya, lewat dengusan dingin tersebut, rona kemarahan di wajah Zhu Yuanzhang justru mereda separuhnya.
"Hehe, mana berani menantu bermain-main dengan trik provokasi di hadapan Ayahanda Kaisar, menantu benar-benar merasa bahwa hukuman pengasingan semata belumlah cukup untuk menghukum tua renta Song itu..."
Melihat tebakannya tidak meleset, Qian Kuan pun memanfaatkan momentum itu untuk terus menekankan argumen yang baru saja diubahnya secara mendadak.
"Huh, jangan dikira aku tidak tahu kelicikan kecilmu itu. Bukankah ini hanya cara berputar-putar untuk memohonkan keringanan bagi orang tua itu? Katakanlah, aku ingin melihat trik baru apa lagi yang bisa kamu mainkan kali ini."