Sejak huruf pertama muncul dalam peradaban manusia, warisan agung peradaban manusia pun dimulai, dan berkembang menjadi budaya yang gemilang dan penuh cahaya. Namun, alam semesta ini tidak tercipta un
“Peradaban manusia kita tampak begitu megah dan menakjubkan. Kita bisa menembus gunung-gunung, menguruk laut menjadi daratan, bahkan mengendalikan hujan... Peradaban manusia tampak sangat kuat. Namun, itu semua hanya di permukaan. Faktanya, kita sangat rapuh, sungguh rapuh.” Li Qi meneguk sedikit anggur, lalu perlahan berkata kepada Zhao Huasheng yang duduk di hadapannya.
Li Qi tampak sedang memikirkan sesuatu, tapi mungkin juga tidak. Tatapan matanya begitu kosong, seolah pikirannya telah melayang jauh ke tempat yang tidak diketahui.
Zhao Huasheng selalu sangat menghormati seniornya ini. Sejak masih menempuh pendidikan doktor, Zhao Huasheng sudah magang di Institut Penelitian Fisika Bintang di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Pusat Aliansi, saat itu ia menjadi bawahan Li Qi. Keahlian Li Qi dalam fisika bintang selalu membuat Zhao Huasheng kagum.
“Mungkin begitu,” jawab Zhao Huasheng, “tapi peradaban manusia terus berkembang. Aku yakin, dalam waktu yang tak lama lagi, kita benar-benar akan menjadi kuat.”
Li Qi menghela napas. Ada seberkas cahaya yang sulit diungkapkan dalam matanya, seperti kesedihan, namun juga seperti penderitaan.
Li Qi berdiri dan melangkah ke jendela restoran di gedung tinggi itu. Melalui kaca jendela, panorama malam kota yang gemerlap terbentang luas. Cahaya lampu berkilauan, seolah menutupi kemilau bulan di langit. Di jalanan, deretan lampu kendaraan melingkar bagai naga cahaya. Bahkan dari ketinggian ratusan meter di atas tanah ini, suara hiruk-pikuk dari bawah seakan masih dapat terdengar.
Waktu sudah menunjukkan