Bab Seratus Dua Puluh Tujuh: Seorang Pertapa?
Kilatan cahaya dingin melintas di mata Su Yan. Tubuhnya tiba-tiba mencondong ke depan, tangan kanannya melesat mencengkeram pergelangan tangan Zheng Yu. Dengan sedikit sentakan, ia mematahkan tulang pergelangan tangan pria itu. Kemudian, kaki kanannya yang diselimuti cahaya keemasan samar menghantam pinggang Zheng Yu dengan keras. Zheng Yu menjerit pilu, memuntahkan darah, dan tubuhnya terlempar bak layang-layang putus sebelum jatuh berdebam ke tanah.
Serangan Su Yan tidak main-main, hampir melumpuhkan Zheng Yu di tempat. Pria itu terbatuk-batuk mengeluarkan darah, pinggangnya tampak remuk, dan pemandangan mengenaskan itu membuat orang-orang di sekitar menarik napas panjang, meski dalam hati mereka merasa puas.
Zheng Yu memegangi pinggangnya dengan kesakitan, lalu dengan susah payah berusaha berdiri, menatap Su Yan dengan sorot mata penuh ketakutan.
Namun, Su Yan belum berniat berhenti. Sosoknya berkelebat di samping Zheng Yu, mengangkat tangan, dan menamparnya hingga pria itu kembali terpelanting dengan gigi-gigi yang rontok berhamburan ke tanah.
Melihat sosok Zheng Yu yang babak belur, orang-orang di sekitar mengepalkan tangan dengan diam-diam, hati mereka terasa lega. Zheng Yu di Pasar Timur adalah sosok yang dibenci semua orang; ia angkuh, kejam, dan menindas rakyat kecil. Hari ini, melihat Su Yan menghajarnya habis-habisan, mereka merasa sangat puas.
Su Yan menatap Zheng Yu dengan dingin dan melangkah mendekat dengan tenang.
Zheng Yu kini ketakutan setengah mati. Ketangguhan Su Yan telah meruntuhkan nyalinya. Ia yang biasanya hanya berani menindas yang lemah kini berhadapan dengan sosok ganas, membuatnya kalut dan takut jika Su Yan akan benar-benar membunuhnya.
"Kau... jangan mendekat. Kakak iparku adalah pejabat istana. Dia pasti sudah tahu kejadian ini dan akan segera datang, jangan keterlaluan!" Zheng Yu menggeser tubuhnya mundur dengan susah payah, suaranya terdengar gertak sambal.
Su Yan mencibir, lalu kembali menendangnya hingga terpental, seraya berkata, "Jangan bawa-bawa kakak iparmu itu, bahkan jika kaisar sendiri yang datang, aku tetap akan menghajarmu!"
"Hmph, sombong sekali!" Begitu Su Yan selesai bicara, sebuah suara yang agak melengking tiba-tiba terdengar dari samping.
Di tengah kerumunan yang menyingkir, muncul sesosok pria berjubah abu-abu, berusia sekitar empat puluh tahun. Wajahnya bersih, dengan beberapa helai janggut tipis di dagunya. Ia tampak angkuh, dagunya terangkat tinggi, dan matanya yang berbentuk segitiga memancarkan tatapan meremehkan.
"Tuan Qin? Tuan, selamatkan aku!" Zheng Yu yang tadinya hampir pingsan karena kesakitan, tiba-tiba mendengar suara itu seolah menemukan penyelamat. Ia merangkak mendekati pria itu, mencengkeram jubahnya, dan memohon dengan suara parau.
Pria itu melirik Zheng Yu dengan sedikit jijik, namun tetap membantunya berdiri. Ia mengeluarkan botol giok dari lengan bajunya dan memberikan sebutir pil kepada Zheng Yu untuk ditelan.
Zheng Yu yang tadinya nyaris mati perlahan mulai pulih. Meski lukanya belum sembuh total, ia kini sudah memiliki kekuatan untuk berdiri.
Su Yan mengernyitkan dahi. Saat menatap Tuan Qin itu, ia merasakan sesuatu yang janggal. Kemudian, ia melihat simbol Bagua tersulam di jubah pria tersebut, yang memberinya firasat buruk.
"Wahai anak muda, kau tahu siapa orang ini?" Pria itu menunjuk ke arah Zheng Yu sambil mencibir ke arah Su Yan.
"Hanya seekor tikus got," jawab Su Yan datar.
"Hmph, dia adalah adik ipar dari Tuan Li yang menjabat di istana. Keberanianmu melukainya berarti kau telah membuat masalah besar."
"Aku memukulnya karena dia pantas dipukul, lantas apa yang bisa kau lakukan padaku?"
"Hmph, masih berani membangkang. Lihat bagaimana aku menangkapmu untuk diserahkan kepada Tuan Li!" seru pria itu dingin. Ia menatap Su Yan dengan pandangan meremehkan, seolah Su Yan hanyalah mangsa yang sudah berada dalam genggamannya.
"Itu tergantung apakah kau punya kemampuan untuk melakukannya," jawab Su Yan sambil berdiri dengan tangan di belakang punggung, tersenyum.
Saat itu, Zheng Yu kembali mendapatkan keberaniannya. Ia melangkah maju dan menunjuk Su Yan sambil memaki, "Jangan sombong, bocah! Kau tahu siapa orang ini? Jangan kira kau punya sedikit kemampuan lantas kau bisa bertindak sesuka hati!"
"Memangnya siapa dia?" Su Yan menatap Zheng Yu yang kembali bersikap angkuh dengan geli.
"Tuan Qin ini adalah ahli yang mengabdi di rumah kakak iparku. Dia adalah seorang praktisi Tao yang mulia. Ilmu Tao-nya sangat luar biasa, bagimu yang tidak berkelas ini, dia bisa meremukkanmu seperti semut kapan saja."
"Praktisi Tao?" Meski raut wajah Su Yan tidak berubah, hatinya bergejolak. Orang biasa di depannya ini ternyata adalah seorang praktisi Tao? Ia pun mulai mengamati pria itu dengan saksama.
Sejak tiba di dunia ini, ia selalu mendengar betapa misterius dan menakutkannya para praktisi Tao. Tak disangka, hari ini ia bertemu langsung dengan salah satunya. Selain rasa khawatir, ada sedikit rasa antusias untuk melihat apa sebenarnya kehebatan seorang praktisi Tao.
"Bagaimana? Takut, ya?" Zheng Yu melihat Su Yan diam saja, mengira pria itu sudah ketakutan, lalu tertawa terbahak-bahak dengan angkuh.
Orang-orang di sekitar yang mendengar ucapan Zheng Yu merasa terperangah. Mereka mungkin terbiasa melihat ahli bela diri, namun praktisi Tao bagi mereka hanyalah sosok legendaris yang dianggap seperti dewa. Selain terkejut, mereka mulai merasa khawatir akan nasib Su Yan.
Su Yan tidak membuang waktu meladeni Zheng Yu. Fokusnya kini tertuju pada pria Tao itu. Ia bersikap waspada dan tidak berani meremehkan, karena ini adalah pertama kalinya ia berhadapan dengan seorang praktisi Tao.
Pria Tao itu pun memandang Su Yan dengan hina dan mencibir, "Bocah, jika kau berlutut dan menyerah sekarang, masih ada waktu. Jangan paksa aku untuk bertindak, atau kau akan menyesal."
"Lelucon macam apa ini, menyuruhku menyerah? Kemarilah, biar kulihat seberapa hebat kemampuanmu sebagai praktisi Tao!" seru Su Yan dingin.
"Hmph, mencari mati!"
Melihat Su Yan tidak patuh, pria Tao itu murka karena martabatnya merasa terusik. Sorot matanya menjadi tajam, bersiap untuk menghajar Su Yan.
Karena ini adalah pertarungan pertama melawan praktisi Tao, Su Yan tidak berani gegabah. Ia melesat lebih dulu, menghentakkan kakinya kuat-kuat, lalu menerjang ke arah pria itu bagaikan angin puyuh.
"Hmph, Teknik Langkah Cepat!"
Melihat Su Yan menerjang, pria Tao itu mencibir. Ia menyatukan kedua telapak tangannya, jari-jarinya bergerak cepat merangkai segel yang rumit dan samar. Tiba-tiba, angin puyuh muncul dari tanah, membawa tubuhnya melesat mundur dengan cepat, membuat serangan Su Yan meleset.
Pria itu mengarahkan jarinya ke samping. Sebatang kayu yang patah tiba-tiba melayang dan melesat secepat kilat ke arah Su Yan, diiringi suara desingan udara yang tajam.
Mata Su Yan berkilat. Ia mengangkat telapak tangannya dan menghantam kayu yang meluncur ke arahnya. Cahaya keemasan berpendar, menghancurkan kayu itu menjadi serpihan. Namun, telapak tangan Su Yan terasa nyeri. Meski ringan, hal itu membuatnya sangat terkejut. Ia kini berada di tingkat puncak Alam Shaoshi, kulitnya telah ditempa oleh energi Yuan Emas Geng dan sangat keras, namun serangan kayu yang digerakkan oleh pria Tao itu mampu membuat telapak tangannya sakit.
"Praktisi Tao ternyata memang luar biasa," batin Su Yan, matanya menjadi semakin waspada.