Bab Seratus Lima: Ketenangan
Li Yueze menuangkan secangkir air, meminumnya dengan rakus, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri sebelum berkata, "Lumayanlah, bisa dibilang lancar."
"Baguslah kalau lancar," kata Su Yan sambil tersenyum tanpa banyak berkomentar.
"Cih, orang kenyang tidak tahu rasanya kelaparan. Kudengar kali ini kau membuat kehebohan yang cukup besar, ya?" Li Yueze memutar bola matanya dan berbaring di tempat tidur sambil berkata.
"Hah? Aku tidak tahu apa-apa," sahut Su Yan terkejut dengan tatapan bingung.
"Saat aku keluar tadi, aku melihat banyak murid yang kasak-kusuk. Mereka bilang ada orang bernama Su Yan yang berhasil mengalahkan pasukan musuh hanya dalam waktu setengah jam setelah pertempuran dimulai, lalu kembali. Hal itu menarik perhatian para petinggi."
"Dalam peperangan, kecepatan tidak membuktikan apa-apa. Kekalahan yang runtuh bagaikan gunung itu hal yang biasa," kata Su Yan dengan santai.
"Pamer," gumam Li Yueze pelan, menganggap ucapan itu sebagai bentuk kerendahan hati yang dibuat-buat oleh Su Yan.
Su Yan terdiam, menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, lalu mengalihkan pembicaraan, "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan situasimu? Coba ceritakan."
"Tidak sehebat dirimu. Bagaimana ya mengatakannya? Lumayanlah," Li Yueze menghela napas, lalu menceritakan garis besar jalannya pertempuran yang ia hadapi.
Su Yan mendengaran dengan saksama sambil mengatupkan bibir. Setelah berpikir sejenak, ia berkata, "Pertempuran yang bagus. Kau mengendalikan situasi dengan sangat baik, gayamu tajam, tidak bertele-tele, dan tak terbendung."
Li Yueze mengangguk, lalu tersenyum pahit dan berkata, "Kalau dipikir-pikir, akademi ini memang sangat ketat. Pertempuran pertama saja sudah seperti itu, kekuatan pasukan musuh hampir dua kali lipat dari pasukan kita. Entah situasi pertempuran gila macam apa lagi yang akan mereka buat untuk babak penyisihan berikutnya."
"Haha, itu wajar saja. Bagaimanapun, ini adalah seleksi untuk anggota Paviliun Strategi Militer, calon jenderal kekaisaran di masa depan. Tentu saja standarnya harus ketat."
"Ya, benar juga. Tapi kau jangan terlalu lengah. Di angkatan kita ini, ada orang yang tidak kalah hebat darimu. Sejauh yang kuketahui, ada satu orang yang berasal dari keluarga jenderal turun-temurun. Bakatnya luar biasa, kemungkinan besar dia akan menjadi musuh terberatmu selanjutnya," kata Li Yueze dengan serius saat tiba-tiba teringat hal itu.
"Ya, aku tahu. Istana Jenderal adalah tempat berkumpulnya para naga dan harimau yang tersembunyi, aku tidak akan lengah," Su Yan pun mengangguk setuju.
"Meskipun metode ujian di Istana Jenderal ini sangat unik dan sangat mendekati medan perang yang nyata, aku masih merasa ada yang kurang pas, seperti ada yang membatasi gerak-gerik kita," kata Li Yueze sambil mengernyitkan dahi.
"Tentu saja," desah Su Yan. "Pasukan yang kau pimpin sama sekali bukan prajurit sungguhan. Mereka telah terperangkap di Menara Tongtian selama bertahun-tahun, keberanian mereka telah lama padam, dan tidak ada moral tempur sama sekali. Di sisi lain, musuhmu bertempur mati-matian demi mendapatkan kebebasan, sehingga mereka selalu bertarung sampai titik darah penghabisan dan tidak akan pernah mundur. Dari poin ini saja, tingkat kesulitan pertempuran sudah jauh melampaui kenyataan."
"Medan perang adalah hal paling menakjubkan di dunia ini, tidak ada rumus yang pasti. Faktor sekecil apa pun bisa mengubah jalannya pertempuran. Sementara di Menara Tongtian, seluruh situasi pertempuran sudah ditentukan sejak awal, sehingga tidak ada faktor tak terduga dari luar. Hal ini sangat membatasi kemampuan sang komandan. Jadi, metode ini memiliki kelemahan yang besar karena terlalu berbeda dengan medan perang yang sesungguhnya."
"Dasar tidak normal," Li Yueze mendelik ke arah Su Yan. Tapi itu wajar saja, siapa pun yang mempelajari strategi militer pasti akan merasa tertekan jika disandingkan dengan orang seperti Su Yan, karena perbedaan kemampuan mereka terlalu jauh. "Aku benar-benar tidak tahu terbuat dari apa otakmu itu. Kau ini monster yang diciptakan khusus untuk medan perang, mengerikan sekali."
Su Yan tertawa geli, merasa pasrah dengan penilaian Li Yueze. Mengenai strategi militer, Su Yan tampaknya memang memiliki ketertarikan alami dan bakat yang luar biasa. Sayangnya, di kehidupan sebelumnya yang relatif damai, keahlian ini jarang bisa digunakan. Baru setelah datang ke dunia inilah bakatnya mulai bersinar.
Keduanya mengobrol hingga larut malam sebelum akhirnya tertidur lelap. Pertempuran hari ini telah menguras banyak tenaga mereka, sehingga tidur mereka malam ini terasa sangat nyenyak.
Hasil babak penyisihan belum keluar, dan babak final baru akan diadakan tiga hari lagi. Karena itu, Su Yan memiliki waktu luang selama beberapa hari ini. Ia kembali mengikuti kelas dan menjalani rutinitas harian seperti biasa.
"Kudengar Asrama Strategi Militer kalian mengadakan latihan militer tiruan?" tanya Qiao Junyao tiba-tiba saat ia dan Su Yan berjalan berdampingan di jalan setapak.
"Ya," jawab Su Yan sambil tersenyum.
"Lalu, apakah kau ikut?"
"Menurutmu bagaimana?" Su Yan meliriknya dengan pasrah.
"Mana kutahu?" sahut Qiao Junyao sambil mengerucutkan bibirnya, terlihat sangat menggemaskan.
"Menurutmu, mungkinkah orang yang terkenal karena strategi militer sepertiku tidak ikut?" Melihat tingkah jenaka Qiao Junyao, Su Yan tidak bisa menahan diri untuk mencubit pipinya yang merona lembut. Kulit pipinya terasa hangat dan sehalus giok putih yang berharga.
"Duh, memangnya seberapa terkenal dirimu?" goda Qiao Junyao dengan wajah merona merah sambil menepis tangan Su Yan. "Kalau kau tidak mengatakannya, siapa yang tahu?"
"Kau saja yang kurang perhatian, dasar bodoh. Soal ketenaran, setelah pertempuran ini selesai, kurasa tidak akan banyak orang di akademi yang tidak mengenal kekasihmu ini," kata Su Yan sambil tertawa terbahak-bahak.
"Cari mati ya! Kekasih apa? Panggilan yang aneh sekali," Qiao Junyao merengut kesal dengan wajah yang memerah padam, lalu melayangkan kepalan tangan kecilnya ke arah Su Yan.
"Kenapa? Kau tidak mau mengakuinya, gadis nakal?" Su Yan merangkul bahu Qiao Junyao, lalu berbisik lembut tepat di dekat pipinya yang merona.
"Aku... aku..." Qiao Junyao merasakan hembusan napas hangat di telinganya, membuat hatinya terasa berdesir geli. Jantungnya berdegup kencang hingga ia kehilangan kata-kata dan hanya bisa bergumam pelan.
Sejak kecil, Qiao Junyao selalu menjadi mutiara kesayangan keluarganya. Di luar pun, ia adalah gadis jenius yang membuat banyak pemuda berbakat merasa minder. Ia belum pernah bertemu dengan orang seperti Su Yan, dan sama sekali tidak tahan dengan godaan seperti ini. Wajahnya memerah selagi ia terbata-bata, menunjukkan tingkah laku seorang gadis yang baru pertama kali jatuh cinta. Keanggunannya sebagai seorang dewi seketika sirna tanpa bekas.
Su Yan dengan lembut merangkul pinggang ramping Qiao Junyao dan menariknya ke dalam pelukan. Menatap wajahnya yang jelita—kulit putih mulus bagai giok yang kini merona merah—terlihat sangat menggoda bagaikan persik yang baru matang. Su Yan tidak bisa menahan diri untuk mengecup pipinya dengan lembut.
"Aduh, menyebalkan sekali! Apa yang kau lakukan? Banyak orang melihat..." Qiao Junyao memerah padam dan mendorong kepala Su Yan dengan manja. Ia kemudian menoleh ke sekeliling dengan cemas. Setelah memastikan tidak ada orang yang melihat, barulah ia kembali menatap Su Yan.
"Memangnya kenapa? Saling mencintai adalah hal yang wajar," kata Su Yan lembut sambil menempelkan dahinya ke dahi Qiao Junyao.
"Cih, kau pikir orang lain sama sepertimu yang... yang..." Qiao Junyao mencibir manja.
"Sama sepertiku dalam hal apa?" tanya Su Yan.
"Kau... dasar mesum. Sana, aku tidak mau memedulikanmu lagi," gerutu Qiao Junyao kesal. Ia mendengus dan mencoba mendorong Su Yan menjauh.
Su Yan tertawa terbahak-bahak dan memeluk erat Qiao Junyao tanpa membiarkannya melepaskan diri. Canda gurau mereka yang mesra itu tentu akan membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri.
Di tengah kemesraan mereka, sebuah suara yang mengganggu tiba-tiba terdengar, diiringi dengan nada kecemburuan yang sangat kentara.
"Aku sudah mencarimu ke mana-mana, ternyata kau malah bersembunyi di sini untuk bermesraan! Ini masih siang bolong, bisakah kalian menjaga sikap sedikit?"