Bab 134: Tirai Penutup
Lagu berjudul "Sepertinya Kita Pernah Bertemu" ini dinyanyikan oleh Yang Zongwei dan Ye Bei, dengan lirik serta aransemen yang digarap oleh Xiao Ke. Lagu ini bukanlah singel dari sebuah album, melainkan lagu penutup untuk sebuah drama televisi.
Drama tersebut ditayangkan pada tahun dua ribu tiga belas dan berhasil meraih angka penonton tertinggi sepanjang tahun, dengan total tayangan daring melebihi empat miliar, sekaligus memecahkan berbagai rekor dalam industri pertelevisian.
He Xiao pernah menonton drama ini melalui ponsel hitamnya. Pemeran utamanya secantik Zhang Ya, sempurna dari segala sudut, sementara pemeran pria sama biasanya dengan dirinya, hanya saja sedikit lebih tebal muka.
Keseluruhan drama ini sangat manis, penuh dengan adegan romantis dari awal hingga akhir. Selain itu, latar ceritanya berada di Yanjing, yang membuat He Xiao merasa sangat terhubung saat menontonnya.
Saat mendengar lagu penutup tersebut, ia benar-benar terkejut karena lagu itu sangat unik dan sangat mirip dengan kisah mereka berdua.
Maka, untuk program kali ini, karena harus menyanyikan lagu cinta duet pria dan wanita, He Xiao langsung teringat pada lagu tersebut.
Sebenarnya ada lagu duet yang lebih klasik dari ini. Ponsel hitamnya menyimpan kekayaan dunia, lagu apa pun bisa ditemukan. Namun, yang sesesuai "Sepertinya Kita Pernah Bertemu" memang jarang ada.
Para penonton di bawah panggung terbuai dalam melodi yang indah.
"Lagu ini benar-benar enak didengar."
"Iya, manis sekali."
"Saat suara Zhang Ya keluar, aku langsung terpaku, sangat anggun."
"Siapa yang bilang Zhang Ya tidak bisa menyanyi? Suruh dia keluar, akan kuhajar dia!"
"Pokoknya enak didengar, titik."
Para penonton sangat antusias. Mereka merasa tidak rugi datang ke rekaman acara malam ini. Bisa mendengar lagu cinta duet berkualitas tinggi, apalagi dibawakan langsung di atas panggung, sungguh memberikan kebahagiaan tersendiri.
Dibandingkan dengan beberapa artis muda yang melakukan lipsync sebelumnya, kualitas He Xiao dan Zhang Ya langsung terlihat jauh berbeda.
Xiao Wangnian menghela napas panjang dan berkata, "Ini baru namanya bernyanyi!"
Xu Tianheng menatapnya. Ucapan Xiao mengandung sindiran, jelas ditujukan kepada para artis muda yang hanya bermalas-malasan dengan lipsync demi uang, mereka telah melupakan esensi sebagai penyanyi.
Orang-orang seperti Zhang Ya dan He Xiao yang bernyanyi dengan sepenuh hati adalah penyanyi yang layak dihormati.
Cahaya di atas panggung berkelap-kelip. Keduanya bergandengan tangan, bak sepasang kekasih yang serasi, bernyanyi dengan lantang di hadapan seluruh penonton.
"Sepertinya kita pernah bertemu."
"Apakah kau ingat?"
"Saat itu kau masih seorang anak kecil."
"Aku berada di bawah jendela."
"Aku menebak namamu yang terukir di dinding."
"Aku melukis wajahmu di hadapan bulan sabit."
Saat mencapai bagian ini, lagu hampir berakhir. He Xiao menggenggam erat tangan Zhang Ya. Keduanya berputar, saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.
Para penari latar mengubah formasi mereka. Kamerawan mengambil gambar dari sudut pandang atas, membentuk pola hati yang besar.
Zhang Ya menatap mata He Xiao, "Saat kita tiba di kehidupan ini, masing-masing berada di ujung dunia."
He Xiao membalas dengan cara yang sama, "Saling memandang di ujung dunia, siapa sangka kita akan bertemu di kehidupan ini."
Zhang Ya tersenyum, "Masih bisa bertemu, semuanya terasa seperti—"
Keduanya bernyanyi bersama, "Seperti mimpi."
Kemudian, mereka saling melempar senyum penuh makna.
Dua orang yang sama sekali tidak memiliki kesamaan, bagaikan dua garis sejajar yang mustahil untuk bersinggungan, justru dipertemukan oleh takdir. Saling mengagumi satu sama lain, bukankah ini seperti mimpi?
He Xiao teringat sebuah pepatah: Wajah yang rupawan itu bisa ditemukan di mana-mana, namun jiwa yang menarik sulit untuk dicari.
Dan dua jiwa yang sama-sama menarik, itu adalah satu dari jutaan.
"Sepertinya kita pernah bertemu..."
Lirik terakhir lagu berakhir, melodi pun menutup. Penampilan He Xiao dan Zhang Ya selesai. Keduanya turun dari panggung, lampu berubah, lampion kembali menyala, mengembalikan suasana yang meriah seperti sebelumnya.
Pembawa acara pria berkata, "Terima kasih kepada dewi Zhang Ya dan rekan duetnya, He Xiao, yang telah membawakan lagu 'Sepertinya Kita Pernah Bertemu' untuk kita. Binzi di sini juga mendoakan agar semua orang mendapatkan keberuntungan besar di tahun 2017, cinta yang utuh, dan menemukan seseorang untuk menua bersama."
Binzi adalah nama pembawa acara tersebut. Pembawa acara wanita di sebelahnya menyambung, "Eh? Bicara soal menua bersama, ada seseorang yang sangat merasakannya. Mari kita beri tepuk tangan untuk aktor komedi terkenal Fei Lexian dan Duan Yuqing yang akan membawakan drama pendek 'Pasangan Tua'..."
Suara pembawa acara di depan panggung semakin mengecil. Acara berlanjut dengan tertib, sementara He Xiao dan Zhang Ya telah kembali ke belakang panggung.
Zhang Ya mengangkat kedua sisi gaun pengantinnya dengan tangan, berjalan dengan sepatu hak tinggi di depannya, lalu bertanya sambil tersenyum, "Bagaimana rasanya di panggung gala tahun baru?"
"Rasanya sangat luar biasa." He Xiao sedikit mengendurkan tubuhnya yang tegang, lalu menjawab dengan malu-malu, "Terima kasih Kak Ya atas kesempatan duet ini. Selain itu... kau yang mengenakan gaun pengantin terlihat sangat mirip dengan cinta."
"Benarkah?" Mendengar itu, Zhang Ya mengerjapkan matanya yang besar, tersenyum simpul, dan berkata, "Mulutmu manis sekali. Aku pergi ganti baju dulu."
Gaun pengantin yang ia kenakan memiliki model yang besar, ujung gaunnya terseret hingga ke lantai, sehingga sangat tidak nyaman dipakai.
Selain itu, biaya pembuatan gaun ini tidak murah. Gaun ini bukan dibeli sembarangan untuk acara, melainkan disewa dari toko gaun pengantin kelas atas di Yanjing. Gaun itu disebut sebagai harta karun toko, karya desainer ternama luar negeri, dibuat dengan tangan, dan biaya sewanya mencapai lima puluh ribu yuan per hari.
Sejujurnya, sebelum ini, He Xiao tidak menyangka ada pakaian yang bisa semahal itu. Bisa dibilang, kemiskinan telah membatasi imajinasinya.
Zhang Ya pergi berganti pakaian dengan santai karena bagian mereka sudah selesai. Dalam acara berdurasi tiga jam lebih itu, mereka hanya tampil selama tiga menit.
Namun, tiga menit ini ditakdirkan menjadi momen yang tak terlupakan. Mulai dari efek pencahayaan panggung, suasana yang terbangun, hingga duet He Xiao dan Zhang Ya yang mulus tanpa cela, semuanya adalah yang terbaik di antara seluruh rangkaian acara malam ini.
He Xiao kembali ke ruang tunggu untuk minum air dan beristirahat di sofa sejenak sebelum kembali ke kursinya di depan. Bukan karena He Xiao suka menonton acara tersebut, melainkan agar bisa mendapatkan durasi tayang di kamera.
Lao Lin juga duduk di bawah dengan riang, mengenakan pakaian tradisional Tiongkok berwarna hitam dengan syal merah melingkar di lehernya, tampak sangat meriah.
He Xiao membungkuk saat kembali ke kursinya. Zhang Ya tidak ada di sana, entah masih berganti pakaian atau sudah meninggalkan lokasi rekaman.
Lao Lin menatapnya dan bertanya sambil tersenyum, "Tahun ini merayakan tahun baru di Yanjing atau pulang ke kampung halaman? Kalau di Yanjing, silakan datang ke rumahku, kemampuan membuat pangsitku cukup lumayan."
Tubuh He Xiao sedikit menegang. Ia tidak menyangka di Yanjing yang keras ini, masih ada orang yang mengundangnya merayakan tahun baru. Hidungnya terasa perih, rasa haru membuncah.
"Terima kasih atas kebaikan Pak Lin, tapi tahun ini saya tidak merayakan tahun baru di Yanjing. Sudah dua tahun saya tidak pulang menemui orang tua saya. Tahun ini saya ingin pulang."
Lin Yunkai mengangguk tanpa memaksa, "Sampaikan salam tahun baru dariku untuk orang tuamu saat kau pulang nanti."
"Baik." He Xiao tersenyum, keduanya mengangkat teh herbal di meja dan bersulang.
Di atas panggung, dua penyanyi muda sedang bernyanyi duet. Suasana di tempat acara pun cukup bagus, namun dibandingkan dengan penampilan He Xiao tadi, masih kalah kelas.
Gala tahun baru direkam dari siang hingga malam, total lebih dari delapan jam. Di tengah jalan, banyak artis yang sudah pulang lebih awal. He Xiao, demi mendapatkan sedikit durasi tayang, tetap tinggal sampai rekaman benar-benar selesai.
Dari delapan jam lebih rekaman, setelah disunting, konten yang disiarkan hanya sekitar tiga jam saja. He Xiao tidak tahu berapa banyak durasi yang ia dapatkan, namun baginya, satu detik pun sangat berharga. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.
Pukul enam tiga puluh malam, He Xiao mengenakan jaket tebalnya dan berjalan keluar dari stasiun televisi Yanjing.
Ia mengembuskan napas yang membentuk uap, menatap langit yang sudah gelap, namun hatinya perlahan terasa hangat.
Akhirnya, waktunya pulang!