Bab 158: Bisikan Musim Gugur
Lokasi audisi babak kedua.
Pukul sembilan lewat tiga puluh menit pagi.
Peserta yang datang tidak terlalu banyak, hanya segelintir orang saja.
He Xiao duduk di kursi, melirik nomor urut di tangannya, lalu menarik napas dalam-dalam. Jelas ia tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat ini, gilirannya tampil adalah setelah peserta yang sekarang.
Meskipun datang tidak terlalu pagi, ia justru mendapati nomor urut paling awal.
Sebaliknya, Carol yang datang sepuluh menit lebih awal darinya justru mendapatkan nomor urut enam belas. Takdir sungguh suka mempermainkan orang.
"Keberuntunganmu ini... aku benar-benar tidak tahu harus menyebutnya bagus atau buruk."
Carol juga tertegun, tidak menyangka keberuntungan He Xiao begitu mujur hingga langsung mendapatkan nomor sepuluh.
He Xiao hanya bisa tersenyum pasrah mendengarnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah panggung.
Di atas panggung saat ini, kontestan yang tampil di urutan kesembilan sedang berjuang memainkan pianonya. Seluruh tubuhnya tampak berdiri lalu duduk kembali di kursi, kedua telapak tangannya terus bergerak saling bertukar posisi ke kiri dan kanan, ekspresi wajahnya ikut menegangkan, dan dari waktu ke waktu kepalanya bergeleng-geleng seperti mainan kerincingan, tampak sangat menghayati.
Lagu yang dimainkannya ini pernah didengar oleh He Xiao. Itu adalah sebuah karya terkenal yang sangat bernilai seni tinggi di dunia mereka, dengan tingkat kesulitan yang luar biasa.
Setidaknya orang biasa tidak akan berani memainkannya. Berdasarkan hal itu saja, peserta nomor sembilan ini patut diacungi jempol karena keberaniannya.
Peluang masuk seratus besar sudah di depan mata, ia pun merasa tidak yakin dan ingin berjuang sekuat tenaga.
Bagaimanapun, bisa bertahan melewati audisi babak pertama bukanlah hal yang mudah, dan menghentikan langkah di audisi babak kedua tentu sangat, sangat disayangkan.
He Xiao dapat memahami perasaan peserta yang begitu menggebu-gebu untuk lolos ke babak berikutnya, tetapi ia mengabaikan tingkat kesulitan lagu tersebut. Bagian paruh kedua adalah inti yang sebenarnya, di mana perubahan tempo melodi menjadi jauh lebih cepat dan merupakan area rawan kesalahan saat bermain. Sedikit saja ceroboh, seluruh penampilan akan hancur berantakan.
Benar saja, begitu memasuki bagian paruh kedua, ia langsung terlihat mulai kewalahan, salah menekan tiga nada secara beruntun. Ini adalah kesalahan yang sangat fatal dalam Kompetisi Piano Isabella.
Ketiga juri saling berpandangan dan menggelengkan kepala. Setelah penampilan kontestan tersebut berakhir, mereka mengumumkan hasil eleminasi.
Meskipun ia telah melakukan kesalahan sejak awal, menunggu hingga penampilan kontestan selesai adalah bentuk penghormatan paling mendasar kepada seorang penampil.
Peserta tersebut memasang ekspresi muram. Ia sadar kemampuannya memang tidak memadai, sehingga setelah membungkuk kepada ketiga juri, ia dengan pasrah meninggalkan panggung.
"Selanjutnya, disilakan peserta nomor sepuluh untuk naik ke panggung!"
Seorang staf di samping mengumumkan.
Carol menyenggol bahu He Xiao dan berbisik, "Giliranmu."
"Baiklah, lihat saja nanti." He Xiao mengangguk dengan ceria. Meskipun ia melihat dengan mata kepala sendiri kontestan sebelumnya tersingkir, ia tetap tidak merasa panik.
Bangkit dari kursinya, ia merapikan pakaiannya, lalu dengan percaya diri melangkah pasti menuju panggung.
Seketika itu juga, beberapa kamera menyorot ke arahnya, dan para juri pun berulang kali mengarahkan pandangan mereka padanya.
Mereka memiliki kesan yang begitu mendalam terhadap He Xiao. Tujuh hari lalu saat audisi, He Xiao adalah kontestan Tionghoa pertama yang tampil, dan lagu berjudul *Jalan Tempat Angin Tinggal* itu benar-benar memukau banyak orang.
Kontestan yang begitu luar biasa akan sangat sulit untuk dilupakan.
Bagaikan kunang-kunang di tengah malam yang pekat, di mana pun ia berada, ia akan selalu tampak begitu jelas dan menonjol.
Oleh karena itu, seluruh pandangan di ruangan tersebut tertarik kepada He Xiao.
Kali lalu ia membawakan *Jalan Tempat Angin Tinggal*, lalu lagu seperti apa yang akan ia bawakan kali ini?
Semua orang dipenuhi rasa penasaran di dalam hati, dan banyak wartawan yang mengarahkan kamera berlensa panjang mereka ke arahnya.
"Peserta He Xiao, Anda sudah bisa mulai."
Juri wanita yang memiliki ketertarikan kuat terhadap Tiongkok itu sekali lagi berbicara kepada He Xiao dalam bahasa Mandarin seperti sebelumnya.
Sebenarnya ia juga bisa berbicara dalam bahasa Inggris, karena kemampuan bahasa Inggris He Xiao saat ini sudah sangat tinggi dan ia fasih melakukan percakapan sehari-hari. Namun, karena pesertanya adalah orang Tionghoa, juri menggunakan bahasa Mandarin demi menunjukkan bentuk penghormatan.
He Xiao memiliki kesan yang cukup baik terhadap juri paruh baya tersebut. Ia mengangguk ke arahnya dan sedikit membungkuk untuk mengucapkan terima kasih.
Kemudian, dengan penuh pesona ia berbalik dan duduk di depan piano hitam tersebut.
Sepuluh jarinya dibilah-bilah tuts, menarik napas dalam-dalam, lalu menenangkan diri selama satu atau dua detik untuk menyesuaikan kondisi akhirnya.
Saat berikutnya, jari-jarinya menari, dan berbagai nada yang indah langsung terpancar keluar.
Ini adalah musik ringan yang sangat lembut dan kosong. Hanya dari bagian pembukaannya saja, itu sudah membuat banyak orang terpukau.
Seolah-olah dibawa melintasi waktu kembali ke musim gugur yang dipenuhi daun-daun emas berguguran, membuat seluruh diri menjadi begitu tenang.
"Lagi-lagi sebuah karya original?"
Ketiga juri saling berpandangan. Jelas tidak ada seorang pun dari mereka yang mengenali asal-usul lagu ini.
Sebagai para profesional yang telah berkecimpung di industri ini selama bertahun-tahun, mereka bertiga bagaikan perpustakaan musik piano berbentuk manusia dan ensiklopedia berjalan yang memahami berbagai musik piano dari berbagai penjuru negeri.
Meskipun mereka tidak berani menjamin seratus persen dapat mengingat seluruh lembaran musik di dunia, tetapi nada-nadanya sangat mereka kuasai di luar kepala.
Karya yang dibawakan He Xiao saat ini, baru pada bagian permulaannya saja sudah terasa begitu asing. Mereka telah mencari ke seluruh sudut ingatan namun tidak menemukan satu pun lagu yang cocok, sehingga mereka menyimpulkan bahwa ini kembali menjadi sebuah karya original.
"Xiao He benar-benar seorang jenius."
Carol menatap He Xiao yang tampil dengan tenang di atas panggung. Perasaannya yang tadinya gelisah perlahan-lahan menjadi tenang. Meskipun ia tahu He Xiao memiliki banyak karya piano original di tangannya, namun ketika mendengarnya secara langsung, rasa takjub yang ditimbulkannya tetap tidak ada bandingannya.
Karena He Xiao memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki orang lain, yaitu betapa pun banyaknya karya original yang ia keluarkan, ia selalu dapat mempertahankan kualitasnya dan tidak pernah mengalami penurunan mutu di tengah jalan.
Meskipun lagu ini belum diketahui judulnya, namun kualitasnya tidak kalah dari *Jalan Tempat Angin Tinggal* yang dibawakan pada penampilan sebelumnya.
Kesan keseluruhan yang diberikannya kepada orang-orang seolah-olah membawa mereka melintasi waktu ke bulan September atau Oktober, ke musim gugur yang damai dan indah.
Daun-daun emas berguguran menutupi jalan setapak yang berliku di taman, dan gerbang ingatan pun perlahan-lahan terdorong terbuka, datangmenerjang bagaikan gelombang pasang.
Ekspresi ketiga juri tampak serius saat mereka menikmati makna mendalam di dalam melodi tersebut. Kontestan lain yang menunggu giliran di bawah panggung juga menunjukkan reaksi yang sama; mereka semua terpesona oleh melodi yang syahdu itu, seakan-akan sedang menjalani penyucian jiwa.
Hati yang tadinya gelisah dan tegang karena kompetisi perlahan-lahan menjadi damai.
Musik terkadang memiliki daya tarik yang begitu tak terlukiskan, mampu memengaruhi emosi manusia, bahkan dapat membangkitkan kembali seseorang yang hatinya telah mati.
He Xiao menyipitkan kedua matanya, tubuhnya bergoyang perlahan mengikuti irama, tenggelam sepenuhnya dengan penuh penghayatan, sementara ujung jarinya melompat dan menari di atas piano bagaikan angin kencang.
Musik memasuki bagian puncak. Di tengah tempo melodi yang cepat, napas setiap orang perlahan-lahan menjadi berat, seolah-olah melihat perjuangan mereka sendiri dalam menghadapi kehidupan.
Embusan angin yang riuh bertiup, daun-daun berguguran menari dengan liar, menyapu warna keemasan di atas tanah, dan berbagai macam pikiran turut menyerbu, berputar mengelilingi diri mereka.
"Lagu ini..."
Seorang wartawan di bawah panggung yang memegang kamera DSLR terpaku, terpesona oleh melodi sang penampil hingga sejenak lupa menekan tombol rana.
"Di perebutan seratus besar, pasti akan ada satu tempat untuknya!"
Charlie, yang ditemuinya saat audisi tempo hari, entah sejak kapan sudah datang ke lokasi. Mendengar penampilan He Xiao dari bawah panggung, ia meraba dagunya dan menyimpulkan dengan yakin.
Hanya dengan lagu ini, mustahil bagi He Xiao untuk tidak lolos.
Termasuk ketiga juri, masing-masing dari mereka menulis dan mencoret-coret di atas kertas dengan pulpen mereka, sesekali mengarahkan pandangan ke arah He Xiao dengan tatapan yang dipenuhi kerumitan.
Pemuda Tionghoa ini benar-benar memberikan terlalu banyak kejutan tak terduga. Tahap audisi saja sudah seperti ini, lalu ketika benar-benar melangkah masuk ke dalam istana Gedung Opera Paris nanti, kejutan seperti apa lagi yang akan ia tunjukkan kepada dunia?
Di atas panggung.
Suara piano perlahan-lahan melemah.
Penampilan He Xiao telah usai.
Ia berbalik, memberikan gestur hormat ala seorang gentleman kepada para kontestan dan wartawan di area dalam yang tidak terlalu banyak jumlahnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah barisan juri, menunggu keputusan mereka.
"Lagu piano ini... apa judulnya?"
Juri wanita itu tidak terburu-buru mengumumkan hasil, melainkan menatap dengan mata yang berbinar-binar dan bertanya penuh desakan.
Melihat reaksi tersebut, He Xiao tahu bahwa peluangnya untuk lolos sangat besar. Sudut bibirnya pun sedikit terangkat, menjilat bibirnya lalu menjawab:
"Lagu ini berjudul — *Bisikan Musim Gugur*!"