Bab Seratus Tiga Puluh Tujuh: Memohon Petunjuk
Fajar baru saja menyingsing, tetapi Su Yan bahkan tak sempat pergi ke kelas. Ia langsung bergegas menuju Menara Penembus Langit.
Di dalam ruang latihan, Su Yan duduk bersila sambil merasakan kekuatan pikiran yang memenuhi Lembah Langitnya. Tak lama kemudian, ia segera memasuki keadaan meditasi. Tidak ada cara instan untuk mengembangkan kekuatan pikiran. Seseorang hanya dapat mengumpulkannya sedikit demi sedikit melalui meditasi. Perjalanan seribu li dimulai dari satu langkah; mustahil seseorang mencapai keberhasilan dalam sekali loncatan.
Menurut teori, setelah seseorang berhasil mengembangkan kekuatan pikiran, langkah berikutnya adalah menyerap energi asal langit dan bumi, lalu mengubahnya menjadi energi sejati yang hanya dimiliki para pengamal Tao. Namun, Su Yan pada dasarnya adalah seorang ahli bela diri, sehingga ia menjadi pengecualian. Ia tidak bisa sepenuhnya berpihak pada salah satu jalur; masalah keberadaan keduanya secara berdampingan harus dipertimbangkan.
Mungkin karena fondasi Su Yan cukup kokoh, proses mengubah energi asal menjadi energi sejati berlangsung dengan sangat lancar. Setelah memasuki tubuhnya, energi asal langit dan bumi mengalir di antara tiga jiwa dan tujuh rohnya, lalu berubah menjadi energi sejati berwarna biru pucat. Energi itu mengalir ke Istana Merah, kemudian perlahan menyatu dengan energi asal yang berada di dalamnya. Pada akhirnya, terbentuklah energi sejati yang benar-benar unik. Warnanya pun berubah dari keemasan pucat menjadi keemasan menyala, berkilauan cemerlang seperti matahari emas.
Perpaduan antara energi sejati dan energi asal membuat cadangan energi sejati dalam tubuh Su Yan menjadi sangat tebal, meskipun ia baru saja melangkah ke jalur pengamalan Tao.
Namun, kekuatan pikiran Su Yan masih belum kuat. Bahkan mengangkat benda dari kejauhan saja sudah cukup menguras tenaganya, apalagi menggunakan mantra atau artefak spiritual.
Meski begitu, Su Yan sudah merasa sangat puas. Jika masih mengharapkan lebih banyak, itu hanya akan menjadi keserakahan yang tak ada habisnya.
Selama beberapa hari berikutnya, Su Yan terus melatih kekuatan pikirannya. Sesekali ia juga pergi ke Perpustakaan Sutra untuk membaca berbagai kitab, sehingga pemahamannya mengenai pengamalan Tao perlahan semakin bertambah.
Jalur pengamalan Tao sungguh teramat sulit. Mustahil seseorang berhasil hanya dengan belajar sendiri. Karena itu, setelah beberapa waktu, Su Yan tidak dapat melanjutkan latihannya. Ia menemui terlalu banyak masalah, dan satu-satunya jalan yang tersisa adalah mencari Shen Qinglan. Bagaimanapun juga, Shen Qinglan adalah seorang pengamal Tao dengan tingkat pencapaian yang tidak rendah.
“Apa katamu?”
Meskipun ketenangan Shen Qinglan sangat baik, saat mendengar Su Yan mengatakan bahwa ia telah mengembangkan kekuatan pikiran, ia tetap tertegun. Ia bahkan nyaris menyemburkan teh yang sedang diminumnya.
“Aku telah mengembangkan energi asal beberapa hari yang lalu,” kata Su Yan dengan sangat serius.
“Kau yakin?”
Shen Qinglan masih agak sulit mempercayainya. Bagaimanapun, orang yang memiliki akar spiritual sangatlah langka.
Su Yan tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada cangkir teh di atas meja. Seiring kekuatan pikirannya mengalir, cangkir itu tiba-tiba melayang tanpa penopang di udara.
Barulah Shen Qinglan benar-benar yakin bahwa muridnya itu tidak sedang bercanda. Sudut bibirnya berkedut. Ia mengamati Su Yan dari atas ke bawah seolah-olah baru pertama kali mengenalnya. Setelah terdiam cukup lama, ia akhirnya bertanya, “Bagaimana kau mengembangkan kekuatan pikiran?”
“Setelah mendengar penjelasanmu mengenai pengamalan Tao hari itu, aku menjadi tertarik. Aku pergi ke Perpustakaan Sutra dan membaca beberapa kitab, lalu mengikuti metode yang tertulis di sana untuk merasakan energi asal langit dan bumi. Pada awalnya, semuanya tidak berjalan lancar. Aku bahkan mengira diriku tidak memiliki bakat itu. Namun, beberapa hari lalu aku tiba-tiba terbangun dari tidur dan mendapati bahwa aku dapat merasakan energi asal langit dan bumi. Setelah itu, aku memiliki energi asal.”
Nada bicara Su Yan terdengar seolah-olah sedang menceritakan perkara kecil, membuat Shen Qinglan berulang kali memutar matanya.
“Benar-benar selama ini aku salah menilaimu. Tak kusangka kau juga memiliki akar spiritual untuk mengamalkan Tao. Ck, ck…”
Su Yan tertawa kering dua kali. Kemudian ia menyampaikan tujuan kedatangannya dan menceritakan masalah-masalah yang ditemuinya selama berlatih.
Setelah mendengarnya, Shen Qinglan menjawab satu per satu. Bagaimanapun, ia adalah seorang pengamal Tao tingkat tinggi. Dengan sedikit petunjuk darinya, berbagai masalah itu pun segera terpecahkan. Su Yan berkali-kali mengangguk.
“Sekarang kau sudah bisa dianggap sebagai pengamal Tao pada tahap awal pembangunan fondasi. Namun, kekuatan pikiranmu masih lemah dan belum cukup untuk mengendalikan energi sejati dalam tubuhmu sesuka hati. Begini saja, untuk sementara aku akan mengajarkanmu sebuah metode penggunaan kekuatan pikiran. Anggap saja ini sebagai teknik rahasia yang dapat digunakan dalam pertempuran.”
Shen Qinglan mengangkat tangannya ke hadapan dahi Su Yan. Tiba-tiba, seutas kehendak mental memasuki lautan pikirannya. Deretan huruf berkilauan di benak Su Yan.
“Jarum Bayangan Pikiran…”
Su Yan bergumam pelan. Setelah cukup lama, ia akhirnya tersadar dan langsung merasa sangat gembira. Teknik rahasia ini dapat memadatkan kekuatan pikirannya menjadi bentuk jarum, lalu menusukkannya ke dalam lautan kesadaran lawan. Jika lawan tidak sempat berjaga-jaga, ia pasti akan merasakan nyeri singkat di dalam kesadarannya, sehingga Su Yan memperoleh kesempatan untuk menyerang. Teknik itu sungguh sangat berguna.
“Terima kasih, Guru!”
Su Yan sangat gembira dan segera mengucapkan terima kasih kepada Shen Qinglan.
“Itu hanya trik kecil, tidak layak disebut apa-apa. Lagi pula, tingkat pencapaianmu masih rendah, jadi kau belum dapat menggunakan mantra semacam itu. Jika waktunya sudah tepat, aku akan mengajarkannya kepadamu.” Shen Qinglan melambaikan tangan sambil tersenyum.
“Hehe… Guru, Anda benar-benar guru terbaik di dunia!”
“Haha, dasar bocah… Namun, ini juga keberuntunganku karena bisa menerima murid sepertimu. Kau tidak hanya memahami strategi perang dengan baik, bakat bela dirimu juga tinggi. Sekarang ternyata kau bahkan memiliki akar spiritual untuk mengamalkan Tao. Tentu saja aku harus mengerahkan seluruh tenaga untuk membina dirimu.”
Shen Qinglan tertawa lantang. Bagaimanapun, orang-orang seperti mereka telah melewati usia untuk menguasai dunia. Hanya dengan mendidik seorang murid yang hebat, mereka dapat merasakan pencapaian sejati, sekaligus memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan dan dibesar-besarkan di hadapan para sahabat.
…
…
Setelah meninggalkan Paviliun Mesin Perang, Su Yan terus berlatih di Alam Langit Misterius, mengasah kekuatan pikirannya. Setelah berlatih selama berhari-hari, kekuatan pikirannya semakin kuat dan lincah. Ia kini mampu mengendalikannya dengan mudah, tidak lagi sekaku sebelumnya.
Menjelang petang, Su Yan dan Li Yueze baru keluar bersama dari dalam Menara Penembus Langit.
“Beberapa hari lalu, aku menemukan sebuah rumah makan di Jian’an. Tempat itu memiliki resep arak warisan keluarga. Araknya harum, lembut, dan memabukkan. Kau tidak akan tahu betapa nikmat rasanya,” kata Li Yueze sambil meregangkan tubuh, lalu tiba-tiba menoleh kepada Su Yan.
“Apa yang ingin kau katakan?”
“Bagaimana kalau kita pergi minum sedikit?” Li Yueze menyenggol bahu Su Yan sambil tersenyum.
“Baiklah. Aku juga sudah bosan dengan makanan di akademi. Kebetulan kita bisa mencicipi sesuatu yang berbeda.”
“Haha, ayo.”
Li Yueze tertawa lantang, lalu menarik Su Yan dan berjalan ke luar, seolah-olah tidak sanggup menunggu sedetik pun.
Mereka berdua meninggalkan akademi, menaiki sepasang kuda cepat, lalu melaju menuju Kota Jian’an, meninggalkan kepulan debu di belakang mereka.
Matahari perlahan condong ke barat, mewarnai kaki langit dengan cahaya merah yang cemerlang. Namun, di jalan yang membentang menuju matahari terbenam, terselip hawa membunuh yang samar.
“Hm?”
Di tengah pacuannya, Li Yueze tiba-tiba menarik kendali. Kuda itu meringkik panjang dan berhenti di tempat.
“Ada apa?” Su Yan tidak mengerti. Ia pun menghentikan langkah dan menoleh untuk bertanya.
“Ada yang tidak beres.”
Alis Li Yueze sedikit berkerut. Tatapannya tertuju ke kejauhan.
Perlahan, Su Yan juga merasakan ada sesuatu yang aneh. Daerah sekitar terlalu sunyi—kesunyian yang ganjil dan membuat hati berdebar.
“Cepat mundur!”
Li Yueze tiba-tiba berteriak. Tubuhnya melesat seperti burung, dalam sekejap mundur sejauh tiga zhang.
Gerakan Su Yan juga tidak lambat. Ia mengerahkan tenaga pada kedua kakinya dan tubuhnya segera melesat mundur.
“Dengung, dengung, dengung…”
Pada saat keduanya mundur, tiba-tiba terdengar suara dengungan dari udara, seolah-olah senjata tajam sedang merobek angin.