Bab Seratus Enam Belas: Bersiap Meninggalkan Kota (Pembaruan Pertama)
Sejak hari berikutnya, kehidupan Lu Tong mulai berjalan teratur.
Pada jam tujuh hingga sembilan pagi, ia pergi ke padepokan di Gunung Bambu Awan untuk menyampaikan ajaran, terutama Seni Jalan Langkah Gelombang dan Seni Jalan Zirah Misterius.
Pada jam sembilan hingga sebelas, Lu Tong akan menggunakan susunan teleportasi untuk kembali ke padepokan di Kota Sembilan Misteri. Di sana, ia mengajarkan Seni Jalan Gelombang Berlapis kepada Shi Miao, Shangguan Xiu’er, serta semakin banyak murid lainnya.
Setelah lewat tengah hari, ia seorang diri pergi ke lantai pertama aula utama Istana Guru Jalan untuk mempelajari seni Jalan baru, yakni Teknik Pelolosan Air Mengalir.
Seni Jalan tingkat tinggi ini memang berfokus pada gerakan tubuh, tetapi memiliki keunikan tersendiri: penggunanya dapat bersembunyi dan meloloskan diri di dalam air. Karena itulah seni tersebut dinamai Teknik Pelolosan.
Adapun warisan seni Jalan yang lebih unik dan inti di lantai dua serta tiga aula utama hanya dapat disentuh oleh Guru Pewarta Bintang Dua dan Bintang Tiga. Untuk sementara, Lu Tong belum memiliki kesempatan mempelajarinya.
Selama memahami Jalan di Istana Guru Jalan, Lu Tong juga akan menyempatkan diri untuk berlatih metode rahasia pemurnian jiwa, memperkuat roh dan jiwanya.
Baru ketika matahari terbenam ia meninggalkan aula utama dan kembali ke padepokan Kota Sembilan Misteri untuk menyerap serta mengumpulkan kekuatan darah dan energinya.
Ketika malam telah larut, Lu Tong menggunakan susunan teleportasi untuk kembali ke Gunung Bambu Awan dan beristirahat di sana.
Hari-hari yang terus berulang seperti itu sama sekali tidak terasa membosankan baginya. Sebaliknya, ia merasa sangat nyaman, sebab setiap hari ia dapat merasakan kemajuan dirinya sendiri.
Pada saat yang sama, para murid Lu Tong juga tidak tinggal diam.
Berkat statusnya sebagai Guru Pewarta Bintang Satu, kedudukan Lu Tong di Kota Sembilan Misteri meningkat pesat. Setidaknya, ia telah mulai dikenal di kawasan-kawasan sekitarnya.
Karena itu, Li Wei dan Su Qingcheng jauh lebih mudah berurusan di luar. Baik saat menyelidiki latar belakang para murid maupun ketika membuka jalur perdagangan antara kedua tempat, semuanya berjalan cukup lancar.
Dalam hal ini, jasa Shangguan Xiu’er dan Pendeta Tua Qi juga patut dicatat.
Setelah menjalin hubungan akrab dengan beberapa keluarga penguasa setempat, padepokan Pewarta Jalan Kota Sembilan Misteri bukan hanya tidak ditekan atau diganggu, melainkan justru memperoleh banyak dukungan.
Belum lagi para gadis rumah bordil yang datang setiap hari untuk mendengarkan ceramah. Mereka telah mendatangkan banyak pengunjung dan ketenaran bagi padepokan.
Namun, para gadis itu biasanya tidak benar-benar berminat mendengarkan ajaran. Sebagian besar waktu mereka habiskan untuk menatap lurus-lurus guru berjubah putih di atas panggung.
Dengan getir, Shangguan Xiu’er menyadari bahwa dirinya, si pemboros harta di rumah bordil, perlahan-lahan bahkan tidak lagi seterkenal gurunya di tempat-tempat semacam itu.
Bahkan para penyanyi rumah bordil yang hanya menjual keahlian tanpa menjual tubuh pun diam-diam membicarakan Guru Jalan Lu yang mulai menonjol di Kota Sembilan Misteri. Jelas sekali mereka hanya bernafsu pada tubuh sang guru.
Selama masa itu, Lu Tong juga mulai meminta Li Wei menyelidiki jejak Chao Dongyang. Murid sulungnya itu telah pergi selama dua bulan tanpa kabar sedikit pun, sehingga mau tak mau Lu Tong merasa khawatir.
Ia telah mengirim pesan kepada Chao Dongyang, bukan untuk memerintahkannya segera kembali, melainkan untuk memberitahunya bahwa ia boleh memilih waktu sendiri untuk menghadapi bencana penerobosan alam. Dengan begitu, ia juga dapat memiliki lebih banyak cara untuk menyelamatkan nyawanya.
Sayangnya, Chao Dongyang tidak membalas pesan tersebut. Namun, Lu Tong percaya bahwa muridnya itu seharusnya tidak mengalami masalah besar.
Dalam hal kemampuan bertahan hidup, Lu Tong terkadang bahkan merasa rendah diri dibandingkan murid sulungnya itu.
Hari-hari yang tenang sekaligus penuh kesibukan tersebut berlangsung selama lebih dari sebulan. Baru ketika akhir Juni tiba, keadaan di padepokan Kota Sembilan Misteri benar-benar stabil.
Kini, setelah pemeriksaan awal Li Wei selesai, Lu Tong telah berhasil menerima sejumlah murid terdaftar.
Ada tiga ratus tiga puluh satu murid yang tinggal di padepokan. Sebagian besar berada di Alam Tulang Besi, sementara hanya belasan orang yang masih berusia lebih muda dan berada di Alam Kulit Tembaga.
Di antara mereka, hampir separuhnya adalah praktisi asli Kota Sembilan Misteri, kebanyakan anak-anak dari keluarga di sekitar wilayah itu.
Sisanya kebanyakan adalah praktisi dari tempat lain yang datang untuk mencari guru ternama. Lu Tong memperlakukan mereka dengan adil, sesuai dengan persyaratan yang telah ia tetapkan dalam memilih murid.
Selain para murid tersebut, ia juga diam-diam menerima lebih dari seratus murid tambahan sebagai agen rahasia Aula Kata Sandi. Dalam keseharian, mereka tersebar di berbagai tempat di Kota Sembilan Misteri.
Para murid itu memiliki satu kesamaan: semuanya adalah praktisi pengembara dari luar Kota Sembilan Misteri, dan sebelumnya tidak pernah menonjol di kota tersebut. Mereka hanyalah orang-orang biasa yang tidak menarik perhatian siapa pun.
Bakat mereka pun beragam. Ada yang berada di Alam Kulit Tembaga, ada pula yang berada di Alam Tulang Besi. Usia mereka juga bermacam-macam, mulai dari yang baru dewasa hingga pria paruh baya berusia sekitar empat puluh tahun.
Lu Tong sangat menghargai kelompok murid ini. Ia langsung memberi mereka status murid luar, bahkan secara khusus meluangkan waktu untuk menyampaikan ajaran dan mengajarkan seni Jalan kepada mereka di tempat-tempat tersembunyi di luar padepokan.
…
“Sudah waktunya keluar kota.”
Pada tanggal satu bulan tujuh, Lu Tong telah menyelesaikan persiapannya dan segera berangkat meninggalkan kota.
Alasan ia menunggu sampai sekarang bukanlah karena merasa puas dengan keadaan saat ini, melainkan karena ingin menanti hingga kedua padepokan benar-benar stabil. Selain itu, ia juga membutuhkan waktu untuk mengokohkan kultivasinya setelah baru saja memasuki Alam Cahaya Emas.
Kini semua persiapan telah lengkap. Tentu saja ia tidak akan terus menunggu.
Tujuan utama perjalanan keluar kota kali ini adalah memburu monster dan memperluas kebun monster di padepokan Pewarta Jalan Gunung Bambu Awan.
Tujuan keduanya adalah mencari kesempatan untuk menyelesaikan beberapa tugas dari Istana Guru Jalan. Jika ia dapat memperoleh sejumlah kontribusi bagi padepokan, tentu itu merupakan hal yang baik.
Langkah ini mutlak diperlukan jika ia ingin menjadi Guru Pewarta Bintang Dua.
Memburu praktisi sesat, menjelajahi alam rahasia, dan mencari urat spiritual—semuanya dapat memberikan poin kontribusi di Istana Guru Jalan.
Sederhananya, kontribusi yang dimaksud adalah jasa yang diberikan bagi umat manusia di jalan kebenaran. Hanya dengan demikian seseorang berhak menjadi Guru Pewarta Bintang Dua atau bahkan Bintang Tiga yang dihormati oleh banyak orang.
Menjelang malam, di ruang utama halaman belakang padepokan Kota Sembilan Misteri, Lu Tong mengumpulkan Shi Miao, Shangguan Xiu’er, Li Wei, dan Tang Feng.
“Guru, sampai sekarang masih belum ada kabar dari Kakak Seperguruan Sulung. Namun, berdasarkan berbagai misi dari Balai Perburuan Monster, tempat yang paling mungkin didatangi Kakak Seperguruan Sulung adalah reruntuhan atau alam rahasia di wilayah monster sekitar sini.”
Li Wei melanjutkan dengan sedikit cemas, “Hanya di tempat-tempat semacam itulah mungkin terdapat ramuan berharga yang dapat meningkatkan bakat bawaan. Selain itu, sebagian besar tempat tersebut dilindungi susunan penghalang, sehingga Kakak Seperguruan Sulung tidak dapat mengirim pesan kembali.”
Lu Tong mengangguk ringan. Dengan wajah seolah-olah tidak terlalu peduli, ia bertanya, “Bisakah wilayahnya dipersempit?”
Li Wei maju dan menyerahkan sebuah peta yang telah dilipat, lalu berkata dengan hormat, “Di sekitar Kota Sembilan Misteri terdapat lebih dari seratus reruntuhan dan alam rahasia. Ada dua belas tempat yang mungkin memiliki ramuan berharga, dan semuanya telah saya tandai.”
“Selain itu, saya juga telah memberi tanda khusus pada delapan wilayah terlarang paling berbahaya di kawasan monster di luar Kota Sembilan Misteri.”
“Bagus.” Lu Tong mengangguk puas. Kemudian ia menoleh kepada Tang Feng dan Shangguan Xiu’er. “Kalian berdua akan ikut denganku keluar kota kali ini.”
“Baik, murid akan mematuhi perintah Guru.”
Tang Feng segera memberi hormat dengan suara tegas dan penuh semangat.
Sementara itu, Shangguan Xiu’er diam-diam mengeluh dalam hati. Ia sungguh tidak ingin pergi untuk urusan yang begitu berbahaya.
Wilayah monster sangat berbahaya. Bahkan praktisi Alam Cahaya Emas yang pergi ke sana akan menghadapi krisis demi krisis, apalagi dirinya yang baru berada di tingkat kedua Alam Tulang Besi.
“Shi Miao, kau tetap di sini dan mewakiliku menyampaikan ajaran di kedua tempat. Jangan sampai terjadi kelalaian.”
Lu Tong kembali menatap Shi Miao dan memberinya perintah.
Kali ini, Shi Miao tidak ragu-ragu dan langsung menyetujuinya.
Ia sendiri tidak berani pergi ke wilayah monster. Tempat itu bukanlah lokasi untuk sekadar ikut meramaikan suasana. Pergi ke sana berarti mempertaruhkan nyawa di ujung mata pedang.
“Li Wei, bantu Shi Miao. Perhatikan setiap perubahan di berbagai tempat. Jika terjadi sesuatu, segera kirim pesan kepadaku.”
Tatapan Lu Tong kembali beralih kepada Li Wei.
“Baik, Guru. Murid mengerti.”
Li Wei menjawab dengan hormat.
Sebenarnya ia ingin mengikuti gurunya keluar kota, tetapi ia juga tahu bahwa kekuatannya saat ini masih belum memadai. Jika ikut pergi, ia hanya akan menjadi beban.
“Baik, bubar. Pulang dan bersiaplah. Kita berangkat besok pagi.”
Lu Tong tidak berkata apa-apa lagi. Ia melambaikan tangan, menyuruh mereka pergi.