Bab Seratus Dua Puluh Delapan: Gula
"Tentu saja Yang Mulia tidak akan mengecewakan hamba, bukan?" Shen Ling menempelkan dua jarinya pada pergelangan tangan Gu Mu, lalu menelusurinya perlahan ke atas hingga berhenti tepat di tulang selangka.
Itu adalah celah kerah pakaian kuno. Shen Ling memutar jari telunjuknya beberapa kali di tulang selangka Gu Mu, lalu dengan lembut menyibak pakaian pria itu, jemarinya terus bergerak menyusuri kerah baju ke bawah. Gu Mu merasakan sensasi dingin dari jari-jemari Shen Ling, kulitnya yang halus meluncur di tubuhnya, lalu berhenti tepat di dadanya.
"???" Gu Mu menatap Shen Ling dengan pandangan menyelidik. Bukankah seharusnya orang zaman dahulu menjunjung tinggi sikap menjaga diri? Shen Ling mendorongnya, namun tidak pergi, malah menggodanya di sini. Apa maksudnya?
Gu Mu jauh lebih tinggi dari Shen Ling. Saat ia menunduk, ia mendapati Shen Ling juga sedang mendongak. Wajah yang jelita itu menyiratkan senyum tipis, dan di balik raut wajah yang sedikit kaku itu, terselip sifat kekanak-kanakan yang keras kepala.
"Tentu saja, aku tidak akan mengecewakanmu." Gu Mu mendekap tengkuk Shen Ling dengan telapak tangannya lalu menciumnya kembali. Ia membuka bibir Shen Ling, menyelinap di antara gigi-giginya, dan mendengar desahan "en" yang rendah dari tenggorokan sang gadis.
Gadis itu seolah kehilangan tulang-belulangnya, terkulai lemas di pelukan Gu Mu. Gu Mu mengangkat tubuh Shen Ling dan mendudukkannya di atas meja. Ia menatap wajah gadis itu yang memerah. Cahaya lilin berpendar di dalam ruangan, dan dari posisi itu, Gu Mu bisa melihat bayangan mereka yang saling bertaut di dinding.
Shen Ling menunduk sejenak sebelum mengumpulkan keberanian untuk menatapnya kembali. Rasa malu seorang gadis dan naluri untuk tidak mau tunduk bercampur aduk di dalam dirinya, menciptakan gejolak yang kontradiktif. Ia menatap luka kecil di bibir Gu Mu yang sempat ia gigit tadi, dan seketika jantungnya berdegup kencang. Tanpa sadar, ia menyentuh luka itu dengan jarinya.
Bagaimana ini... ia masih ingin melukai Gu Mu. Melihat Gu Mu berdarah tanpa membahayakan nyawanya sungguh membuatnya merasa sangat bergairah.
Memikirkan hal itu, mata Shen Ling mulai berbinar. Rasa malu yang tadi menyelimutinya perlahan memudar karena kegembiraan. Ia secara aktif mendongakkan lehernya, memperlihatkan jenjang leher angsa yang menawan. Sambil bertumpu pada meja, ia mencium pipi Gu Mu seolah menyentuh permukaan air, lalu bibirnya menyapu wajah pria itu perlahan menuju pangkal telinga, turun menyusuri leher, dan berhenti di bahu.
Gu Mu tidak menyangka Shen Ling akan seaktif ini. Ia merangkul pinggang gadis itu dengan satu tangan sementara tangan lainnya membelai rambutnya. Mereka adalah sepasang suami istri... sudah lama menikah... wajar jika Shen Ling bersikap seperti ini.
Saat Gu Mu sedang berpikir demikian, tiba-tiba ia merasakan nyeri di lehernya. Rasa sakit itu kian meningkat, seolah-olah... ia baru saja digigit. Dan orang itu, setelah menggigit, merasa gigitannya kurang dalam lalu menambah tekanannya.
Sesaat kemudian, Shen Ling mendongak. Sudut bibirnya kini ternoda sedikit darah. Ia menatap luka di leher Gu Mu dengan lembut, menyentuhnya dengan ujung jari, lalu bertanya dengan suara pelan, "Yang Mulia... hamba... hamba hanya ingin meninggalkan tanda di tubuh Anda. Anda tidak akan menyalahkan hamba, bukan?"
"Yang Mulia... hamba... paling menyukai Anda..." Shen Ling tahu ia telah berbuat salah. Ia melingkarkan lengannya di leher Gu Mu, menatapnya dengan tatapan memelas. Darah di sudut bibirnya masih tersisa, lalu ia menjilatnya kembali. Sambil menatap wajah Gu Mu, ia membayangkan bagaimana cara melukainya lagi di lain waktu untuk memuaskan hasrat anehnya. Shen Ling membenamkan wajahnya di leher Gu Mu dan menggosokkannya dengan manja.
Ia menjilat luka Gu Mu sekali lagi dengan lidahnya, lalu mendongak dengan senyuman manis. "Darahnya sudah berhenti, Yang Mulia..."
Gu Mu terbiasa dengan medan perang. Bekas gigitan kecil Shen Ling sama sekali bukan apa-apa, paling hanya luka goresan kulit. Ia pernah mengalami luka yang hampir merenggut nyawanya hingga tulang terlihat, dan ia selalu selamat berkat pil kebangkitan. Bekas gigitan sekecil ini hanyalah bumbu kemesraan baginya. Mengingat betapa jarangnya Shen Ling bersikap aktif seperti ini, bagaimana mungkin Gu Mu merasa keberatan?
Namun, jika ia mengaku tidak keberatan, Shen Ling pasti tidak akan mengucapkan kata-kata manis untuk membujuknya lagi. Karena itulah, Gu Mu sengaja memasang ekspresi seolah-olah ia sulit dibujuk. "Masih terasa cukup sakit," bisiknya pelan.
Tak disangka, Shen Ling segera menunduk dan meniup luka Gu Mu. "Yang Mulia, sekarang sudah tidak sakit lagi, kan?"
Shen Ling mendongak, menatap Gu Mu dengan tatapan polos seolah orang yang baru saja menggigitnya bukan dirinya. Gadis kecil ini memang sangat pandai berpura-pura lugu. Meski Gu Mu tidak terlalu paham soal ini, bukankah seharusnya tidak ada gadis yang menyakiti pasangannya dalam situasi seperti ini? Apalagi Shen Ling adalah gadis yang belum berpengalaman.
Meski telinga dan pipi Shen Ling yang memerah menunjukkan rasa malunya, tatapan matanya yang penuh gairah membuat Gu Mu merasa dirinya hanyalah seekor mangsa di mata gadis itu... seekor mangsa yang layak untuk dikejar dengan segenap tenaga.
"Yang Mulia... mulai sekarang... Anda adalah milikku..." Shen Ling berkata dengan bibir yang masih berlumuran darah sambil tersenyum. "Hamba tidak mengizinkan orang lain menyentuh Anda lagi... Jika tidak... hamba akan menyeret kalian semua ke neraka bersama-sama..."
Shen Ling memiringkan kepalanya, menyibak rambut di sisi wajahnya, lalu berujar dengan nada yang lugu namun gila, "Hamba paling menyukai Anda, Yang Mulia..."
"..." Gu Mu merasa perkembangan situasi ini sungguh tak terduga. Bukankah seharusnya ia yang merayu Shen Ling, lalu gadis itu bersikap malu-malu mau, dan mereka berdua secara alami menyempurnakan hubungan mereka? Namun... kenapa rasanya justru ia yang menjadi pihak pasif? Lagipula, ia baru saja merenggut ciuman pertama Shen Ling, apakah pantas Shen Ling langsung mengklaim kepemilikan seperti ini?
Gu Mu menatap Shen Ling. Ekspresinya memang menyiratkan rasa malu seorang gadis, hanya saja matanya sedalam jurang. Gu Mu tidak merasa bahwa dengan perilaku seperti ini Shen Ling telah menjadi seorang pemburu. Ini seperti gadis lemah yang memukul dada dengan sekuat tenaga; mereka mengira pukulan itu sangat kuat, padahal itu hanyalah pukulan manja.
Bagi Gu Mu, seseorang seperti Shen Ling yang menemukan kesenangan dalam melukai pasangannya mungkin akan membuat orang biasa merasa takut, namun baginya... itu benar-benar bukan masalah. Gu Mu sama sekali tidak takut dengan sifat obsesif seperti itu. Lagipula, pil kebangkitan dan pil penawar racun sudah cukup untuk melindunginya.
Ada pepatah yang mengatakan, penilaian terhadap moralitas sering kali mengikuti ketampanan wajah. Terlebih lagi, Shen Ling tidak benar-benar memiliki moral yang menyimpang, ia hanya suka melukai Yang Mulia. Selain itu, Shen Ling begitu baik hati; ia tidak pernah menyakiti orang lain secara sengaja. Seseorang yang di dalam hati dan matanya hanya ada Yang Mulia, serta tidak akan menyeret seluruh dunia untuk ikut mati bersamanya... bukanlah jenis obsesif yang menakutkan.
Bagaimana mungkin Gu Mu tega meninggalkan Shen Ling hanya karena sedikit selera buruknya? Lagipula, ia pun memiliki seleranya sendiri. Memikirkan hal itu, Gu Mu mendengus pelan dengan tawa kecil.